“Gagal, bangkit lagi. Gagal, bangkit lagi. Terus begitu sampai gagalnya bosan.”
Saya masih ingat kalimat Chairul Tanjung itu. Sekilas terdengar biasa. Namun, semakin direnungkan, semakin terasa dalam. Kegagalan boleh menjadi bagian dari hidup kita. Tetapi jangan biarkan ia menentukan siapa diri kita.
Kita semua pernah gagal. Hanya ceritanya yang berbeda.
Karena itu, ketika melihat seseorang yang pernah jatuh kemudian berdiri dan berjalan lagi, mengapa hati kita ikut senang?
Mungkin karena kebangkitan orang lain diam-diam memberi tahu kita: kita pun masih punya kesempatan.
***
Beberapa kali, saya sempat ikut rombongan Chairul Tanjung. Pengusaha sukses. Namanya dikenal luas sebagai pendiri dan pemimpin CT Corp.
Pada 2014, dia juga pernah dipercaya menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menggantikan Hatta Rajasa.
Tetapi yang menarik perhatian saya bukan semata-mata kesuksesannya. CT, begitu ia biasa dipanggil, adalah sosok yang humble.
Dia murah senyum. Kepada orang yang dikenalnya. Juga kepada orang yang menyapanya. Dia juga senang berbagi ilmu. Tidak pelit pengalaman.
Suatu ketika, saya bertemu dengannya dalam acara bedah buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong di Unair. Saat itu, ada banyak tokoh yang datang. Salah satunya. Prof Dr KH Ahmad Syafii Maarif. Waktu itu, Buya Syafii tidak lagi menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Saya membawa bukunya. Saya meminta tanda tangan. Dan, CT membubuhkannya. Sebuah peristiwa kecil. Tetapi saya mengingatnya.
Dalam beberapa kesempatan lain, saya juga mendengar CT berbicara tentang kegagalan. Intinya selalu sama. Gagal. Bangkit lagi. Gagal lagi. Bangkit lagi. Terus begitu sampai gagalnya bosan.
Saya menginsyafi kalimat itu. Semakin direnungkan, semakin terasa bahwa nasihat tersebut bukan hanya untuk pengusaha.
Bukan hanya untuk anak muda yang sedang membangun bisnis. Bukan pula hanya untuk orang yang sedang mengejar kesuksesan. Nasihat itu untuk kita semua.
Saya pernah gagal. Anda mungkin juga. Banyak orang pernah gagal. Hanya bentuknya berbeda. Ada yang gagal dalam pekerjaan.
Ada yang gagal dalam usaha. Ada yang gagal dalam pendidikan. Ada yang gagal mendapatkan jabatan. Ada yang gagal dalam hubungan. Bahkan ada kegagalan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Kita pulang ke rumah. Wajah tetap biasa. Tetapi hati sedang berantakan. Orang lain mungkin hanya melihat hasilnya. Kita yang mengalami tahu bagaimana beratnya.
Karena itu, cara setiap orang menghadapi kegagalan juga berbeda. Sebagian menangis. Sebagian marah. Sebagian menyalahkan keadaan. Sebagian menyalahkan diri sendiri. Sebagian memilih berhenti.
Tetapi sebagian lainnya menarik napas panjang. Mengakui kekalahan. Lalu mencoba lagi. Di situlah mentalitas bekerja.
Kegagalan tidak hanya menguji kemampuan. Ia menguji cara kita memandang diri sendiri.
Apakah sekali gagal lalu kita menyebut diri sebagai orang gagal?
Ataukah kita mengatakan: “Saya gagal dalam satu hal. Tetapi hidup saya belum selesai.”
***
Kita sering keliru memahami kegagalan. Kegagalan dianggap sebagai identitas. Padahal gagal adalah peristiwa. Bukan identitas. Seseorang bisa gagal dalam bisnis. Ia bukan berarti manusia gagal.
Mahasiswa bisa gagal dalam ujian. Ia bukan berarti bodoh. Seseorang bisa gagal mendapatkan pekerjaan. Ia bukan berarti tidak berguna.
Pemain bisa kalah dalam pertandingan. Ia bukan berarti tidak punya masa depan.
Karena itu, yang harus dikalahkan setelah kegagalan bukan hanya masalah di luar diri. Tetapi juga suara di dalam diri.
Suara yang mengatakan: “Sudahlah.”
“Tidak akan bisa.”
“Percuma mencoba lagi.”
Suara seperti itulah yang kadang lebih berbahaya daripada kegagalan itu sendiri. Mental tangguh bukan berarti tidak pernah menangis. Bukan berarti selalu terlihat kuat.
Mental tangguh adalah kemampuan untuk tetap berdiri setelah tahu rasanya jatuh.
Pertanyaan ini menarik. Mengapa kita ikut senang melihat orang yang pernah gagal kemudian berhasil? Mengapa kisah kebangkitan begitu mudah menyentuh hati?
Mungkin karena kita melihat diri sendiri. Ketika melihat seseorang bangkit, kita seperti mendapatkan pesan. Kalau dia bisa, mungkin saya juga bisa.
Kalau dia mau mencoba lagi, mungkin saya juga belum terlambat. Kalau dia tidak menyerah, mengapa saya harus menyerah?
Kisah kebangkitan memberi harapan. Bukan hanya hiburan. Ada empat alasan mengapa kebangkitan seseorang penting bagi kita.
Pertama, kegagalan bukan tanda bahwa perjalanan harus berhenti. Kegagalan hanya menunjukkan bahwa cara yang kita tempuh belum berhasil.
Mungkin caranya harus diubah. Mungkin ilmunya harus ditambah. Mungkin waktunya belum tepat. Mungkin kita memang perlu mencoba dari awal. Satu kegagalan tidak otomatis menjadi akhir.
Allah berfirman: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5–6).
Perhatikan kata bersama. Kemudahan tidak selalu datang setelah kesulitan selesai. Kadang kemudahan tumbuh di tengah kesulitan. Karena itu, kita perlu bertahan.
Kedua, kegagalan membuat kita lebih matang. Orang yang pernah gagal tahu rasanya kehilangan. Tahu rasanya kecewa. Tahu rasanya rencana berantakan. Tahu rasanya berharap lalu tidak mendapatkan apa yang diharapkan.
Pengalaman itu bisa menjadi guru. Asalkan kita mau belajar. Kegagalan membuat kita lebih berhati-hati. Lebih rendah hati. Lebih memahami orang lain.
Kita tidak mudah menghakimi. Sebab kita tahu bahwa setiap orang bisa jatuh. Termasuk diri kita sendiri.
Ketiga, kegagalan melatih daya tahan mental. Hidup tidak selalu menyediakan jalan yang lapang. Kadang jalan terasa panjang. Pintu tertutup satu demi satu. Orang yang diharapkan membantu tidak datang.
Rencana yang sudah disusun berbulan-bulan bisa gagal dalam sehari. Di situlah daya tahan diperlukan.
Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim).
Kekuatan bukan hanya soal fisik. Kekuatan juga menyangkut kemauan untuk terus berusaha. Tetap berpikir jernih. Tidak mudah menyerah. Dan tetap percaya bahwa hidup belum selesai.
Keempat, kebangkitan seseorang bisa menjadi harapan bagi orang lain. Ini sering kita lupakan. Ketika seseorang bangkit, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya. Cerita tentang perjuangannya bisa menguatkan orang lain.
Seorang ayah yang kembali berusaha setelah bisnisnya jatuh sedang mengajarkan sesuatu kepada anaknya.
Seorang ibu yang tetap bekerja setelah mengalami masa sulit sedang menunjukkan ketangguhan kepada keluarganya.
Seorang anak muda yang gagal berkali-kali tetapi terus mencoba sedang memberi pesan kepada teman-temannya. Pesannya, “Jangan cepat menyerah.”
Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang memperhatikan perjuangan kita. Mungkin seseorang sedang kehilangan semangat. Lalu melihat kita. Dan ia kembali mencoba.
***
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menyerah kepada keadaan. Allah bahkan mengingatkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Az-Zumar: 53).
Ayat ini bukan janji bahwa setiap usaha pasti berhasil. Bukan. Bangkit juga bukan jaminan bahwa percobaan berikutnya langsung berhasil. Bisa jadi gagal lagi. Lalu mencoba lagi. Gagal lagi. Belajar lagi. Mencoba lagi. Begitu seterusnya.
Sampai suatu ketika kita sadar. Yang berubah bukan hanya keadaan. Kita sendiri ikut berubah. Lebih sabar. Lebih matang. Lebih kuat. Lebih tahu bagaimana menghadapi hidup.
Mungkin itulah inti pesan Chairul Tanjung. Gagal. Bangkit lagi. Gagal lagi. Bangkit lagi. Sampai gagalnya bosan.
Pada ujungnya, hidup bukan perlombaan untuk selalu menang. Tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya menang. Ada waktunya kita berada di atas. Ada waktunya kita berada di bawah.
Hari ini dipuji. Besok dikritik. Hari ini berhasil. Besok mungkin gagal. Begitulah hidup. Yang penting bukan berapa kali kita jatuh. Tetapi berapa kali kita memilih berdiri.
Mungkin itulah sebabnya kita senang melihat orang yang pernah gagal bangkit lagi. Sebab ketika menyaksikan seseorang berdiri setelah jatuh, kita sedang melihat sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa hidup belum selesai. Kemungkinan bahwa kegagalan bukan akhir. Kemungkinan bahwa pintu yang tertutup hari ini belum tentu tertutup selamanya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang melihat diri sendiri.
Pernah jatuh. Pernah kecewa. Pernah kehilangan harapan. Tetapi belum selesai. Masih mau berjalan.
Sebab selama kaki masih bisa melangkah, selalu ada alasan untuk mencoba sekali lagi. Gagal boleh. Jatuh boleh.
Menangis juga boleh. Tetapi jangan terlalu lama tinggal di sana. Bangkitlah. Lalu berjalan lagi.
Barangkali suatu hari nanti, bukan kita yang bosan dengan kegagalan. Kegagalanlah yang bosan mengejar kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments