Pernahkah kita merasa bangga saat membaca kisah kejayaan kaum Muslimin pada masa lalu? Perpustakaan Baghdad pernah menjadi salah satu pusat keilmuan dunia. Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai ilmuwan Muslim yang pemikirannya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Kebanggaan itu tentu tidak salah. Namun, ketika cerita-cerita hebat tersebut hanya berhenti sebagai kebanggaan emosional atau sekadar dongeng pengantar tidur dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), di situlah masalah bermula. Kita kerap terjebak dalam romantisme sejarah: asyik merayakan masa lalu, tetapi gagap merespons persoalan hari ini dan bingung menatap masa depan.
Dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar Ke-48 Muhammadiyah, ditegaskan bahwa dalam perjalanan sejarah yang panjang, pemahaman Islam di kalangan umatnya kerap kehilangan semangat kemajuan dan terjebak dalam kejumudan. Karena itu, diperlukan reorientasi identitas, yakni menggeser cara pandang terhadap sejarah dari sekadar nostalgia menjadi sumber inspirasi dan penggerak peradaban.
Mengapa Romantisme Sejarah Meninabobokan?
Sejarah yang dipelajari secara pasif hanya akan melahirkan generasi pengagum, bukan generasi yang mampu menciptakan sejarah baru. Kita bangga dengan capaian masa lalu, tetapi kerap lupa mengajukan pertanyaan mendasar: mengapa peradaban Islam pada masa itu mampu berkembang pesat? Bagaimana para ilmuwan membangun tradisi keilmuan? Nalar seperti apa yang mereka gunakan untuk melahirkan penemuan dan pemikiran baru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghafal nama tokoh, angka tahun, dinasti, atau peperangan.
Muhammadiyah memandang Islam sebagai din al-hadarah, yakni agama yang mendorong kemajuan peradaban. Islam tidak diturunkan agar pemeluknya terbelenggu dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk mendorong terwujudnya keunggulan hidup, baik lahiriah maupun ruhaniah, di setiap zaman.
Jika SKI hanya diajarkan sebagai mata pelajaran hafalan, siswa berisiko hanya memahami kulit luar sejarah. Padahal, inti mempelajari sejarah adalah menyerap nilai, etos keilmuan, dan rasionalitas yang memungkinkan suatu peradaban tumbuh dan berkembang.
Sejarah seharusnya membantu siswa memahami bahwa kemajuan tidak lahir secara kebetulan. Ada tradisi membaca, keberanian berpikir, keterbukaan terhadap pengetahuan, serta kesediaan menguji dan memperbarui pemahaman yang melandasinya.
Dengan demikian, pembelajaran SKI perlu diarahkan agar siswa tidak hanya mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan apa relevansinya bagi kehidupan sekarang.
Warisan Kiai Dahlan: Pesan Kritis dari Masa Lalu
Pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, meninggalkan pesan yang relevan untuk membangun semangat berkemajuan. Dalam sebuah nasihat berbahasa Jawa, beliau berpesan:
“Dadiyo kyai sing kemajuan lan aja kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah.”
Artinya, jadilah kiai atau cendekiawan yang berkemajuan dan jangan pernah lelah bekerja untuk Muhammadiyah.
Pesan tersebut mengandung makna mendalam. Kiai Dahlan tidak mengajak murid-muridnya sekadar mengenang kejayaan Islam atau meratapi kemunduran umat. Sebaliknya, beliau mendorong lahirnya pribadi yang berpikiran maju, tekun bekerja, dan bersedia melakukan pembaruan demi kemaslahatan umat.
Di sinilah pentingnya pembelajaran SKI di sekolah dan madrasah Muhammadiyah. SKI perlu ditransformasikan dari mata pelajaran hafalan menjadi ruang pembentukan nalar kritis. Siswa tidak cukup hanya mengenal tokoh dan peristiwa sejarah, tetapi juga perlu diajak menganalisis kondisi sosial, tradisi keilmuan, serta keterbukaan berpikir yang mendukung kemajuan para ilmuwan Muslim.
Melalui proses tersebut, siswa dapat memahami bahwa kemajuan peradaban Islam tidak hanya ditopang oleh kebanggaan terhadap identitas keagamaan. Kemajuan juga membutuhkan keberanian berijtihad, semangat tajdid atau pembaruan, dan kesediaan belajar dari berbagai sumber pengetahuan.
Spirit inilah yang perlu diwariskan. Bukan hanya mengagumi siapa yang pernah berjaya, melainkan mempelajari bagaimana mereka membangun keunggulan dan menerapkannya untuk menjawab tantangan zaman.
Dari Memori Sejarah Menuju Aksi Nyata
Bagaimana reorientasi identitas ini diwujudkan dalam kehidupan warga Persyarikatan? Risalah Islam Berkemajuan memberikan landasan untuk menghubungkan pemahaman keislaman dengan gerakan nyata. Setidaknya, ada tiga aspek yang dapat menjadi pijakan.
Pertama, gerakan ilmu. Sejarah menunjukkan pentingnya tradisi literasi, penelitian, dan pengembangan pengetahuan dalam pertumbuhan peradaban. Semangat tersebut dapat diterjemahkan melalui sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai pusat pembelajaran dan pencerahan. Lembaga pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai materi, tetapi juga perlu membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Kedua, gerakan tajdid dan wasathiyah. Pembacaan sejarah secara kritis membantu umat memahami pentingnya pembaruan dan sikap moderat. Wasathiyah tidak berarti kehilangan prinsip, melainkan menempatkan nilai-nilai Islam secara proporsional dalam menghadapi persoalan kehidupan. Dengan cara pandang yang terbuka dan dinamis, umat dapat merespons perubahan tanpa kehilangan pijakan nilai.
Ketiga, gerakan amal nyata. Islam bukan hanya ajaran yang dipahami dan dibicarakan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan. Identitas Muslim berkemajuan tidak berhenti pada wacana, melainkan hadir melalui kerja kemanusiaan, pendidikan, pelayanan sosial, dan berbagai ikhtiar yang membawa manfaat bagi sesama. Nilai-nilai Islam perlu tampak dalam kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.
Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa mempelajari sejarah seharusnya mendorong lahirnya tindakan. Pengetahuan tentang kejayaan masa lalu akan kehilangan maknanya apabila tidak melahirkan semangat untuk memperbaiki keadaan hari ini.
Menyalakan Obor untuk Masa Depan
Menatap sejarah kejayaan Islam dari bangku kelas seharusnya menyadarkan kita bahwa kita adalah pewaris semangat peradaban, bukan sekadar penjaga museum sejarah.
Melalui reorientasi identitas dalam pembelajaran SKI dan penguatan semangat Risalah Islam Berkemajuan, kita perlu mendorong lahirnya generasi muda Muhammadiyah yang percaya diri, berakar kuat pada nilai-nilai Islam, berpikiran terbuka, dan siap mengambil peran dalam membangun peradaban masa depan.
Generasi seperti ini tidak cukup hanya bangga terhadap pencapaian para pendahulunya. Mereka harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, menjawab persoalan masyarakat, serta menghadirkan solusi bagi tantangan yang terus berubah.
Pada akhirnya, sejarah bukanlah tempat untuk bersembunyi dari kenyataan hari ini. Sejarah adalah sumber hikmah untuk memahami perjalanan umat, mengevaluasi kekurangan, dan merancang langkah yang lebih baik.
Masa lalu adalah cermin untuk memetik hikmah, sedangkan masa depan adalah panggung tempat kita mengukir karya.
Watawashau bil-haqqi watawashau bis-shabr.





0 Tanggapan
Empty Comments