Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Canting ke Pameran, Siswa Smamda Tampilkan Batik Flora Fauna Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Dari Canting ke Pameran, Siswa Smamda Tampilkan Batik Flora Fauna Indonesia
Lima siswa Smamda belajar membatik kurang sebulan, menghasilkan karya flora fauna Indonesia, lalu memamerkannya kepada pengunjung Surabaya (Widya Dwi Kharismawati/PWMU.CO)
pwmu.co -

Lima siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) belajar membatik kurang dari satu bulan sebelum membawa karya bertema flora dan fauna Indonesia ke Quick Lunch Batik & Brew di Luminor Hotel Jemursari, Surabaya, Rabu (7/10/2026).

Kelima siswa tersebut adalah Callista Eriko Nugroho, Bagaskara Eugene Makayasa, Aqilla Lindy Zhalika Effendi, Nur Aliya Mardika Putri, dan Lucy June Filipczak dari kelas X.4. Mereka mempersiapkan karya sejak awal September dengan bimbingan guru Seni Smamda, Rachmad Setyo Wibowo, S.Pd., M.Hum.

Dalam proses tersebut, para siswa mempelajari tahapan dasar membatik, mulai mengenal alat dan bahan, menggunakan canting dan malam, hingga menyelesaikan karya masing-masing. Motif yang mereka angkat bertema flora dan fauna Indonesia.

Karya tersebut kemudian ditampilkan dalam kegiatan Quick Lunch Batik & Brew bertema “Where Heritage Meets Every Brew”. Selain memamerkan hasil karya, para siswa juga memperagakan proses mencanting kepada pengunjung.

Kurang dari Sebulan Belajar Membatik

Waktu belajar yang relatif singkat membuat para siswa harus beradaptasi dengan teknik membatik. Salah satu tantangannya adalah menjaga ketelitian ketika menggunakan canting dan malam yang panas.

Callista Eriko Nugroho mengatakan proses tersebut membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Ia merasakan langsung bahwa membuat pola menggunakan canting tidak semudah yang dibayangkan.

“Ternyata harus sabar dan telaten,” ungkap Callista.

Pengalaman tersebut membuat proses membatik tidak hanya berakhir pada sebuah karya. Para siswa juga belajar menghadapi kesalahan selama pengerjaan dan menyelesaikan motif yang telah mereka rancang.

Nur Aliya Mardika Putri menjadi salah satu siswa yang relatif cepat menyelesaikan tahap mencanting. Sementara itu, Lucy sempat mengalami kendala ketika beberapa tetes malam melebar sehingga hasil cantingannya tidak sesuai harapan.

Kesalahan tersebut menjadi bagian dari proses belajar bagi para siswa untuk lebih berhati-hati ketika menggunakan canting.

Pertama Kali Membatik bagi Siswi Student Exchange

Bagi Lucy June Filipczak, membatik menjadi pengalaman yang berbeda karena ia merupakan siswi student exchange asal Amerika Serikat. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ia belum pernah melakukan proses membatik secara langsung.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurut Lucy, proses membatik terlihat sederhana ketika dilihat. Namun, penggunaan canting untuk membuat pola pada kain ternyata membutuhkan keterampilan dan ketelitian.

“It looks simple, but it’s too hard,” ujar Lucy.

Meski mengalami kesulitan, Lucy merasa bangga setelah melihat karya yang dibuatnya selesai. Ia juga menikmati tahapan menggambar motif, memberikan warna, hingga melihat hasil akhirnya.

Pengalaman tersebut kemudian dibawa Lucy dan siswa lainnya ke kegiatan Quick Lunch Batik & Brew. Mereka tidak hanya menunjukkan karya yang telah dibuat, tetapi juga memperkenalkan alat dan bahan membatik kepada pengunjung.

Dari Kelas ke Ruang Publik

Di hadapan pengunjung Luminor Hotel Jemursari, para siswa memperagakan cara menggunakan canting untuk membuat pola pada kain. Mereka juga menjelaskan alat dan bahan yang digunakan dalam proses tersebut.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mempraktikkan kembali teknik yang telah dipelajari sekaligus berbagi pengetahuan mengenai proses membatik.

Bagi Lucy, kesempatan tersebut menjadi pengalaman lanjutan setelah belajar membatik di sekolah. Ia yang sebelumnya hanya mengenal batik sebagai bagian dari budaya Indonesia kemudian terlibat langsung dalam proses pembuatannya.

Sementara bagi empat siswa lainnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan membawa karya yang mereka kerjakan sejak awal September ke hadapan masyarakat.

Melalui proses tersebut, karya batik flora dan fauna Indonesia yang dibuat para siswa Smamda tidak hanya dipajang sebagai hasil akhir. Di balik setiap kain terdapat proses belajar menggunakan canting, menghadapi kesalahan, memperbaiki hasil kerja, hingga memperkenalkan cara membatik kepada orang lain. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 08/10/2026 20:10
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu