Baru sehari setelah kepengurusan Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Mojokerto dibentuk, forum ini langsung bergerak.
Tidak ingin berhenti pada seremoni pembentukan struktur, FGM Mojokerto memasuki sesi kedua dengan agenda yang lebih konkret: meng-upgrade mutu guru dan menguatkan kompetensi pendidik.
Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (6/10/2026) di Cordoba Ballroom, Lantai 2 Mutia Exhibition Center, Jalan Raya Mojosari–Gempol No. 827, Ngoro, Mojokerto.
Lebih lanjut, agenda menjadi tindak lanjut dari pertemuan pembentukan kepengurusan FGM sehari sebelumnya, Senin (5/10/2026).
Jika Senin menjadi momentum menyusun barisan, maka Selasa menjadi langkah awal untuk menggerakkan barisan tersebut.
Sehari Dibentuk, Besoknya Bergerak
Pertemuan sesi kedua ini diikuti berdasarkan undangan kepada kepala madrasah/sekolah (kamad) dan lima guru utusan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa FGM tidak hanya ingin membangun organisasi secara struktural.
Tetapi juga menghadirkan jejaring yang memungkinkan gagasan dan kebijakan pendidikan diteruskan secara lebih luas di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah.
Agenda utama yang diusung adalah Upgrading Mutu Guru, dengan tema: “Optimalisasi Penyelenggaraan dan Sertifikasi Kompetensi Peserta Berbasis Kebijakan Terbaru Direktorat.”
Tema ini menjadi penting di tengah dinamika kebijakan pendidikan yang menuntut guru untuk tidak berhenti belajar. Kompetensi guru harus terus diperbarui agar mampu menjawab perubahan regulasi sekaligus kebutuhan peserta didik.
Hadirkan Tiga Perspektif Pendidikan
Upgrading kali ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda.
Pertama, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kecamatan Mojokerto, Pingky Hidayati SPsi MPsi. Kemudian PPK Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK Kemendikdasmen RI, Adrianus Patiung SE MM.
Serta yang ketiga Principal sekaligus Ketua FGM Kabupaten Mojokerto, Ustadz Ednan Rudianto SH MKn.
Kehadiran para narasumber tersebut membuka ruang dialog antara pengalaman di lapangan, kebijakan pendidikan, pengembangan kompetensi, serta kebutuhan nyata sekolah dan madrasah.
Dengan demikian, upgrading tidak sebatas berbicara tentang sertifikasi, tetapi juga tentang bagaimana guru memahami arah kebijakan, meningkatkan kapasitas profesional, dan menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi pelayanan pendidikan yang lebih baik.
“Ritme Jangan Turun, Integritas Jangan Goyah”
Pesan yang terpampang kuat dalam layar utama kegiatan seolah menjadi roh pertemuan:
Ritme jangan turun.
Integritas jangan goyah.
Inovasi jangan berhenti.
Pelayanan kepada murid jangan pernah lelah.
Empat kalimat sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi perjalanan pendidikan.
Guru dituntut menjaga ritme belajar dan mengajar. Integritas menjadi fondasi yang tidak boleh ditawar. Inovasi harus terus hidup agar pembelajaran tidak tertinggal zaman.
Dan pada akhirnya, seluruh proses tersebut harus bermuara pada satu tujuan: memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.
FGM Lebih dari Struktur Kepengurusan
Pertemuan sesi kedua ini sekaligus mempertegas bahwa FGM Kabupaten Mojokerto tidak ingin menjadi organisasi yang hanya hidup dalam struktur dan administrasi.
FGM hendak menjadi ruang tumbuh bersama bagi guru Muhammadiyah.
Pembentukan pengurus pada Senin bukan garis akhir. Justru itu adalah garis start. Sehari setelah struktur terbentuk, agenda peningkatan mutu langsung digulirkan.
Langkah cepat tersebut menunjukkan satu kesadaran penting: tantangan pendidikan tidak menunggu organisasi siap sepenuhnya.
Karena itu, FGM harus terus bergerak mendengar, belajar, meng-upgrade kompetensi, membangun jejaring, dan menghadirkan gagasan yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sekolah, guru, dan terutama peserta didik.
Dari Sesi 1 ke Sesi 2, Dari Struktur Menuju Gerakan
Rangkaian dua hari ini menjadi titik penting perjalanan awal FGM Kabupaten Mojokerto. Jika pada Senin (5/10/2026) berlangsung pembentukan kepengurusan, maka pada Selasa (6/10/2026) langsung terlaksana tindak lanjut melalui upgrading mutu guru.
Dari struktur menuju gerakan. Dari kepengurusan menuju program. Kemudian dari gagasan menuju aksi.
Sebab, guru yang berhenti meng-upgrade diri akan sulit membawa peserta didik menuju masa depan yang terus berubah.
FGM Mojokerto tampaknya memahami itu. Maka langkahnya jelas: pengurus dibentuk, guru dihimpun, kompetensi ditingkatkan, dan pendidikan Muhammadiyah terus digerakkan.
Karena menjaga pendidikan bukan pekerjaan sehari. Ia membutuhkan gerakan yang konsisten, dan FGM Mojokerto memilih untuk memulainya sekarang.





0 Tanggapan
Empty Comments