Ada pengalaman baru yang sedang dijalani Sebastiana Bwarleling. Ia kuliah. Di Yogyakarta. Program studinya D3 Radiologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Yang menarik bukan hanya jurusannya. Tetapi siapa Sebastiana. Ia seorang biarawati Katolik. Anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado.
Ia berasal dari Kepulauan Tanimbar, Maluku. Kini ia berada di tengah kampus yang mayoritas mahasiswanya Muslim.
Tidak ada masalah. Setidaknya begitulah yang ia rasakan. Sebastiana justru menemukan pengalaman baru.
Belajar bersama. Berinteraksi bersama. Bertemu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.
Ia merasa ada ruang. Ruang untuk belajar. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Kenapa memilih Unisa Yogyakarta? Jawabannya sederhana. Radiologi. Ia memang ingin belajar radiologi.
Sebelum menentukan pilihan, ia mencari kampus di Yogyakarta. Lalu menemukan Unisa. Fasilitasnya memadai. Itu menjadi pertimbangan penting.
“Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai,” katanya saat pembukaan Masa Ta’aruf Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Ada kata “yang kedua”. Berarti ada pertimbangan pertama. Pendidikan kesehatan.
Itulah yang dicari Sebastiana. Bukan kampus berdasarkan agama mahasiswanya. Bukan pula kampus berdasarkan siapa yang paling banyak jumlahnya.
Ia mencari tempat belajar. Dan ia menemukannya di kampus Muhammadiyah.
***
Sebastiana bukan mahasiswa non-Muslim pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA). Jauh dari itu.
Di Indonesia Timur, fenomenanya bahkan sudah biasa. Universitas Muhammadiyah Kupang salah satunya.
Mahasiswa non-Muslim menjadi bagian besar dari kehidupan kampus. Mereka belajar. Mereka berdiskusi. Mereka berorganisasi. Mereka lulus.
Di Papua juga begitu. Kampus-kampus Muhammadiyah menerima banyak mahasiswa non-Muslim. Terutama putra-putri asli Papua. Di sana Muhammadiyah tumbuh di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim.
Di Manado juga demikian. Di Maumere juga. Nama Muhammadiyah tetap ada di depan. Tetapi mahasiswa yang masuk tidak harus beragama Islam.
Ini menarik. Sebab pendidikan sering kali menjadi tempat pertama orang belajar hidup bersama.
Bukan hanya belajar mata kuliah. Ada lima hal yang menurut saya penting dari fenomena ini.
Pertama, kampus Muhammadiyah tidak hanya untuk orang Muhammadiyah. Ini kelihatannya sederhana.
Tetapi tidak semua organisasi bisa melakukannya. Sekolah dibangun. Kampus dibangun. Rumah sakit dibangun. Lalu masyarakat dipersilakan datang. Siapa saja.
Kedua, perbedaan agama tidak otomatis menjadi penghalang belajar. Sebastiana tetap Katolik. Teman-temannya banyak yang Muslim. Mereka tetap satu kelas. Bisa jadi satu kelompok. Mengerjakan tugas bersama. Saling membutuhkan.
Begitulah toleransi yang paling nyata. Bukan seminar tentang toleransi. Tetapi duduk satu meja.
Ketiga, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai pintu masuk ke masyarakat. Pintunya lebar. Yang datang tidak selalu orang yang sama. Ada Muslim. Ada Katolik. Ada Protestan. Ada Hindu.
Ada yang berasal dari Jawa. Ada yang datang dari Papua. Ada yang dari kepulauan kecil di Maluku. Mereka datang membawa latar belakang masing-masing. Lalu bertemu di ruang kuliah.
Keempat, kualitas tetap menjadi alasan utama orang memilih kampus. Ini yang sering terlupakan. Sebastiana memilih radiologi. Ia mencari fasilitas. Ia mencari tempat belajar yang mendukung minatnya.
Agamanya berbeda dengan mayoritas mahasiswa. Tetapi kebutuhan belajarnya sama. Ia ingin menjadi tenaga profesional. Ia ingin memiliki keahlian.
Kelima, inklusivitas tidak harus banyak bicara. Kadang cukup membuka pintu. Lalu membiarkan orang masuk. Mereka belajar bersama. Itu saja. Ada sesuatu yang lebih besar dari cerita Sebastiana.
***
Indonesia memang seperti itu. Berbeda agama. Berbeda suku. Berbeda bahasa. Tetapi bisa kuliah bersama. Bisa bekerja bersama. Bisa makan bersama. Bahkan bisa saling menolong.
Muhammadiyah sudah mengalami itu selama puluhan tahun. Terutama di wilayah yang penduduknya mayoritas non-Muslim. Di sana teori tentang keberagaman tidak terlalu penting. Yang penting praktiknya.
Apakah mahasiswa non-Muslim merasa nyaman? Apakah mereka bisa belajar dengan baik? Apakah mereka mendapat ruang?
Apakah mereka bisa menyelesaikan pendidikan tanpa harus meninggalkan keyakinannya?
Sebastiana memberi jawaban kecil. Ia memilih datang. Ia memilih belajar. Di kampus Muhammadiyah.
Ia seorang biarawati. Teman-temannya mayoritas Muslim. Tidak perlu ada yang berubah menjadi orang lain. Mereka hanya perlu menjadi mahasiswa. Sama-sama belajar. Sama-sama mengejar masa depan.
Mungkin begitulah seharusnya sebuah kampus bekerja. Tidak bertanya lebih dulu:
“Kamu agamanya apa?”
Tetapi: “Kamu ingin belajar apa?”
Lalu pintu dibuka. Silakan masuk. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments