Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Makna Huruf Hijaiyah hingga Dua Sayap Garuda, Sekretaris PDM Lamongan Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah

Iklan Landscape Smamda
Dari Makna Huruf Hijaiyah hingga Dua Sayap Garuda, Sekretaris PDM Lamongan Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah
Dari Makna Huruf Hijaiyah hingga Dua Sayap Garuda, Sekretaris PDM Lamongan Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah. (Uswah/PWMU.CO)

Pengajian rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukodadi berlangsung di Masjid At-Taqwa PRM Karangrejo, Jumat (18/9/2026). Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW di Era Kemerdekaan”, pengajian menghadirkan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Ustadz Dr. Piet Hizbullah Khaidir, MA.

Di hadapan jamaah PCM Sukodadi, Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Ortom se-Cabang Sukodadi, serta warga Muhammadiyah lainnya, Piet mengajak jamaah menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam membangun kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa.

Akhlak Dimulai dari Lisan dan Sikap

Piet kemudian mengajak jamaah melihat akhlak Rasulullah SAW melalui pemaknaan simbolis terhadap huruf hijaiyah yang ia sampaikan dalam kajian tersebut. Ia mencontohkan huruf alif yang dikaitkan dengan makna ulfah, yakni kelembutan, keakraban, dan kasih sayang.

“Akhlak itu dihiasi lisan. Tutur kata harus santun, sikap harus ringan membantu, dan jangan mudah menyalahkan orang lain,” ujarnya.

Piet juga mengisahkan keteladanan Rasulullah SAW dalam menghadapi seseorang yang kerap melakukan tindakan buruk terhadap beliau. Meski mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, Rasulullah tidak membalasnya dengan keburukan.

Ketika suatu hari orang tersebut tidak lagi melakukan kebiasaan buruknya, Rasulullah justru mencari tahu keadaannya. Setelah mengetahui bahwa orang tersebut sedang sakit, beliau datang menjenguk.

Kisah tersebut, menurut Piet, memberikan pelajaran bahwa akhlak Rasulullah tidak bergantung pada baik atau buruknya perlakuan orang lain. Kebaikan tetap dilakukan karena kebaikan itulah yang menjadi prinsip hidup seorang Muslim.

Orang Terdekat adalah Prioritas Kebaikan

Lebih jauh, Piet mengingatkan jamaah bahwa orang yang paling penting untuk diperhatikan adalah mereka yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai kita sibuk memperhatikan orang lain, tetapi orang yang paling dekat dengan kita justru luput dari perhatian. Bisa jadi mereka sedang membutuhkan sesuatu,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa membuat orang lain merasa senang merupakan salah satu bentuk amal kebaikan. Karena itu, akhlak Rasulullah perlu diterjemahkan dalam relasi sosial yang menghadirkan keteduhan.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah juga tampak dari sikap rendah hati dan tidak gemar menyalahkan orang lain. Bahkan ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, Rasulullah tetap menunjukkan kasih sayang.

Islam Dibangun dengan Ilmu

Pembahasan kemudian bergeser pada kecintaan Rasulullah SAW terhadap ilmu pengetahuan. Piet mengingatkan jamaah bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah “Iqra’” dalam QS Al-Alaq ayat 1–5.

Menurutnya, ilmu merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan umat Islam. Karena itu, umat Islam tidak boleh jauh dari membaca, belajar, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan.

Ia kemudian mengajak jamaah melihat kembali sejarah peradaban Islam yang pernah berkembang melalui kekuatan ilmu pengetahuan. Kemajuan peradaban Islam, menurutnya, tidak lahir hanya dari semangat keagamaan, tetapi juga dari tradisi keilmuan yang kuat.

Meneladani Tokoh Bangsa dalam Mengisi Kemerdekaan

Mengaitkan tema kajian dengan momentum kemerdekaan Indonesia, Piet kemudian mengajak jamaah melihat keteladanan para tokoh bangsa.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia menyinggung Mohammad Natsir dan Kasimo sebagai tokoh bangsa yang pernah memiliki pandangan berbeda dalam persoalan politik. Namun, perbedaan pandangan tidak harus menghilangkan rasa persaudaraan.

“Boleh berbeda dalam pandangan, tetapi hati tetap dingin. Jangan menyalahkan orang lain. Kita perlu introspeksi diri,” pesannya.

Kisah tentang Agus Salim juga disampaikan sebagai gambaran kesederhanaan, kepedulian, dan kesediaan mendahulukan mereka yang lebih membutuhkan.

Menurut Piet, semangat kemerdekaan yang tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 melalui ungkapan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” juga mengingatkan bahwa perjuangan kebangsaan perlu dilandasi kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.

Muhammadiyah dan NU, Dua Sayap Garuda

Pada bagian akhir kajian, Piet mengajak jamaah menjaga persaudaraan dan kebersamaan antarkekuatan umat Islam, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ia menggambarkan Muhammadiyah dan NU sebagai dua kekuatan besar yang dapat berjalan bersama dalam menjaga kehidupan kebangsaan.

“NU dan Muhammadiyah adalah dua kekuatan penting bagi bangsa. Keduanya bisa menjadi kakak dan adik yang saling menguatkan dalam menjaga Indonesia,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Piet mengutip pandangan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang mengibaratkan Muhammadiyah dan NU sebagai dua sayap Garuda. Analogi tersebut menggambarkan pentingnya kedua organisasi tersebut untuk dapat bergerak bersama dalam menjaga kehidupan bangsa.

Piet juga menyampaikan analogi yang pernah dikemukakan KH Hasyim Muzadi, yang menggambarkan NU dan Muhammadiyah seperti sepasang sandal. Keduanya memiliki posisi yang berbeda, tetapi dapat berjalan bersama.

Dengan dua analogi tersebut, Piet mengajak jamaah melihat perbedaan bukan sebagai alasan untuk saling menjauh, tetapi sebagai ruang untuk saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Akhlak, Ilmu, dan Persaudaraan

Pengajian rutin PCM Sukodadi tersebut akhirnya membawa jamaah pada satu pesan besar: meneladani Rasulullah SAW berarti menghadirkan akhlak dalam kehidupan nyata.

Akhlak diwujudkan melalui kelembutan lisan, kepedulian kepada orang terdekat, kesediaan membantu, kecintaan terhadap ilmu, kerendahan hati, kemampuan melakukan introspeksi, serta menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Dalam konteks kemerdekaan, nilai-nilai tersebut menjadi modal penting untuk membangun kehidupan bangsa yang tidak hanya maju secara ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam moral, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

Dengan demikian, kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah perjuangan, tetapi perlu terus diisi dengan ilmu, akhlak, pengabdian, dan kerja sama untuk kemaslahatan bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 19/09/2026 04:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu