Ada amalan yang ringan di lisan, tetapi besar nilainya. Selawat kepada Rasulullah saw salah satunya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Diponegoro, Wage, Sidoarjo Rabu (16/9/2026). Sekitar 130 jamaah mengikuti kajian yang menghadirkan Dr. KH. Sam’un, M.Ag.
Kajian berlangsung selepas salat Subuh hingga sekitar pukul 05.45 WIB. Materinya merujuk Kitab Fikih Sunnah Jilid 4 halaman 345 dan seterusnya, khusus membahas hadis nomor 422, 423, dan 424.
Bukan sekadar membicarakan keutamaan sebuah bacaan. Kajian itu mengajak jamaah melihat selawat sebagai bagian dari cara seorang Muslim menjaga kecintaan kepada Rasulullah saw.
Satu Selawat, Sepuluh Kebaikan
Salah satu hadis yang dibahas adalah hadis nomor 422 tentang keutamaan hari Jumat.
Rasulullah saw menjelaskan, Jumat merupakan hari yang paling utama. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak selawat kepada beliau pada hari tersebut.
Selawat yang diucapkan umat akan disampaikan kepada Rasulullah saw. Pesannya sederhana, tetapi dalam.
Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan, manusia bisa begitu mudah melupakan banyak hal. Termasuk sosok yang telah mengajarkan jalan keselamatan kepadanya. Selawat menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan itu.
Bukan hanya mengucapkan nama Rasulullah saw, tetapi juga menghidupkan kecintaan kepada beliau.
Pembahasan kemudian berlanjut pada hadis tentang salam dan selawat. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ketika seorang Muslim mengucapkan salam kepada Rasulullah saw, Allah mengembalikan ruh beliau sehingga beliau dapat menjawab salam tersebut.
Hadis berikutnya membawa kabar yang menggembirakan. Barang siapa berselawat kepada Rasulullah saw satu kali, Allah memberikan sepuluh kebaikan, menghapus sepuluh keburukan, dan meninggikan derajatnya sepuluh tingkat.
Satu kali selawat. Sepuluh kebaikan. Sepuluh keburukan dihapus. Sepuluh derajat diangkat.
Di situlah jamaah diajak melihat luasnya rahmat Allah. Amalan yang tampak sederhana ternyata memiliki nilai yang begitu besar.
Jangan Berhenti di Lisan
Namun selawat tidak semestinya berhenti sebagai ucapan. Cinta kepada Rasulullah saw perlu menemukan bentuknya dalam kehidupan.
Jika mencintai Rasulullah, maka sunnahnya perlu dipelajari. Akhlaknya perlu diteladani. Pesannya perlu dijadikan pedoman.
Dengan begitu, selawat bukan hanya menjadi bacaan yang keluar dari lisan, tetapi juga menjadi pengingat untuk memperbaiki perilaku.
Itulah yang membuat Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom terasa lebih dari sekadar agenda rutin.
Sekitar 130 jamaah datang selepas Subuh. Mereka duduk bersama. Membuka kitab. Mendengarkan penjelasan. Lalu membawa pulang sebuah pengingat tentang kecintaan kepada Rasulullah saw.
Masing-masing mungkin datang dengan persoalan yang berbeda. Ada yang membawa kesibukan pekerjaan. Ada yang membawa persoalan keluarga. Ada pula yang ingin mengawali hari dengan ilmu. Tetapi pagi itu mereka dipertemukan dalam satu majelis.
Majelis yang mengingatkan bahwa menjaga hati tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan duduk dalam majelis ilmu. Mendengarkan hadis. Kemudian memperbanyak selawat.
Dan perlahan berusaha mengikuti akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari.
Rabu pagi itu pun tidak berhenti ketika kajian selesai. Jamaah pulang membawa pekerjaan masing-masing.
Tetapi mudah-mudahan ada sesuatu yang ikut dibawa pulang: hati yang lebih dekat kepada Allah, cinta yang lebih kuat kepada Rasulullah saw, dan keinginan untuk menjadikan sunah bukan hanya pengetahuan, melainkan jalan hidup.
Sebab selawat yang baik bukan hanya terdengar di lisan. Ia semestinya ikut terlihat dalam kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments