Ada orang yang sudah memiliki rumah, tetapi masih gelisah melihat rumah tetangganya. Sudah punya kendaraan, tetapi belum puas sebelum kendaraannya lebih mahal daripada milik orang lain. Penghasilannya cukup, bahkan berlebih. Namun, hatinya selalu merasa kurang.
Yang dimiliki belum membuatnya tenang. Yang belum dimiliki terus mengusik pikirannya.
Begitulah keserakahan bekerja. Pelan-pelan. Tidak selalu terlihat. Bahkan, kadang dibungkus dengan alasan yang terdengar masuk akal.
Keinginan memiliki lebih banyak sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Manusia boleh bekerja keras. Boleh mengejar cita-cita. Boleh memperbaiki kehidupan. Tetapi, ada batas yang tidak boleh dilanggar. Ada hak orang lain yang harus dihormati. Ada kejujuran yang tidak boleh dikorbankan.
Masalahnya muncul ketika keinginan tidak lagi dikendalikan oleh akal dan iman.
Orang mulai mengambil yang bukan haknya. Menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Membela kesalahan karena pelakunya orang dekat. Bahkan, bergunjing ke sana kemari untuk mencari pembenaran. Bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan agar dirinya tampak benar.
Begitulah ketika nafsu mengambil alih kemudi. Hati tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar. Hati hanya sibuk mencari alasan agar keinginannya terpenuhi.
Yang salah dicari pembenarannya. Yang bukan haknya dicari cara untuk memilikinya. Yang semestinya dilepaskan justru dipertahankan mati-matian.
Padahal, hidup bukan semata-mata tentang mendapatkan sesuatu. Hidup juga tentang kemampuan menahan diri.
Ketika Dunia Terasa Terlalu Berharga
Bayangkan seorang lelaki yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengumpulkan harta. Pagi berangkat ketika anak-anaknya belum bangun. Malam pulang ketika mereka sudah tertidur. Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Ia beralasan sedang menyiapkan masa depan keluarga.
Alasan itu mungkin benar. Namun, tanpa disadari, masa depan yang ingin disiapkannya justru membuatnya kehilangan banyak hal pada hari ini. Waktu bersama keluarga berkurang. Ibadah sering ditunda. Hubungan dengan saudara merenggang karena urusan warisan dan harta. Ketenangan hilang karena selalu takut kehilangan apa yang telah dikumpulkan.
Sampai suatu hari, ia menyaksikan seorang kenalan yang selama ini tampak sehat dan berkecukupan meninggal dunia secara mendadak.
Rumah yang dahulu ramai mendadak dipenuhi suara lirih. Orang-orang datang untuk menyampaikan belasungkawa. Tidak ada lagi pembicaraan tentang rencana bisnis, kendaraan baru, atau target kekayaan. Semua terdiam di hadapan kenyataan yang tidak bisa ditawar.
Jenazah itu kemudian dimandikan, dikafani, disalatkan, lalu diantar ke pemakaman.
Harta yang dikumpulkan semasa hidup tetap tinggal. Urusan yang belum selesai ditinggalkan. Jabatan yang dibanggakan beralih kepada orang lain. Tubuh yang dahulu dijaga dengan berbagai cara akhirnya dibaringkan di dalam tanah.
Kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa kematian tidak pernah meminta izin kepada manusia untuk datang. Ia tidak menunggu seseorang selesai mengumpulkan kekayaan. Tidak pula menunggu semua keinginannya terpenuhi.
Kita boleh merencanakan hidup selama puluhan tahun. Namun, tidak seorang pun mengetahui berapa lama lagi kesempatan itu diberikan.
Dunia ini tempat kita menjalani kehidupan sekaligus menyiapkan kepulangan. Bukan tempat tinggal yang abadi.
Lembah Emas yang Tak Pernah Cukup
Rasulullah saw telah mengingatkan manusia tentang tabiat yang sulit merasa cukup. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya. Tidak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah. Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.”
Hadis ini menggambarkan betapa panjangnya daftar keinginan manusia.
Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Satu target tercapai, target lain segera dibuat. Mendapatkan sedikit, ingin lebih banyak. Mendapatkan banyak, ingin lebih banyak lagi.
Jika tidak dikendalikan, keinginan itu bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.
Ironisnya, manusia terkadang rela kehilangan ketenangan demi sesuatu yang belum tentu membuatnya bahagia. Ia bersedia merusak persaudaraan demi harta. Mengorbankan kejujuran demi keuntungan. Bahkan, menutup mata terhadap penderitaan orang lain demi mempertahankan kenyamanan sendiri.
Padahal, tidak semua yang bisa dimiliki harus dimiliki. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua keinginan harus dituruti.
Ada saatnya kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apakah yang sedang saya kejar benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang tidak pernah selesai?
Apakah cara yang saya tempuh sudah benar? Apakah keuntungan yang saya dapatkan sebanding dengan hak orang lain yang mungkin saya abaikan?
Dan yang lebih penting, jika hari ini Allah memanggil saya pulang, bekal apa yang sudah saya siapkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana. Namun, terkadang kita justru menghindarinya karena jawabannya membuat kita harus mengubah banyak hal.
Dunia adalah Ladang, Bukan Tujuan Akhir
Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia. Harta bukan musuh. Kekayaan bukan dosa. Kedudukan bukan sesuatu yang harus dijauhi selama diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan untuk kebaikan.
Kita membutuhkan harta untuk menghidupi keluarga. Kita membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan. Kita juga boleh berusaha menjadi lebih baik dan lebih sejahtera.
Namun, jangan sampai alat berubah menjadi tujuan. Jangan sampai harta yang seharusnya berada di tangan justru menguasai hati.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Qasas ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Kita diperintahkan mencari kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan kehidupan dunia. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan ditata agar berjalan pada jalan yang diridai Allah.
Bekerja bisa menjadi ibadah ketika dilakukan dengan jujur. Mencari nafkah menjadi amal saleh ketika diniatkan untuk memenuhi tanggung jawab. Membantu orang lain menjadi bekal akhirat ketika dilakukan dengan ikhlas.
Sebaliknya, sesuatu yang tampak menguntungkan di dunia bisa menjadi kerugian apabila diperoleh melalui penipuan, mengambil hak orang lain, atau mengkhianati amanah.
Karena itu, ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: dari mana kita mendapatkannya, bagaimana kita menggunakannya, dan berapa banyak kebaikan yang lahir darinya?
Belajar Merasa Cukup
Ada orang yang hartanya tidak seberapa, tetapi hidupnya terasa lapang. Ia bekerja dengan tekun, memenuhi kebutuhan keluarganya, membayar kewajibannya, dan masih menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu orang lain.
Ada pula orang yang hartanya berlimpah, tetapi hidupnya terus dibayangi kecemasan. Takut tersaingi. Takut kehilangan. Takut orang lain mendapatkan lebih banyak darinya.
Perbedaannya bukan selalu terletak pada jumlah harta. Bisa jadi, perbedaannya ada pada hati.
Di sinilah pentingnya qanaah: menerima dengan lapang apa yang Allah karuniakan, tanpa berhenti berusaha dan tanpa kehilangan rasa syukur.
Qanaah bukan alasan untuk bermalas-malasan. Bukan pula sikap menyerah terhadap keadaan. Qanaah adalah kemampuan untuk tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan.
Orang yang qanaah tetap bekerja keras. Namun, ia tahu kapan harus merasa cukup. Ia boleh memiliki cita-cita tinggi, tetapi tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk membenci. Ia boleh mengumpulkan kekayaan, tetapi tidak menganggap dirinya lebih mulia daripada orang yang hartanya lebih sedikit.
Ia juga memahami bahwa rezeki bukan hanya uang. Kesehatan, keluarga yang menyayangi, sahabat yang tulus, kesempatan beribadah, dan hati yang tenteram adalah karunia yang sering kali luput dari hitungan kita.
Bukankah banyak hal berharga dalam hidup ini tidak bisa dibeli dengan uang?
Maka, sesekali kita perlu berhenti mengejar. Bukan karena menyerah, melainkan untuk memeriksa kembali arah perjalanan.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengisi rekening, tetapi lupa mengisi tabungan amal. Jangan sampai kita begitu takut jatuh miskin, tetapi tidak takut kehilangan kejujuran. Jangan sampai kita begitu serius mempersiapkan masa pensiun, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Pada akhirnya, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Rumah, kendaraan, jabatan, tabungan, dan segala kebanggaan dunia tidak ikut masuk ke liang lahat. Kita pulang membawa amal dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Kain kafan tidak memiliki saku. Tidak ada harta yang bisa disimpan di dalamnya. Tidak ada gelar yang membuat manusia lebih mulia di hadapan Allah tanpa iman dan amal saleh.
Karena itu, ingatlah akhirat ketika dunia mulai terasa terlalu memikat. Ingatlah kematian ketika keinginan terasa tidak terbendung. Ingatlah hak orang lain ketika keuntungan begitu menggiurkan.
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu sakit untuk menyadari nikmat sehat. Jangan menunggu kematian mendekat untuk mulai memperbaiki diri.
Dunia boleh kita genggam, tetapi jangan biarkan ia mengikat hati. Harta boleh kita cari, tetapi jangan sampai kita kehilangan keberkahan karena mengejarnya. Keinginan boleh kita rawat, tetapi jangan sampai iman dan akal sehat kita korbankan.
Selagi Allah masih memberi kesempatan hidup, mari kita jadikan dunia sebagai ladang amal. Kita kelola dengan jujur, kita nikmati dengan syukur, dan kita gunakan untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita jiwa yang qanaah. Hati yang merasa cukup atas karunia-Nya, tangan yang ringan berbagi, langkah yang terjaga dari mengambil hak orang lain, serta kehidupan yang dipenuhi amal saleh.
Ya Allah, Yang Mahakaya, karuniakanlah kepada kami hati yang selalu bersyukur atas nikmat-Mu. Jauhkan kami dari keserakahan yang membuat kami tidak pernah merasa cukup, dari keinginan yang mendorong kami menghalalkan segala cara, dan dari kecintaan kepada dunia yang melalaikan kami dari akhirat.
Bimbinglah kami agar harta yang kami miliki menjadi jalan kebaikan, bukan sumber kesombongan. Jadikan sisa umur kami lebih bermanfaat, ibadah kami lebih istikamah, dan kepulangan kami kelak dalam keadaan membawa bekal yang Engkau ridai.
Aamiin ya Rabbal alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments