Semua orang mukmin ingin sukses di dunia maupun akhirat, sebab sukses itu sendiri sangat diidamkan setiap orang.
Bahkan di dalam Al Qur-an terdapat permohonan sukses dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam QS Al-Baqarah ayat 201:
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Setiap orang mukmin yang mendambakan sukses dunia dan akhirat, berarti membenci dengan segala tindakan yang membawa kegagalan yang berakibat pendereritaan dan kesengsaraan hidup. Al-Qur’an menyebutkan beberapa sebab keberuntungan atau kemenangan, antara lain:
Pertama, Orang yang mensucikan jiwanya. Sebagimana firman-Nya, dalam surat Asy Syam ayat 9-10: Allah memberikan keterangan dengan jelas tentang orang yang beruntung dan orang yang rugi:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”.
Mensucikan jiwa dengan melakukan segala perbuatan yang terpuji, dan menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela.
Kesuciannya dari dosa -dosa membuat pikiran jernih, setiap kata-kata ditata membuat pendengarnya terkesima.
Ini bukan angan-angan tetapi efek kesucian dari dosa menjadikan semua tindakan membawa manfaat sesama.
Sebaliknya, orang mengotori jiwanya kesomnongan, kedengkian, keangkuhan adu domba dan perilaku kotor lainnya akan membawa kegagalan hidup dalam arti yang sebenrnya.
Kedua, Orang-orang mukmin yang terbiasa khusyuk, dan menjauhi perkataan dan perbutan yàng sia-sia. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, surat Al Mu’minun ayat 2-3:
“Orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia”.
Dalam Zubdatut Tafsir diterangkan orang yang khusyuk yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Adapun makna khusyu’ dalam shalat adalah merendahkan diri dan tunduk di hadapan Allah.
Dan pendapat lain mengatakan maknanya adalah tenang dan tidak melakukan hal yang tidak berhubungan dengan shalat. Sedangkan menjauhi dari perbuatan dan pertaan yang sia-sia adalah segala perkataan dan perbuatan sia-sia, senda gurau, maksiat, dan tidak baik.
Dan berpaling dari perkataan dan perbuatan ini adalah dengan menjauhinya dan tidak menengok kepadanya.
Ketiga, orang yang beruntung yakni orang yang mendapat petunjuk dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Orang yang mendàpat petunjuk dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala tentu akan mematuhi segala perintàh dàn menjauhi segala yang dilarang-Nya.
Sehingga dibimbing ke jalan yang benar dan menjadilah orang yang keberuntungan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 5 disebutkan:
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.
Keempat, orang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu akan melaksanakan perintah dan menjàuhi larangan-Nya.
Bahkan melakukan hubungan baik kepada sesama dan rela berkorban sebagai bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman dalam Al Ahzab ayat 71:
“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.
Menurut Tafsir menyebutkan:” Barangsiapa menaati Allah dan rasulNya dalam perintah dan larangan, maka dia telah beruntung dengan mendapatkan kehormatan besar di dunia dan di akhirat”.
Keberuntungan dan kebahagiaan adalah idaman setiap orang mukmin yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya, meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baik ucapan maupun tindakan.
Dari paparan di atas dapat merupakan jalan yang dapat ditempuh agar kita hidup bahagia dan mendapatkan keberuntungan di akhirat dan dunia.





0 Tanggapan
Empty Comments