Ada yang menarik dari cara Al-Qur’an menyebut orang beriman. Hampir selalu, iman berjalan beriringan dengan amal saleh: alladzina amanu wa ‘amilush-shalihaat. Iman tidak berhenti di dalam dada. Iman yang hidup akan bergerak dan melahirkan perbuatan.
Rasulullah menegaskan hal itu dengan sangat indah. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa iman memiliki lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang.
Cabang yang paling tinggi ialah kalimat laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu pun merupakan bagian dari iman.
Perhatikan!! Cabang iman yang disebut paling rendah justru bukan ritual besar di dalam masjid, melainkan tindakan yang sangat sosial dan ekologis: menyingkirkan duri, paku, atau sampah yang mengganggu orang di jalan.
Dalam riwayat lain, Rasulullah mengisahkan seseorang yang Allah ampuni hanya karena ia menyingkirkan dahan berduri dari jalan.
Di sini iman tampil dalam bentuk yang paling konkret. Seorang mukmin tidak seharusnya bersikap acuh.
Ketika melihat sesuatu yang berpotensi mencelakakan orang lain, hatinya tergerak untuk bertindak.
Inilah buah pertama dari iman: kepedulian atau ihtimam.
Iman yang Menghadirkan Keselamatan
Pesan tentang duri di jalan sesungguhnya sangat dalam. Logikanya sederhana, tetapi mampu menghentak kesadaran.
Jika gangguan kecil saja harus disingkirkan karena dapat melukai orang lain, bagaimana mungkin seorang mukmin justru menjadi sumber gangguan?
Bagaimana mungkin orang yang mengaku beriman menebarkan teror, melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau membuang limbah yang mencemari lingkungan?
Jika duri saja harus disingkirkan, tentu mudarat yang lebih besar juga lebih wajib kita cegah.
Rasulullah juga mengajarkan umatnya untuk memadamkan api dan menutup pintu ketika hendak tidur.
Sekilas, ajaran itu tampak sederhana. Namun, di baliknya terdapat pendidikan tentang mitigasi risiko dan tanggung jawab. Islam mengajarkan kita untuk mencegah bahaya sebelum bahaya itu terjadi.
Inilah yang sering kita lupakan. Kepedulian tidak lahir secara tiba-tiba. Kita perlu melatihnya dari perkara-perkara kecil.
Seseorang tidak akan mudah peduli terhadap keselamatan bangsa jika sampah di selokan depan rumahnya saja ia biarkan.
Begitu pula, seseorang sulit mengaku peduli terhadap kelestarian bumi jika masih menganggap membuang sampah ke sungai sebagai perkara sepele.
Kepedulian tumbuh dari kepekaan. Dari menyingkirkan duri, kita belajar mencegah bahaya. Dari menjaga kebersihan, kita belajar menghargai kehidupan.
Prinsip itu semakin kuat dengan kaidah fikih yang sangat terkenal: laa dharar wa laa dhirar — tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.
Seorang mukmin tidak hanya dituntut menghadirkan kebaikan. Ia juga harus memastikan tangannya tidak menjadi sumber keburukan bagi orang lain.
Al-Qur’an bahkan melarang seorang anak mengatakan “ah” kepada orang tuanya. Jika kata sesingkat itu saja dilarang karena dapat menyakiti hati, apalagi membentak, memukul, atau melakukan kekerasan yang lebih besar. Islam mendidik manusia untuk peka sejak dari level yang paling halus.
Pesan yang sama terlihat dalam hadis tentang hubungan dengan tetangga. Rasulullah mengaitkan iman kepada Allah dan hari akhir dengan kewajiban memuliakan tetangga, memuliakan tamu, serta berkata baik atau diam.
Beliau bahkan bersabda bahwa iman seseorang belum sempurna sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Karena itu, iman mengubah cara kita bertanya. Bukan hanya, “Apa yang saya dapat?”, tetapi “Apa yang bisa saya berikan?”
Juga bukan hanya, “Apakah saya aman?”, tetapi “Apakah orang lain merasa aman karena kehadiran saya?”
Menjaga Jiwa, Menjaga Kehidupan
Kesadaran tersebut sejalan dengan salah satu tujuan utama syariat, yaitu hifzh an-nafs: menjaga jiwa. Dalam kerangka maqashid asy-syari’ah, menjaga kehidupan merupakan kemaslahatan mendasar yang harus kita lindungi.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32 memberikan gambaran yang sangat kuat. Barang siapa membunuh satu jiwa tanpa hak, seakan-akan ia membunuh seluruh manusia. Sebaliknya, barang siapa menyelamatkan satu jiwa, seakan-akan ia menyelamatkan seluruh manusia.
Satu jiwa begitu berharga.
Karena itu, jika menyingkirkan duri dari jalan menjadi bagian dari iman karena mencegah orang lain celaka, maka menyelamatkan manusia dari kelaparan, membantu korban bencana, mencegah perundungan, dan menjaga lingkungan hidup juga berada dalam semangat yang sama: menjaga kehidupan dan mencegah kerusakan.
Inilah wajah Islam Berkemajuan yang tidak memisahkan kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Shalat yang khusyuk semestinya melahirkan tangan yang amanah dan perilaku yang menghadirkan keselamatan bagi sesama.
Dari Ihtimam Menuju Itsar
Kepedulian atau ihtimam yang terus kita pupuk akan berkembang menjadi itsar, yakni kesediaan mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika diri sendiri juga sedang membutuhkan.
Al-Qur’an memuji kaum Anshar dalam Surah Al-Hasyr ayat 9. Mereka mencintai orang-orang Muhajirin yang berhijrah kepada mereka dan mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin atas diri sendiri, meskipun mereka juga berada dalam keadaan membutuhkan.
Inilah itsar. Jika ego bertanya, “Apa yang bisa saya dapat?”, maka ihtimam mengubah pertanyaan itu menjadi “Apa yang bisa saya berikan?”
Itsar membawanya lebih jauh: “Apa yang rela saya kurangi dari hak saya agar orang lain memperoleh kebaikan?”
Bayangkan jika mentalitas itsar hidup di ruang publik kita.
Pejabat yang mendapat amanah tidak menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Pengusaha yang memperoleh keuntungan tidak sekadar menumpuk laba, tetapi juga memikirkan kesejahteraan pekerjanya.
Warga yang memiliki air bersih tidak menghabiskannya sendiri ketika tetangganya mengalami kekeringan.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan aturan dan undang-undang. Masyarakat juga membutuhkan kesediaan untuk saling menjaga.
Di titik inilah iman bergerak dari kesalehan personal menuju kesalehan sosial yang transformatif.
Dari Kepedulian Sosial Menuju Kepedulian Ekologis
Jika iman mengajarkan kita untuk tidak menyakiti tetangga dan menyingkirkan gangguan dari jalan, kepedulian itu semestinya meluas kepada lingkungan tempat kita dan makhluk Allah lainnya hidup.
Tetangga kita bukan hanya manusia.
Bumi bukan objek yang boleh kita eksploitasi sesuka hati. Bumi merupakan ciptaan Allah sekaligus amanah yang harus kita jaga.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Wa laa tufsidu fil ardhi ba’da islahiha” — janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya (QS Al-A’raf: 56).
Di ayat lain, Allah menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut telah tampak akibat ulah tangan manusia (QS Ar-Rum: 41).
Pesan tersebut memiliki dimensi ekologis yang sangat kuat.
Ketika air tercemar, yang sakit bukan hanya ikan, tetapi juga manusia yang menggunakannya. Ketika hutan dibabat, yang kehilangan rumah bukan hanya satwa, tetapi juga manusia yang kehilangan daerah resapan air dan udara bersih.
Merusak lingkungan pada akhirnya berarti merusak sistem kehidupan itu sendiri.
Karena itu, dalam perspektif Islam Berkemajuan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah.
Kepedulian ekologis dapat kita mulai dari tindakan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air wudu di masjid, merawat pohon di halaman, menjaga kebersihan sungai, tidak menyiksa hewan, serta menggunakan energi secara bijaksana.
Jika kita melakukan kepedulian itu bersama-sama, ia akan tumbuh menjadi budaya.
Di sinilah itsar ekologis mendapat ujian: bersediakah kita mengurangi sedikit kenyamanan hari ini demi keberlangsungan hidup anak cucu kita esok?
Kita dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membatasi konsumsi berlebihan, dan menggunakan kendaraan pribadi secara lebih bijaksana.
Kita menahan diri hari ini agar generasi setelah kita masih dapat menghirup udara bersih dan menikmati air yang jernih.
Menjadi Rahmat dan Meninggalkan Atsar
Allah menyebut Rasulullah sebagai rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Kita tentu tidak berada pada maqam beliau. Namun, kita dapat meneladani akhlak rahmat itu sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.
Rahmat tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar.
Seorang ayah dapat menjadi rahmat bagi keluarganya dengan tidak merokok di dalam rumah. Seorang guru dapat menjadi rahmat bagi murid dan lingkungannya dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Seorang remaja masjid dapat menjadi rahmat bagi kampungnya melalui gerakan membersihkan selokan.
Lingkupnya berbeda, tetapi prinsipnya sama: hadir membawa kebaikan dan tidak menjadi sumber kerusakan.
Pada akhirnya, hidup kita tidak hanya berbicara tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang jejak yang kita tinggalkan.
Allah berfirman:
“Wa naktubu maa qaddamuu wa aatsaarahum” — Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (QS Yasin: 12).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa atsar dapat bermakna dampak atau jejak kebaikan yang terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Maka, tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang dirasakan orang lain dari kehadiran kita?
Jadilah seperti garam. Ia larut dan tidak terlihat, tetapi kehadirannya membuat masakan terasa nikmat. Ketika tidak ada, kita merasakan ada sesuatu yang kurang.
Seorang mukmin semestinya demikian. Ia tidak harus selalu tampil di depan atau disebut namanya.
Namun, ketika berbicara, ada manfaat. Ketika bertindak, ada yang terbantu. Dan ketika pergi, ada kebaikan yang tetap hidup.
Inilah wajah Islam Berkemajuan yang sesungguhnya: iman yang tidak berhenti sebagai keyakinan, tetapi bergerak menjadi kepedulian; kepedulian yang menghadirkan keselamatan; itsar yang melahirkan kemanfaatan; dan kemanfaatan yang meninggalkan atsar kebaikan bagi manusia, makhluk hidup, serta bumi yang Allah amanahkan kepada kita.
Kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita kuasai, tetapi juga tentang seberapa jauh iman membentuk kita menjadi manusia yang mampu menjaga, memberi, dan menghadirkan kedamaian.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.***





0 Tanggapan
Empty Comments