Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Karung Kosong, Pelajaran Penuh: Catatan Mahasiswa PLP dari Jumat Bersih di SMP Negeri 54 Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Karung Kosong, Pelajaran Penuh: Catatan Mahasiswa PLP dari Jumat Bersih di SMP Negeri 54 Surabaya
Dok: Putri Aditiya
Oleh : Putri Aditiya Mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Surabaya yang menjalani PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan) di SMP Negeri 54 Surabaya

Jumat pagi menjadi salah satu pengalaman yang berkesan selama kami menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SMP Negeri 54 Surabaya. Dengan membawa karung dan sarung tangan, kami mengikuti kegiatan Jumat Bersih sekaligus menyusuri lingkungan sekolah untuk mencari sampah plastik. Sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi Umsura yang sedang belajar mengenal kehidupan sekolah secara langsung, kami membayangkan akan pulang dengan karung penuh dan bahan diskusi yang melimpah.

Namun, dugaan itu justru berbalik. Setelah menyisir halaman, taman, hingga sudut-sudut sekolah bersama siswa, karung yang kami bawa nyaris kosong. Sampah plastik yang kami temukan saat penyisiran ternyata sangat sedikit.

Awalnya kami heran. Namun, rasa heran itu berubah menjadi rasa penasaran. Mengapa sampah plastik yang ditemukan begitu sedikit? Apakah ada kebiasaan tertentu yang membuat lingkungan sekolah tetap terjaga? Pertanyaan sederhana itu membuat kegiatan Jumat Bersih bagi kami tidak lagi sekadar kegiatan rutin. Sebagai mahasiswa PLP Umsura, kami mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk memahami bagaimana aturan, kebiasaan, dan keteladanan diterapkan dalam kehidupan sekolah.

Kami Turun Langsung, Bukan Hanya Mengamati

Sejak awal PLP, kami dilibatkan langsung dalam kegiatan rutin Jumat Bersih dan buru sampah plastik. Kami membagi siswa ke dalam kelompok, mengarahkan area penyisiran, dan ikut menelusuri setiap sudut sekolah bersama mereka. Kami juga mengajak siswa mengamati hasil penyisiran.

Dari karung yang hampir kosong, kami mengajukan pertanyaan sederhana, “Mengapa sampah plastiknya sedikit?” Siswa mulai menebak, berdiskusi, dan mencari jawabannya.

Bagi kami, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu harus dimulai dari penjelasan guru. Pertanyaan sederhana dan pengalaman langsung dapat mendorong siswa untuk mengamati dan berdiskusi. Di saat yang sama, kami sebagai mahasiswa PLP Umsura juga belajar bahwa berada di sekolah bukan hanya tentang mengamati pembelajaran, tetapi ikut terlibat dalam kehidupan sekolah.

Menjadi Bagian dari Aturan Sekolah

Rasa penasaran kami membawa kami pada satu kesadaran: kami bukan tamu yang dikecualikan dari aturan. Setiap pulang sekolah, siswa diminta menunjukkan sampah plastik yang mereka bawa dari luar, lalu membawanya pulang. Aturan tersebut juga berlaku bagi kami. Bungkus atau botol plastik yang kami bawa dari luar tidak boleh ditinggalkan di sekolah.

Kebiasaan serupa kami temukan di kantin. Kantin tidak menyediakan plastik. Siswa dan warga sekolah yang membeli minuman membawa tumbler sendiri, sementara jajanan dibungkus dengan kertas atau daun pisang. Kami pun menyesuaikan diri, mulai membawa tumbler hingga membawa pulang sampah plastik bawaan sendiri.

Dari sini kami belajar bahwa memahami budaya sekolah tidak cukup hanya dengan mengamati. Kami perlu ikut menjalankan kebiasaan yang berlaku. Sebagai calon guru, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keteladanan dimulai dari diri sendiri.

Belajar dari Kepala Sekolah: Biasa, Bisa, Terbiasa

Untuk memahami latar belakang kebiasaan tersebut, kami mewawancarai Kepala SMP Negeri 54 Surabaya, Bapak Muhamad Jemadi, S.Ag., M.A. Beliau menjelaskan bahwa kebiasaan ini tidak terbentuk dalam sekejap. Prosesnya berjalan melalui tiga tahap: biasa, bisa, lalu terbiasa. Siswa menjalankannya secara rutin hingga menjadi hal yang biasa, kemudian mereka menjadi bisa, dan akhirnya terbiasa.

SMPM 5 Pucang SBY

Beliau juga mengakui bahwa pelanggaran masih terjadi. Namun, pembiasaan yang dijalankan setiap hari membuat kebiasaan itu perlahan mengakar. Hal yang paling membekas bagi kami adalah Bapak Jemadi juga turun tangan sendiri untuk memberikan contoh.

Sebagai calon guru, kami mencatat pelajaran ini baik-baik: pembiasaan akan lebih bermakna ketika orang yang memberikan arahan juga ikut menjalankannya. Pendidikan ternyata tidak hanya berlangsung melalui materi di kelas, tetapi juga melalui aturan, kebiasaan, dan keteladanan.

Biologi di Balik Karung Kosong

Sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi, kami melihat pengalaman ini dari sudut pandang ekologi. Sampah plastik yang lolos ke lingkungan dapat terbawa air hujan ke saluran dan sungai, lalu terpecah menjadi mikroplastik yang berpotensi termakan organisme perairan dan masuk ke rantai makanan. Karena itu, mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan.

Dalam diskusi bersama siswa, kami mengaitkan pengalaman tersebut dengan materi pencemaran lingkungan dan peran manusia dalam ekosistem. Karung yang nyaris kosong justru menjadi contoh nyata bahwa menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan dengan memungut sampah, tetapi juga dengan membangun kebiasaan untuk mengurangi sampah sejak awal.

Yang Kami Bawa Pulang sebagai Calon Guru

Pengalaman ini mengubah cara kami memandang Jumat Bersih. Keberhasilan kegiatan tidak selalu diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul. Karung yang hampir kosong justru membuat kami bertanya, mengamati, dan belajar memahami kebiasaan yang telah dibangun di sekolah.

Bagi kami, PLP di SMP Negeri 54 Surabaya mengajarkan bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi di dalam kelas. Guru juga menjadi bagian dari budaya sekolah, termasuk dalam membangun kebiasaan peduli terhadap lingkungan.

Kami mungkin pulang dengan karung yang nyaris kosong. Namun, sebagai mahasiswa PLP Umsura, kami membawa pulang pelajaran yang penuh: tentang pentingnya keterlibatan, konsistensi, dan keteladanan. Menjaga lingkungan ternyata bisa dimulai dari hal sederhana, membawa pulang sampah sendiri.

Revisi Oleh:
  • Satria - 09/10/2026 09:01
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu