Selembar kertas origami di tangan siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 1&2 Taman (SD Mumtaz), Kamis (10/9/2026), berubah menjadi sebuah sapu mungil. Melalui aktivitas sederhana ini, siswa belajar mengenal alat kebersihan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari kegiatan Hizbul Wathan (HW) kelas 1. Pembelajaran dikemas secara kreatif dan menyenangkan agar siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui aktivitas yang dekat dengan dunia anak.
Koordinator Guru Kelas 1 Azaliyatul Jannah, S.Pd., mengatakan pembelajaran HW kali ini dirancang untuk mengenalkan kebiasaan menjaga kebersihan dengan cara yang menyenangkan.
“Ini adalah kegiatan HW kelas 1. Kami mengajak anak-anak belajar tentang kebersihan dengan cara yang unik dan menyenangkan, yaitu membuat sapu dari kertas lipat atau origami,” tuturnya sambil tersenyum.
Belajar Kebersihan melalui Kreativitas
Siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan. Mereka melipat, menyusun, dan membentuk kertas origami hingga menjadi karya berbentuk sapu.
Bagi siswa kelas 1, aktivitas tersebut menjadi pengalaman belajar yang menarik. Selain melatih kreativitas dan ketelitian, mereka juga mengenal salah satu alat yang digunakan untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Guru mengajak siswa memahami bahwa menjaga kebersihan sekolah merupakan tanggung jawab bersama. Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kerapian kelas, serta menggunakan fasilitas sekolah dengan baik perlu ditanamkan sejak dini.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena siswa SD MUMTAZ kini belajar di gedung baru dengan fasilitas yang lebih lengkap dan lingkungan yang nyaman.
Gedung yang megah tentu menjadi kebanggaan. Namun, fasilitas yang baik juga perlu dirawat agar tetap bersih, nyaman, dan dapat digunakan dalam jangka panjang. Kesadaran untuk merawat lingkungan pun perlu dibangun sejak anak berada di kelas 1.
Karena itu, pembiasaan menjaga kebersihan tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Anak perlu diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka.
“Aku Bisa Membuat Sapu Sendiri”
Bagi siswa, membuat sapu origami tidak hanya memberikan pemahaman tentang kebersihan. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba, berkreasi, dan menyelesaikan karya secara mandiri.
Hal itu dirasakan Gendhis Mahira Padmasari Widiarsa, siswa kelas 1D. Ia mengaku senang karena berhasil membuat sapu origami sendiri.
“Seru sekali. Aku bisa membuat sapu sendiri tanpa dibantu Bu Guru,” tuturnya dengan senyum merekah.
Hal serupa juga diungkapkan Alevard Brahmana Aditya, siswa kelas 1A. Ia merasa senang karena dapat membuat sapu dari origami menggunakan warna kesukaannya sendiri.
“Aku bisa buat sapu dari origami dengan warna kesukaanku sendiri,” katanya sambil tersenyum malu-malu.
Dua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa aktivitas sederhana dapat memberikan ruang bagi siswa untuk belajar mandiri sekaligus mengekspresikan kreativitas. Mereka belajar mengikuti langkah-langkah, mencoba sendiri, dan menyelesaikan karya hingga tuntas.
Menanamkan Kepedulian Sejak Dini
Kegiatan HW tersebut menjadi salah satu sarana SD MUMTAZ dalam menanamkan pendidikan karakter melalui aktivitas yang menyenangkan. Kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh melalui pengalaman sederhana seperti ini.
Sapu origami yang dibuat siswa memang bukan alat yang digunakan untuk membersihkan lantai. Namun, karya tersebut menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan fungsi alat kebersihan sekaligus membangun kesadaran menjaga lingkungan.
Melalui aktivitas ini, siswa belajar bahwa kebersihan sekolah bukan hanya tanggung jawab guru atau petugas kebersihan. Mereka pun memiliki peran untuk menjaga ruang belajar dan lingkungan sekolah tetap bersih dan nyaman.
Pembiasaan tersebut diharapkan terus diterapkan dalam keseharian siswa, baik saat berada di kelas, halaman sekolah, maupun di rumah.
Sebab, kepedulian terhadap kebersihan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Ia dapat tumbuh dari aktivitas sederhana, dari tangan-tangan kecil, dan dari kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments