Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tindaklanjut Ciptakan Lingkungan Inklusif, Umsida Gelar Pelatihan Disability Awareness

Iklan Landscape Smamda
Tindaklanjut Ciptakan Lingkungan Inklusif, Umsida Gelar Pelatihan Disability Awareness
Tindaklanjut Ciptakan Lingkungan Inklusif, Umsida Gelar Pelatihan Disability Awareness
pwmu.co -

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar workshop Disability Awareness bagi Generasi Muda sebagai upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Mas Mansyur Kampus 1 Umsida, Kamis (17/9/2026), dan diikuti sekitar 200 mahasiswa.

Pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar Umsida dalam menumbuhkan kesadaran sivitas akademika terhadap isu disabilitas sekaligus membangun lingkungan kampus yang ramah dan inklusif.

Sebelumnya, Umsida juga melakukan kunjungan ke Universitas Brawijaya (UB) untuk mempelajari berbagai aspek pengembangan layanan disabilitas dan pendidikan inklusif.

Hadir sebagai pemateri, Khairun Nastain, S.Pd., dari Rumah Layanan Disabilitas UB menjelaskan pentingnya disability awareness. Menurutnya, setiap orang memiliki kemungkinan mengalami kondisi disabilitas.

“Pertama, itu karena penyandang disabilitas dilindungi undang-undang. Kedua, semuanya berpotensi menjadi disabilitas. Kalau tidak sekarang, ya mungkin nanti,” jelasnya.

Nastain menjelaskan, kondisi disabilitas dapat terjadi karena berbagai situasi. Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami penurunan kemampuan pendengaran maupun penglihatan.

Kondisi kesehatan tertentu juga dapat menyebabkan seseorang mengalami disabilitas. Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur Ring of Fire dan memiliki risiko bencana turut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun lingkungan yang inklusif.

Karena itu, menurut Nastain, lingkungan inklusif tidak hanya dibutuhkan oleh mahasiswa yang saat ini merupakan penyandang disabilitas, tetapi juga seluruh masyarakat.

Nastain juga mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.

Ia menjelaskan, masih terdapat paradigma lama yang melihat disabilitas dari sisi keagamaan, rasa kasihan, moral, medis, hingga kondisi ekonomi.

Salah satunya adalah religious model, ketika kondisi disabilitas dikaitkan dengan persoalan keagamaan atau dianggap sebagai akibat dari kesalahan tertentu.

Ada pula charity model yang melihat penyandang disabilitas semata-mata dari sisi rasa kasihan.

“Kita harus bisa berubah paradigma kita. Menganggap aneh, tidak normal, dan lainnya, itu harud diubah,” terangnya.

Menurutnya, perubahan paradigma menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang dapat memberikan kesempatan dan akses yang setara bagi penyandang disabilitas.

Dalam konteks perguruan tinggi, Nastain menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun lingkungan pendidikan yang inklusif.

SMPM 5 Pucang SBY

“Yang pertama, kampus bisa menguatkan kebijakan yang mendukung disabilitas,” tutur Nastain.

Kedua, kampus perlu membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) beserta layanan yang memadai.

Ketiga, kampus tetap menerima mahasiswa disabilitas dan memberikan akses yang setara untuk memperoleh pendidikan maupun kesempatan kerja.

“Jadi, diberikan akses juga untuk masuk ke universitas, untuk menikmati pekerjaan. Terus menyediakan infrastruktur, fisik dan non-fisik,” tuturnya.

Infrastruktur fisik yang dimaksud antara lain guiding block, bidang miring, lift, serta fasilitas publik yang aksesibel.

Sementara itu, infrastruktur nonfisik dapat berupa aplikasi akademik yang aksesibel sehingga dapat digunakan dan dibaca oleh pengguna dengan kebutuhan yang beragam.

Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah memberikan pelatihan kepada sivitas akademika mengenai disability awareness.

Saat ini, Umsida telah membentuk Unit Layanan Disabilitas sebagai bagian dari komitmen membangun lingkungan pendidikan yang inklusif.

Direktur Direktorat Akademik Umsida, Cholifah, S.ST., M.Kes., mengatakan unit tersebut menjadi ruang koordinasi sekaligus layanan bagi mahasiswa disabilitas.

“Teman-teman disabilitas itu bukan suatu hal yang abnormal, tetapi mungkin perbedaan fungsi saja dengan teman-teman semua dalam mencapai sebuah kegiatan,” ujarnya.

Cholifah menegaskan, Umsida akan melanjutkan berbagai pelatihan serta menyiapkan shadow atau pendamping bagi mahasiswa yang mengalami kondisi disabilitas.

“Kegiatan ini sebagai pembuka ke depan kegiatan kita yang akan kita lanjutkan dalam menumbuhkan disability awareness,” tutur Cholifah.

Ia juga mengajak komunitas Silam.id (Sisi Lain Mahasiswa Asosiasi Disabilitas), yang selama ini menjadi salah satu penggerak kegiatan inklusif di Umsida, untuk turut menyosialisasikan keberadaan Unit Layanan Disabilitas kepada mahasiswa.

Dengan pelatihan tersebut, Umsida berupaya membangun pemahaman bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas, tetapi juga membutuhkan perubahan paradigma dan kesadaran seluruh sivitas akademika.

Revisi Oleh:
  • Satria - 18/09/2026 16:59
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu