Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Khalifah (?)

Iklan Landscape Smamda
Khalifah (?)
Wildan Nanda Rahmatullah. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Wildan Nanda Rahmatullah Guru Sejarah SMA Muhammadiyah 1 Taman

Luka itu masih ada, borok yang belum sembuh. November 2025, tiga provinsi di Indonesia dilanda banjir bandang. Ditemukan banyak sekali kayu gelondongan ikut terseret banjir tersebut. Dilansir dari Kompas, sudah lebih dari 1,2 juta hektare hutan di Sumatera menyusut sepanjang tahun 1990-2024 akibat deforestasi.

Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara belum lupa atas bencana ekologi di akhir tahun 2025 tersebut. Sepanjang Juli hingga Agustus 2026, kabar menyedihkan kembali menguar. Ribuan titik api ditemukan hampir memenuhi pulau Kalimantan. 72 orang ditetapkan sebagai tersangka. Hutan beralih fungsi. Semakin menyusut.

Memang, pembukaan lahan paling mudah adalah dengan membakarnya. Tidak perlu kirim alat berat. Tidak perlu pikirkan waktunya. Satset, pantik api, masalah selesai. Akibatnya? Pikir nanti, yang penting lahan sudah siap tanam, pupuk sudah tersedia dari abu pembakarannya.

Masalah hutan masih sepersekian persen dari berbagai masalah yang ditimbulkan manusia untuk bumi. Ambil salah satu masalahnya. Plastik. Benda yang praktis, mudah didapat, dan murah. Kita menemukannya hampir di setiap sendi kehidupan. Elektronik, tempat makan dan minum, hingga pembersih rumah tangga. Kemana semuanya berakhir? Akhir tahun 2025, warga Surabaya dikejutkan dengan penemuan mikroplastik di air hujan. Apakah ini hal yang baru? Tidak juga. Terjadi di banyak wilayah, banyak negara. Sudah menjadi masalah global.

Berdasarkan keterangan dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Vella Rohmayani pada November 2025, mikroplastik ini menyebar di laut, danau, sungai, bahkan tubuh organisme. Mikroplastik tersebut berpotensi masuk ke dalam rantai makanan yang berujung pada manusia.

Juli 2025, sebuah penelitian besar yang dilakukan oleh Royal Netherlands Institute for Sea Research (NIOZ) bekerja sama dengan Universitas Utrecht mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 27 juta ton nanoplastik—partikel plastik ultra-halus berukuran kurang dari 1 mikrometer—mengambang di Samudra Atlantik bagian Utara. Itu baru di Samudra Atlantik Utara. Belum lagi Samudra Pasifik, Hindia, dan lautan lain.

Secara perlahan, kita sudah menanamkan racun dalam diri kita dan akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti. Sebuah kehidupan yang tak lepas dari plastik. Bukan sebagai wadah makanan, namun (termasuk) makanan kita.

Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang kisah penciptaan manusia dalam Surat Al-Baqarah ayat 30. Tentang bagaimana rencana Allah menjadikan seorang khalifah di muka bumi.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Para malaikat mempertanyakan kemungkinan manusia berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di planet ini. Usia planet ini sudah 4,54 miliar tahun, dengan Homo sapiens yang baru hadir 300.000 tahun yang lalu. Kita masih menjadi pendatang di planet ini, dan sudah membawa krisis ekologi yang masif.

Pembalakan hutan, Penangkapan ikan secara berlebih, pembuangan limbah ke lingkungan tanpa melalui proses pembersihan, memberikan dampak yang luar biasa. Apakah kekhawatiran para malaikat itu sedang kita buktikan?

SMPM 5 Pucang SBY

Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Kita sudah melihat bagaimana ulah dari tangan umat manusia sejak dulu. Banyak spesies yang punah,iklim yang tidak stabil, kekeringan di berbagai wilayah, suhu global yang semakin naik, Udara yang tidak sehat, dan degradasi moral yang semakin terasa.

Di dalam diri manusia ada akal dan nafsu. Keduanya menjadi bagian dari kehidupan manusia, tetapi persoalannya adalah siapa yang memegang kendali.

Jika nafsu kita tidak terkendali, yang terjadi adalah kerusakan di bumi ini. Sebaliknya jika kita bisa mengendalikan nafsu. Kesadaran, rasa kemanusiaan, iman, dan rasa tanggung jawab itu akan mendominasi dalam pengambilan keputusan.

Peran khalifah di bumi merupakan sebuah amanah yang langsung Allah berikan pada umat manusia. Bukan penunjukan sekali kepada Nabi Adam, namun diwarisi oleh anak cucunya hingga hari akhir. Kepercayaan Allah itu ada di tangan manusia. Menjadi khalifah bukan berarti kita jadi makhluk yang terkuat, namun sebuah amanah untuk menjaga apa yang Allah titipkan kepada kita.

Bumi ini bukan hanya milik kita, namun juga makhluk Allah yang lain. Kita diberikan kepercayaan untuk menjaga kelangsungannya, hidup di dalamnya, dan mencari penghidupan di dalamnya.

Jika hari ini hutan terbakar, sungai tercemar, laut dipenuhi plastik, dan udara semakin sulit dihirup, mungkin persoalannya bukan lagi apakah manusia adalah khalifah. Persoalannya adalah: khalifah seperti apa yang sedang kita tunjukkan kepada bumi? (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu