Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Doa Lamine Yamal

Iklan Landscape Smamda
Doa Lamine Yamal
Lamine Yamal bersujud. Foto: Claudia Greco/Reuters
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO

Sepak bola itu gaduh. Sorak. Tangis. Emosi. Semua bercampur menjadi satu.

Di tengah kebisingan itu, ada satu pemandangan yang justru sunyi. Lamine Yamal. Bintang muda Spanyol. Usianya masih sangat muda. Bakatnya luar biasa.

Di Piala Dunia 2026, ia tidak menjadi pencetak gol terbanyak. Namun penampilannya nyaris tak pernah turun.

Dia menjadi denyut permainan Spanyol. Dia mengalir. Dia matang. Padahal usianya belum genap seperempat abad.

Lalu datanglah sebuah video. Bukan video gol. Bukan pula video assist. Video itu hanya beberapa detik. Yamal menengadahkan tangan. Berdoa. Lalu bersujud di lapangan setelah Spanyol memastikan diri menjadi juara dunia.

Video itu beredar ke mana-mana. Ditonton jutaan orang. Dibagikan lintas negara. Orang-orang tidak sedang membicarakan teknik menggiring bolanya. Mereka membicarakan sujudnya.

Belakangan diketahui, Yamal memiliki kebiasaan yang sederhana. Sebelum bertanding ia membaca Surah Al-Fatihah.

Dia juga membaca doa yang diajarkan neneknya. Bukan mantra kemenangan. Bukan doa agar mencetak gol. Melainkan doa memohon perlindungan. Memohon ketenangan.

Ada pelajaran besar di situ. Seorang atlet boleh berlatih sekeras apa pun. Boleh menyusun strategi sebaik mungkin.

Tetapi ada wilayah yang tidak bisa dikuasai manusia. Nasib pertandingan. Cedera. Keberuntungan. Semua berada di luar genggaman. Di situlah doa mengambil tempat.

***

Ustaz Adi Hidayat (UAH) berkali-kali menjelaskan bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata. Doa adalah bentuk penghambaan. Ia merupakan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Dalam banyak kajiannya, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan firman Allah dalam Surah Ghafir ayat 60: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”

Ayat itu bukan sekadar janji. Ayat itu juga menunjukkan hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya.

Doa bukan hanya meminta hasil. Doa adalah menghadirkan Allah dalam setiap ikhtiar. Karena itu, seseorang tetap berdoa meski sudah berlatih maksimal.

Bukan karena kurang percaya diri. Justru karena sadar bahwa usaha manusia tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada pertolongan Allah yang menentukan akhirnya.

Sujud Yamal setelah laga usai juga menyimpan makna. Dalam Islam, sujud adalah posisi paling mulia.

Bukan ketika manusia berdiri tegak. Bukan saat dielu-elukan jutaan orang. Tetapi ketika dahinya menyentuh tanah.

Ironis. Semakin rendah posisi tubuh. Semakin tinggi kedudukannya di hadapan Allah. Itulah sebabnya kemenangan tidak melahirkan kesombongan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kemenangan justru melahirkan rasa syukur. Yamal memilih bersujud. Bukan berlari mencari kamera. Bukan melonjak agar menjadi pusat perhatian.

Bukan pula melakukan selebrasi yang mengundang kontroversi. Dahinya lebih dahulu menyentuh bumi sebelum namanya kembali diteriakkan penonton. Dia lebih dahulu mengingat Tuhan.

***

Sepak bola memang magnet dunia. Tidak ada olahraga yang menyatukan miliaran pasang mata seperti sepak bola.

Piala Dunia bahkan ditonton oleh hampir seluruh penjuru bumi. Lapangan hijau berubah menjadi panggung global.

Apa pun yang dilakukan seorang pemain mudah menjadi pesan. Baik pesan positif. Maupun pesan negatif.

Karena itu, tindakan sederhana seperti berdoa atau bersujud memiliki daya jangkau yang luar biasa. Tanpa ceramah. Tanpa pidato. Tanpa debat.

Orang melihat. Lalu bertanya. Mengapa ia melakukan itu? Pertanyaan itulah awal dari sebuah dakwah.

Dunia pernah menyaksikan hal serupa melalui Mohamed Salah. Ketika bersinar bersama Liverpool, Salah tidak hanya mencetak gol. Dia juga memperlihatkan akhlak.

Dia rutin bersujud setiap selesai mencetak gol. Dia dikenal rendah hati. Dekat dengan keluarga. Menghormati lawan. Tidak gemar membuat sensasi.

Menariknya, berbagai penelitian di Inggris menunjukkan bahwa popularitas Salah beriringan dengan menurunnya sentimen anti-Muslim di kalangan pendukung Liverpool.

Salah ternyata tidak hanya mengubah papan skor. Ia juga mengubah cara orang memandang Islam. Penelitian Immigration Policy Lab Universitas Stanford mencatat, sejak Salah datang ke Liverpool pada musim panas 2017, kejahatan kebencian terhadap Muslim di Merseyside turun 18,9 persen. Ujaran anti-Muslim di media sosial pun menyusut hingga separuhnya.

Salah tidak pernah berkhotbah di stadion. Dia hanya menjadi Muslim yang baik. Ternyata itu sudah cukup menjadi dakwah.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Yamal. Doa tidak mengurangi profesionalisme. Justru menguatkannya.

Iman tidak menghalangi prestasi. Justru memberi arah bagi prestasi. Sebab kemenangan bukan hanya soal mengangkat trofi. Tetapi juga menjaga hati agar tetap menunduk ketika dunia sedang berdiri memberi tepuk tangan.

Barangkali, itulah mengapa video sujud Yamal terasa lebih indah daripada gol-gol yang tercipta di final.

Gol hanya mengubah skor. Doa mengubah cara kita memandang kemenangan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 20/07/2026 22:23
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu