Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tujuh Prototipe Lahir dari Kolaborasi Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic

Iklan Landscape Smamda
Tujuh Prototipe Lahir dari Kolaborasi Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic
Gallery Walk Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) International Community Service Learning Express (LeX) 2026 di Surabaya, Foto: Umsura
pwmu.co -

Kolaborasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan Singapore Polytechnic tidak berhenti pada pertukaran pengalaman lintas negara. Selama sembilan hari, mereka turun langsung mengidentifikasi persoalan masyarakat Surabaya dan mengubahnya menjadi tujuh prototipe inovatif.

Tujuh prototipe tersebut dipamerkan dalam Gallery Walk Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) International Community Service Learning Express (LeX) 2026 di Surabaya, Rabu (7/10/2026).

Program ini mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Singapura untuk mencari solusi atas persoalan yang ditemukan di dua lokasi, yakni Kampung Semanggi di Sememi, Kecamatan Benowo, dan Jago Karah Farm di Karah, Kecamatan Jambangan.

Pendekatan yang digunakan adalah design thinking, dengan kebutuhan masyarakat sebagai titik awal pengembangan inovasi. Mahasiswa tidak langsung membuat produk, tetapi terlebih dahulu melakukan observasi dan wawancara untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.

Di Jago Karah Farm, misalnya, mahasiswa mempelajari pengelolaan peternakan ayam dengan sistem closed-house. Mereka melihat berbagai persoalan mulai dari pengelolaan limbah, sirkulasi udara, pemberian pakan, kebutuhan pakan tambahan, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Dari proses tersebut lahir lima prototipe. Pertama, DIY Waste Scooper & Retractable Tray, alat yang menggabungkan pembersih kandang dan nampan limbah dalam satu sistem. Prototipe ini dirancang untuk mempermudah pembersihan kandang sekaligus membantu pemisahan limbah.

Kedua, Energy Efficient Chicken Farm Structure, rancangan struktur kandang yang ditujukan untuk meningkatkan sirkulasi udara. Sistem ini memanfaatkan lapisan isolasi pada atap, kipas ventilasi, serta bukaan tambahan di dekat atap untuk menciptakan aliran udara yang lebih baik.

Ketiga, Automated Chicken Feeder, alat pemberi pakan otomatis dengan takaran yang dapat diatur. Pakan dapat diisi dari bagian atas dan diarahkan melalui sekat menuju lubang keluaran sehingga mengurangi pakan yang tercecer.

Alat tersebut juga dilengkapi sistem pengatur waktu digital sehingga pemberian pakan dapat dijadwalkan secara otomatis.

Keempat, BSF Farming Box, unit budidaya Black Soldier Fly (BSF) yang dirancang untuk menghasilkan larva sebagai pakan tambahan ayam. Inovasi ini membuka peluang bagi peternak untuk memproduksi sebagian sumber pakan secara mandiri sehingga berpotensi menekan biaya operasional.

Kelima, Nutritional Website untuk Jago Karah Farm. Platform digital ini dirancang untuk memperkenalkan usaha peternakan sekaligus menyediakan informasi mengenai nutrisi ayam.

Platform tersebut juga diarahkan untuk menghubungkan masyarakat melalui grup WhatsApp yang menyediakan informasi mengenai sumber daya peternakan, jadwal pengambilan, dan berbagai inisiatif komunitas. Pengembangan blog menjadi bagian dari rencana pengembangan platform.

Sementara di Kampung Semanggi, mahasiswa menghasilkan dua inovasi yang berkaitan dengan pertanian dan pengembangan potensi lokal.

Yang pertama adalah Sobar 3.0, mesin pemanen semanggi berbasis motor. Prototipe ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses panen sekaligus mengurangi risiko kesehatan fisik yang dapat dialami petani ketika memanen secara manual.

Yang kedua adalah Kampoeng Semanggi Website, platform digital yang dirancang untuk mendukung promosi sekaligus pelestarian warisan Kampung Semanggi.

SMPM 5 Pucang SBY

Platform tersebut mengangkat sejarah kampung, mempromosikan produk lokal, serta membuka peluang bagi pengunjung untuk memesan tur dan memperoleh pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat setempat.

Kepala Lembaga Riset Inovasi dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) Umsura Arin Setyowati mengatakan, seluruh proses pengembangan inovasi dilakukan melalui pendekatan design thinking.

“Melalui metode design thinking, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari proses tersebut, mereka kemudian merancang solusi hingga menghasilkan prototipe alat yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi produk,” ujarnya.

Menurut Arin, rangkaian LeX 2026 berlangsung melalui enam tahapan, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk.

Setiap tahapan, lanjut dia, memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus mengembangkan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin dan lintas budaya.

Belajar dari Masyarakat

Kolaborasi Umsura dan Singapore Polytechnic dalam LeX 2026 tidak hanya menghasilkan prototipe. Para mahasiswa juga memperoleh pengalaman belajar langsung dari masyarakat dan lingkungan perkotaan Surabaya.

Selain bekerja di Kampung Semanggi dan Jago Karah Farm, peserta mengikuti kegiatan cultural immersion di sejumlah destinasi Surabaya, antara lain Museum Tugu Pahlawan dan Kenjeran Park.

Interaksi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lintas budaya. Mahasiswa dari Indonesia dan Singapura tidak hanya bekerja bersama di ruang akademik, tetapi juga mengenal masyarakat, budaya, dan karakter lingkungan tempat mereka menjalankan program.

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi Umsura Dr. Radius Setiyawan mengatakan, program Learning Express bersama Singapore Polytechnic diharapkan terus berkembang menjadi ruang pembelajaran internasional yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama global, mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat, serta mengembangkan solusi berkelanjutan untuk menjawab berbagai tantangan di lingkungan perkotaan,” katanya.

Tujuh prototipe itu menunjukkan bahwa kerja sama internasional tidak selalu harus berakhir pada seremoni atau pertukaran kunjungan.

Di Surabaya, kolaborasi mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic justru diuji di lapangan: menemukan masalah, memahami kebutuhan masyarakat, lalu mencoba membuat solusinya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/10/2026 01:38
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu