Kajian Selasa Pagi di Masjid Supangat, Tasikmadu, Tuban, Selasa (25/8/2026), menghadirkan Dr. Ahmad Shobrun Jamil sebagai pembicara. Dalam kajian tersebut, ia mengajak jamaah merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kehidupan manusia, azab akhirat, kesehatan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu pembahasan mengulas gambaran azab bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah. Dr. Ahmad Shobrun Jamil menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan kehidupan akhirat, tetapi juga memberikan peringatan agar manusia senantiasa berada di jalan iman dan ketaatan.
Ia kemudian mengaitkannya dengan Surah An-Naba’ ayat 24–25:
لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
“Di sana mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak pula mendapat minuman, kecuali air yang mendidih dan ghasaq.”
Menurutnya, ayat tersebut menggambarkan kondisi neraka yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan. Ada ḥamīm, yaitu sesuatu yang sangat panas, dan ghas-sāq, yang dalam penjelasan tafsir yang disampaikan dalam kajian digambarkan sebagai bentuk azab yang sangat dingin dan menyakitkan.
“Jadi di neraka tidak ada istirahat. Panas menyiksa, dingin pun menjadi azab,” ujarnya.
Al-Qur’an dan Pelajaran tentang Kesehatan
Pembahasan kemudian berlanjut pada persoalan kesehatan, khususnya kondisi seseorang yang terlalu lama berbaring.
Dr. Ahmad menjelaskan, tekanan tubuh dalam waktu lama pada bagian tertentu dapat menghambat aliran darah dan berpotensi menimbulkan luka tekan atau pressure sore. Kondisi tersebut kemudian mendorong manusia mengembangkan berbagai cara untuk mengurangi tekanan, antara lain dengan mengubah posisi tubuh secara berkala dan menggunakan kasur khusus.
Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi ayat 18:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
“Dan Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”
Menurutnya, ayat tersebut dapat menjadi bahan renungan mengenai bagaimana Allah menjaga para penghuni gua yang berada dalam kondisi tidur dalam waktu yang sangat lama.
Dr. Ahmad menekankan bahwa membaca Al-Qur’an tidak semestinya berhenti pada aktivitas membaca teks. Membaca Al-Qur’an juga perlu dilanjutkan dengan proses berpikir, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.
“Al-Qur’an mengajak manusia untuk memperhatikan apa yang ada di sekitarnya, kemudian berpikir dan mengambil pelajaran,” tuturnya.
Dari Pengamatan Burung hingga Teknologi Penerbangan
Bagian lain kajian membahas hubungan antara Al-Qur’an dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dr. Ahmad mencontohkan Abbas Ibnu Firnas, ilmuwan dari Andalusia yang dikenal memiliki ketertarikan terhadap penerbangan dan mengamati kemampuan burung untuk terbang.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan Surah Al-Mulk ayat 19:
أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka, yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya? Tidak ada yang menahannya selain Yang Maha Pengasih.”
Menurut Dr. Ahmad Shobrun Jamil, ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan, berpikir, mengamati, dan menggali ilmu dari ciptaan Allah.
Pengamatan terhadap alam, lanjutnya, dapat melahirkan pertanyaan dan penelitian yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Ketika manusia mau mengamati alam, muncul pertanyaan. Dari pertanyaan itu lahir penelitian, dan dari penelitian berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.
Ia mengingatkan jamaah bahwa kemajuan teknologi semestinya tidak menjauhkan manusia dari Allah. Sebaliknya, ilmu pengetahuan perlu semakin memperkuat kesadaran bahwa alam semesta memiliki keteraturan dan berada dalam kekuasaan-Nya.
Al-Qur’an Tidak Sekadar untuk Dibaca
Menutup kajiannya, Dr. Ahmad Shobrun Jamil mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk yang mendorong manusia untuk belajar dan berpikir.
“Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipelajari. Bukan sekadar kitab untuk ibadah, tetapi juga menjadi petunjuk dalam memahami kehidupan,” pesannya.
Kajian Selasa Pagi di Masjid Supangat Tasikmadu menjadi momentum bagi jamaah untuk melihat Al-Qur’an secara lebih luas. Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab petunjuk dan sumber renungan, tetapi juga mendorong manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tetap berlandaskan keimanan.
Al-Qur’an dibaca dengan lisan, direnungkan dengan akal, dan diwujudkan dalam kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments