Setelah mencermati keberadaan klub Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) yang telah bediri sejak sebelum Indonesia merdeka, saya merasa memiliki legal standing untuk menuangkan analisis tentang sepak bola dalam komunikasi warga Muhammadiyah.
Saya juga mencermati Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang memiliki klub sepak bola kampus.
Keduanya pernah berkompetisi di Liga 4 PSSI, sehingga semakin menguatkan keberanian saya untuk mengaitkannyay dengan lingkungan dakwah kaum puritan Muhammadiyah.
Merokok itu debatable, tetapi sepak bola marketable di Muhammadiyah. Sebenarnya, banyak kader Muhammadiyah yang menjadi perokok berat. Begitu pula banyak kader yang menggandrungi tayangan sepak bola. Hanya saja, keduanya memiliki nasib berbeda.
Tidak mungkin ada dai Muhammadiyah yang berani mengisi ceramah dalam kegiatan organisasi setingkat PRM, PCM, PDAM, atau KOKAM sambil mengisap rokok.
Sebaliknya, seorang dai Muhammadiyah sangat mungkin menyisipkan cerita sepak bola di tengah ceramah agama.
Bahkan, ketika seorang kader Muhammadiyah hendak memilih menantu, boleh jadi ada syarat tidak tertulis bahwa calon menantunya bukan perokok aktif.
Namun, seorang pria lajang yang ingin menikahi putri kader Muhammadiyah tidak perlu gemetar hanya karena memiliki hobi bermain bola.
Pokoknya, keduanya tidak pernah saling bertemu. Penggemar rokok seolah tidak mendapat maaf, sedangkan penggemar sepak bola masih memiliki peluang memperoleh ampunan.
Pesan Tersirat dari Sepak Bola
Sebetulnya, Timnas Denmark pada 1992 sudah wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh. Timnas itu seolah tidak mungkin lagi berprestasi. Denmark kala itu hanya menempati posisi runner-up grup penyisihan, dibawah Yugoslavia menjadi juara grup.
Namun, karena perang, UEFA mendiskualifikasi Yugoslavia. Sehingga Denmark pun lolos ke putaran final kompetisi.
Dunia tidak pernah berharap Denmark bisa berbicara banyak. Namun sesuatu terjadi di luar dugaan nalar.
Denmark mampu melewati babak penyisihan grup, dan secara ajaib memenangi perempat final dan semifinal. Pada partai final, Timnas Jerman harus menangis setelah Denmark keluar sebagai juara.
Lapangan hijau menitipkan pesan lembut kepada kita: tetaplah optimistis ketika untuk sementara waktu kita mengalami kegagalan.
Di tempat lain, sampai detik ini saya masih mengingat tiga menit krusial dalam final UCL 1999.
Bayern München dari Jerman tinggal tiga menit lagi untuk menjuarai UCL karena unggul 1-0 atas Manchester United dari Inggris.
Namun, dalam tiga menit terakhir, MU bangkit dan mencetak dua gol. Sehingga mengantarkan MU yang justru keluar sebagai juara UCL.
Kisah keajaiban pada masa injury time ini sering saya gunakan untuk memotivasi para tamu yang sudah homeless, hopeless, dan speechless.
Terkadang, orang yang berada dalam situasi darurat tidak membutuhkan banyak penjelasan dalil.
Mereka justru membutuhkan pesan sederhana yang menyentuh hati.
Dari lapangan hijau lahir sebuah pesan sederhana: berjuanglah sampai menit terakhir.
Yunani pada 2004 mengajarkan kepada penduduk bumi tentang teamwork atau kerja sama tim. Timnas Yunani datang dengan kualitas skuad yang terbatas tanpa bintang yang menonjol.
Namun, pelatih timnas berdarah Jerman mengajarkan anak asuhnya bermain sebagai sebuah tim, bukan mengandalkan kemampuan individu.
Ketika harus bertahan, semua pemain terlibat. Ketika menyerang, mereka saling membantu. Akhirnya, Timnas Yunani menjadi juara Piala Eropa.
AC Milan sudah unggul 3-0 pada babak pertama. Namun, Liverpool bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 pada babak kedua. Pada akhir laga, Liverpool memenangi adu penalti dan menjuarai UCL 2005.
Sepak bola mengajarkan kepada dunia agar tetap optimistis, meskipun perjalanan hidup sedang kembang-kempis.
Italia pada 2006 memiliki timnas yang compang-camping akibat kasus Calciopoli. Juventus mendapat hukuman turun kasta ke Serie B. Sejumlah pemain inti Juventus pindah ke Barcelona, Madrid, dan klub lainnya. Seluruh negeri pun geger.
Namun, di tengah situasi tersebut, timnas Italia berhasil meraih trofi Piala Dunia 2006 di Jerman. Apalagi, insiden Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi membuat keberhasilan timnas Italia itu semakin melekat dalam ingatan.
Lapangan hijau berbisik kepada kita: terkadang, masalah merupakan tantangan. Jika kita sanggup melewatinya, Tuhan telah menyiapkan kesuksesan yang tidak terduga.





0 Tanggapan
Empty Comments