PK IMM Al-Qossam melalui Bidang SPM menggelar kajian Microteaching yang bertempat di Gedung At-Tauhid lantai 10, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari struktural IMM Al-Qossam dengan jumlah peserta yang mencapai sekitar 40 orang.
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala SMP Panglima Sudirman Surabaya sekaligus alumni IMM Al-Qossam, Andhika, sebagai pemateri.
Tingginya antusiasme peserta bahkan membuat Andhika cukup terkejut karena sebelumnya ia memperkirakan hanya sekitar 10 orang yang akan hadir.
Pengalaman Belajar
Dengan gaya penyampaian yang santai, interaktif, dan diselingi guyonan, Andhika membahas bahwa dunia pendidikan tidak hanya berkaitan dengan materi dan metode mengajar.
Setiap guru memiliki cara masing-masing dalam menciptakan pengalaman belajar. Ia juga menekankan pentingnya pengalaman belajar yang mendalam atau deep learning dalam proses pendidikan.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah bahwa belajar harus dimulai dari manusia, bukan hanya dari materi.
Menurutnya, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga memahami karakter siswa, melihat persoalan dari sudut pandang mereka, serta membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang utuh.
Andhika juga menjelaskan bahwa perilaku siswa yang dianggap nakal tidak selalu menjadi ukuran kegagalan.
Anak yang mencari perhatian, membantah, atau melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses perkembangan yang perlu dipahami.
Karena itu, seorang guru seharusnya tidak mudah menghakimi, tetapi mampu memberikan arahan sekaligus menjadi teladan.
“Setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru” tegas Andhika dalam kajian tersebut.
Menurutnya, guru bukan hanya sebuah profesi, tetapi seseorang yang mampu memberikan pemahaman dan keteladanan, bahkan melalui hal-hal sederhana.
Pengalaman yang diperoleh siswa di dalam kelas dapat menjadi pengalaman hidup yang terus melekat dan tidak mudah hilang oleh waktu.
Pemimpin Tak Cukup Beri Arahan
Selain berbicara tentang pendidikan, Andhika juga mengaitkan materi dengan kepemimpinan dalam organisasi.
Seorang ketua, menurutnya, harus mampu menghargai dan mengapresiasi anggotanya. Pemimpin tidak cukup hanya memberikan arahan, tetapi juga perlu membangun hubungan yang baik dengan anggota agar tercipta lingkungan yang sehat dan saling mendukung.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya evaluasi dalam proses pendidikan maupun organisasi. Setiap proses yang telah dilakukan perlu dievaluasi agar dapat menjadi bahan perbaikan ke depannya.
Mengajar bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang bagaimana seseorang dapat memberikan manfaat dan membantu orang lain untuk terus berkembang.
Kajian Microteaching ini menjadi ruang belajar bagi struktural IMM Al-Qossam untuk memahami bahwa menjadi pendidik maupun pemimpin membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara.
Dibutuhkan keteladanan, pengalaman, kemampuan memahami manusia, serta kemauan untuk terus belajar dan mengevaluasi diri.
Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa kajian Microteaching mendapat respons positif dari struktural IMM Al-Qossam.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi kader untuk mengembangkan kemampuan mengajar, memimpin, dan menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments