Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Kita Diremehkan: Belajar Menjaga Harga Diri dan Hati dalam Islam

Iklan Landscape Smamda
Ketika Kita Diremehkan: Belajar Menjaga Harga Diri dan Hati dalam Islam
Ilustrasi foto: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada kalanya seseorang tidak menyukai kita tanpa alasan yang jelas. Ada yang meremehkan pekerjaan kita, mengecilkan kemampuan kita, mencibir keberhasilan yang kita raih, bahkan sengaja mengucapkan kata-kata yang membuat hati terluka.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang bisa saja sudah bekerja keras menyelesaikan tugas, tetapi yang diterimanya justru komentar, “Begitu saja tidak bisa?” Di lingkungan pertemanan, seseorang yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukan malah dianggap tidak akan mampu berubah. Bahkan di tengah keluarga, ada kalanya seseorang yang sedang berjuang memperbaiki kehidupan justru dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Ucapan seperti itu memang sederhana bagi yang mengucapkan. Namun, bagi yang menerimanya, bisa menjadi luka yang lama sembuhnya.

Lalu, bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika direndahkan?

Al-Qur’an dan hadis tidak mengajarkan kita membalas penghinaan dengan penghinaan. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih sulit, tetapi jauh lebih mulia: menjaga harga diri tanpa kehilangan akhlak.

Jangan biarkan perilaku orang lain membuat kita berubah menjadi orang yang tidak kita inginkan.

Ketika seseorang merendahkan kita, hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh perkataan manusia.

Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)

Ayat ini memberikan fondasi penting. Manusia telah diberi kemuliaan oleh Allah. Karena itu, komentar, ejekan, atau penilaian buruk dari seseorang tidak serta-merta menghilangkan kemuliaan tersebut.

Bayangkan seorang pegawai yang bertahun-tahun bekerja dengan jujur. Suatu hari atasannya mengatakan bahwa dirinya tidak becus hanya karena satu kesalahan. Kesalahan itu mungkin memang perlu diperbaiki. Tetapi satu kesalahan tidak otomatis membuat seluruh dirinya menjadi manusia yang tidak berharga.

Begitu pula dalam kehidupan. Kita boleh dikritik. Kita boleh mengakui kekurangan. Kita bahkan harus bersedia memperbaiki diri. Tetapi kritik berbeda dengan penghinaan.

Kritik membantu seseorang menjadi lebih baik. Penghinaan berusaha membuat seseorang merasa tidak berharga.

Karena itu, ketika direndahkan, jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana saya membalasnya?”

Lebih baik bertanya, “Bagaimana saya tetap menjadi pribadi yang baik meskipun diperlakukan tidak baik?”

Jangan Membalas dengan Merendahkan

Salah satu godaan terbesar ketika dihina adalah membalas.

“Dia merendahkan saya, saya juga bisa merendahkan dia.”

“Dia membuka kekurangan saya, saya juga tahu kelemahannya.”

“Dia mempermalukan saya di depan orang lain, saya bisa mempermalukannya lebih jauh.”

Di sinilah seseorang diuji.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Rasulullah saw juga bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim)

Membalas penghinaan dengan penghinaan hanya membuat kita masuk ke dalam lingkaran yang sama.

Ada sebuah ilustrasi sederhana. Seseorang melemparkan lumpur kepada kita. Kita marah, lalu mengambil lumpur dan melemparkannya kembali. Pada akhirnya, bukan hanya orang itu yang kotor. Kita pun ikut kotor.

Begitulah penghinaan. Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan kepada kita. Namun, kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.

Sabar Bukan Berarti Membiarkan Diri Dizalimi

Sabar sering kali disalahpahami sebagai diam dalam segala keadaan.

Padahal, sabar bukan berarti seseorang harus menerima semua perlakuan buruk tanpa batas. Sabar adalah kemampuan untuk mengendalikan diri agar tidak mengambil tindakan yang salah ketika sedang terluka atau marah.

Allah SWT menggambarkan salah satu karakter hamba-Nya yang saleh: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang respons terbaik memang tidak panjang. Diam. Menarik napas. Tersenyum. Kemudian meninggalkan tempat itu.

Tidak semua ucapan harus dijawab. Tidak semua tuduhan harus diluruskan. Tidak semua orang harus diyakinkan bahwa kita adalah orang baik.

Ada perkara yang cukup Allah yang mengetahuinya.

Balas Keburukan dengan Cara yang Lebih Baik

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Ayat ini bukan berarti kita harus selalu membiarkan orang lain berbuat sesuka hati. Maksudnya, jangan biarkan keburukan orang lain menentukan kualitas akhlak kita.

SMPM 5 Pucang SBY

Seseorang mungkin berbicara kasar kepada kita. Kita bisa menjawab dengan tenang. Seseorang mungkin meremehkan pekerjaan kita. Kita bisa membuktikan kualitas dengan kerja nyata.

Seseorang mungkin menyebarkan cerita buruk tentang kita. Kita tidak perlu membalas dengan menyebarkan aibnya.

Dalam banyak keadaan, prestasi dan ketenangan jauh lebih kuat daripada perdebatan. Ada orang yang sibuk menjelaskan bahwa dirinya mampu. Ada pula orang yang memilih bekerja dalam diam hingga hasilnya berbicara sendiri.

Waktu sering kali menjadi penjelas yang paling adil.

Ada pula keadaan ketika seseorang perlu mengambil jarak.

Islam tidak mengajarkan kita mencari keributan. Jika sebuah hubungan terus-menerus membawa penghinaan, fitnah, atau perlakuan yang merusak diri, menjaga jarak dapat menjadi pilihan yang bijaksana.

Allah SWT berfirman: “Jadilah pemaaf, perintahlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Memaafkan tidak selalu berarti kembali dekat. Memaafkan berarti tidak membiarkan kebencian menguasai hati. Sementara menjaga batas berarti menyadari bahwa ketenangan dan martabat diri juga perlu dijaga.

Karena itu, seseorang boleh berkata dalam hati: “Saya tidak membencimu. Tetapi saya memilih tidak lagi berada dalam situasi yang membuat saya terus terluka.”

Itu bukan kelemahan. Itu adalah bentuk kedewasaan.

Orang yang Kuat Bukan yang Paling Keras Membalas

Rasulullah saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Di era media sosial, seseorang dapat membalas hinaan hanya dalam beberapa detik.

Satu komentar dibalas dengan komentar lain. Satu unggahan dibalas dengan unggahan. Kemudian persoalan kecil berkembang menjadi pertengkaran yang disaksikan banyak orang.

Padahal, satu-satunya orang yang sebenarnya memiliki kendali atas jari kita adalah diri kita sendiri.

Kita bisa memilih untuk tidak membalas. Kita bisa memilih menghapus komentar. Kita bisa memilih memblokir akun. Kita bisa memilih keluar dari percakapan.

Dan yang paling penting, kita bisa memilih menjaga hati agar kemarahan tidak mengubah kita menjadi pribadi yang kasar.

Ketika Hati Terluka, Kembalilah kepada Allah

Ada luka yang tidak terlihat. Seseorang mungkin tetap bekerja, tersenyum, bercanda, dan menjalani kehidupan seperti biasa.

Namun, di dalam hatinya masih tersimpan satu kalimat yang pernah diucapkan orang lain bertahun-tahun lalu.

Karena itu, ketika hati terluka, jangan hanya mencari pembenaran dari manusia. Carilah ketenangan dari Allah.

Berdoalah dengan bahasa yang kita pahami. Misalnya: “Ya Allah, kuatkan hatiku. Beri aku kesabaran. Jangan biarkan perkataan orang lain membuatku jauh dari-Mu. Jika aku salah, tunjukkan kesalahanku. Jika aku dizalimi, berikan aku kekuatan untuk tetap berada dalam kebenaran.”

Kita juga dapat memohon kesabaran dan keteguhan kepada Allah dengan doa yang bersumber dari ajaran Islam, tanpa harus menjadikan sebuah ungkapan tertentu sebagai doa khusus yang diwajibkan.

Sebab pada akhirnya, Allah mengetahui siapa yang berkata benar dan siapa yang berbuat zalim.

Jangan Turun ke Level Orang yang Merendahkan Kita

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membuktikan kepada semua orang bahwa kita layak dihargai.

Tidak semua orang akan menyukai kita. Tidak semua orang akan memahami perjuangan kita. Tidak semua orang akan mengakui kebaikan yang kita lakukan. Dan itu tidak masalah.

Yang penting adalah bagaimana Allah menilai kita. nJika orang lain merendahkan kita, jangan ikut merendahkan diri sendiri dengan membalas menggunakan keburukan. Jaga lisan. Jaga hati. Jaga batas. Teruslah memperbaiki diri.

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan tenang. Jika perlu melawan ketidakadilan, lakukan dengan cara yang benar. Jika perlu menjauh, menjauhlah tanpa kebencian. Dan jika perkara itu berada di luar kemampuan kita, serahkan kepada Allah.

Sebab terkadang, kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membungkam orang yang menghina kita.

Kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil menjaga hati sehingga penghinaan orang lain tidak mengubah kita menjadi orang yang buruk.

Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika diuji, kelapangan hati ketika disakiti, keberanian ketika dizalimi, dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap manusia.

Mari mendoakan orang tua, keluarga, sahabat, teman, dan seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, taufik, hidayah, dan perlindungan kepada kita semua. Aamiin. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu