Sebanyak 53 siswa SMA Muhammadiyah 3 Tulangan (Smamuga) Sidoarjo yang telah dinyatakan lolos sertifikasi Ummi mengikuti program magang di amal usaha pendidikan Muhammadiyah.
Tak sekadar mengasah kemampuan membaca Al-Quran, program magang ini melatih tanggung jawab, kesabaran, empati, kedisiplinan, dan keteladanan siswa dalam menghadapi peserta didik secara langsung.
Program magang berlangsung selama dua pekan, mulai Selasa (8/9/2026). Para siswa ditempatkan di dua sekolah, yakni SD Muhammadiyah 2 (Muda) Tulangan dan SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi).
Koordinator Ummi Smamuga Masyrifatul Hidayah menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang agar siswa mendapatkan pengalaman nyata dalam menerapkan ilmu yang selama ini mereka pelajari.
“Perubahan karakter yang paling menonjol adalah tanggung jawab. Dengan adanya program ini, anak-anak belajar bertanggung jawab terhadap dirinya, waktunya, dan peserta didiknya,” ungkap Masyrifatul kepada PWMU.CO melalui WhatsApp, Kamis (10/9/2026).
Dalam pelaksanaannya, para siswa tidak langsung diterjunkan untuk mengajar. Mereka terlebih dahulu mengikuti observasi kelas pada hari pertama untuk mengenali situasi dan karakter peserta didik yang akan mereka dampingi.
“Di hari pertama, Senin, dilaksanakan kegiatan observasi kelas yang akan dimasuki. Hal ini bertujuan untuk melihat dan membaca situasi kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah tersebut,” jelasnya.
Setelah observasi, siswa mulai melaksanakan praktik mengajar. Dalam satu pekan, mereka bertugas selama tiga hari, yakni Selasa hingga Kamis. Pekan pertama dilaksanakan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan, sedangkan pekan berikutnya di SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo.
Setiap hari, sebanyak 18 siswa bertugas secara bergantian selama tiga hari berturut-turut. Selama menjalankan tugas, mereka mendapat pendampingan dari guru Ummi Smamuga, yakni Ustadzah Masyrifatul Hidayah, Ustadzah Ainun, Ustadzah Dwi, dan Ustadz Sa’ad.
Menurut Masyrifatul, pengalaman praktik mengajar sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru bagi siswa. Sebelum magang, mereka telah memperoleh bekal mengajar dan pendampingan dari ustadz maupun ustadzah pengampu di Smamuga.
“Anak-anak sudah beberapa kali mendapatkan bekal mengajar di sekolah sendiri dan pendampingan dari ustadz/ustadzah pengampuhnya. Maka, ketika praktik mengajar dan melihat langsung peserta didik dengan berbagai macam problem, pola tersebut terbentuk dengan sendirinya,” ujarnya.
Mengajar anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Setiap peserta didik mempunyai karakter, kemampuan, dan tingkat konsentrasi yang berbeda.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, siswa dibekali sistem pembelajaran Ummi yang terstruktur. Masyrifatul menjelaskan, pembelajaran menggunakan beberapa tahapan agar kegiatan berlangsung efektif dan peserta didik tetap terkondisikan.
Tahapan tersebut meliputi pembukaan selama lima menit yang diisi salam, menanyakan kabar, dan doa; apersepsi serta penanaman hafalan selama sepuluh menit; klasikal alat peraga selama sepuluh menit; baca simak murni selama 30 menit; serta penutup berupa drill dan doa.
“Dari waktu yang sudah terstruktur dengan baik dan rapi tersebut, insyaallah anak akan terkondisikan dengan baik sehingga tidak ada waktu yang teralihkan,” katanya.
Namun, struktur pembelajaran saja tidak cukup. Para siswa juga dituntut mampu membangun komunikasi yang menyenangkan dengan peserta didik.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah bahasa pengakuan, yakni memberikan apresiasi secara verbal ketika anak mampu membaca dengan lancar atau berhasil menghafalkan materi.
“Untuk komunikasi agar menjadi menarik dan anak tetap semangat, ada yang namanya bahasa pengakuan. Guru memberikan apresiasi ketika anak tersebut lancar membaca atau sudah bagus hafalannya,” terangnya.
Bagi Masyrifatul, menjadi pengajar Al-Quran berarti harus mampu memberikan contoh secara langsung. Karena itu, siswa magang tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga menjaga sikap dan perilakunya.
“Prinsip keteladanan hanya bisa disampaikan lewat tindakan secara langsung, baik ucapan maupun perbuatan,” tuturnya.
Karena itu, siswa diingatkan untuk selalu bersikap sopan, santun, dan memberikan bahasa pengakuan kepada peserta didik.
Selain itu, mereka juga dibiasakan menerapkan prinsip 3S, yakni salam, sapa, dan senyum.
Kedisiplinan juga menjadi perhatian. Para siswa harus hadir tepat waktu dan diupayakan datang lebih dahulu daripada peserta didik yang mereka dampingi.
“Guru datang lebih dulu daripada siswa sehingga siswa tidak menunggu,” jelasnya.
Pengalaman magang mempertemukan siswa dengan tantangan yang tidak selalu mereka temukan ketika belajar di kelas Smamuga.
Salah satu tantangan yang muncul adalah adanya perbedaan sistem pelaksanaan pembelajaran meskipun sama-sama menggunakan metode Ummi.
“Kalau di Smamuga menggunakan baca simak murni, sedangkan di SD Muda menggunakan baca simak. Jilidnya sama, namun halamannya berbeda. Hal ini menjadikan anak-anak harus membagi fokus dalam mengajar,” ungkap Masyrifatul.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar siswa. Mereka dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan situasi pembelajaran yang dihadapi.
Keberhasilan siswa dalam mengikuti program magang tidak hanya dilihat dari kemampuan membaca Al-Quran.
Sebelum dinyatakan layak mengikuti magang, siswa harus memenuhi persyaratan berupa kelancaran membaca sekaligus ketuntasan materi. Sementara ketika berada di lokasi magang, penilaian dilakukan oleh supervisor atau guru di sekolah tempat mereka bertugas.
“Kalau indikator untuk layak magang selain kelancaran adalah ketuntasan materi. Kalau indikator untuk sukses magang adalah penilaian dari supervisor, dalam hal ini adalah guru di tempat sekolah yang dibuat magang,” jelasnya.
Ia bersyukur, berdasarkan penilaian selama tiga hari pelaksanaan magang, rata-rata nilai siswa Smamuga mendapatkan hasil yang baik.
Bagi para pendamping, proses evaluasi tidak harus selalu berlangsung dalam forum khusus. Seusai mengajar, guru tetap melakukan komunikasi dengan siswa untuk mengetahui pengalaman dan kendala yang mereka hadapi.
“Setelah mengajar biasanya kami menanyakan kepada anak-anak, bagaimana pengalaman mengajar tadi? Adakah kendala dan lain-lain. Serta memotivasi mereka untuk lebih baik lagi,” katanya.
Program ini pada akhirnya bukan sekadar praktik mengajar Al-Quran. Para siswa Smamuga belajar memahami bahwa menjadi seorang pendidik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan materi.
Mereka belajar hadir tepat waktu, berkomunikasi dengan santun, bersabar menghadapi perbedaan karakter, memberikan apresiasi, sekaligus bertanggung jawab terhadap peserta didik yang berada di hadapannya.
Dari ruang-ruang kelas sekolah Muhammadiyah itulah, 53 siswa Smamuga mendapatkan pengalaman berharga: bahwa mengajar bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga tentang keteladanan yang ditunjukkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments