Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Robot Humanoid Tak Langsung Gantikan Manusia, Pakar UMY: Komposisi Pekerjaan yang Berubah

Iklan Landscape Smamda
Robot Humanoid Tak Langsung Gantikan Manusia, Pakar UMY: Komposisi Pekerjaan yang Berubah
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Kehadiran robot humanoid di dunia kerja tidak serta-merta berarti manusia akan kehilangan pekerjaan. Perubahan yang lebih mungkin terjadi justru pada komposisi pekerjaan, ketika sebagian tugas manusia mulai dialihkan kepada robot, sementara manusia bergeser ke peran yang membutuhkan pengawasan, pengambilan keputusan, dan kemampuan adaptasi.

Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Human-Robot Interaction (HRI), Dr. Muhamad Yusvin Mustar, S.T., M.Eng., mengatakan robot humanoid saat ini memang semakin dekat dengan penerapan di lingkungan industri.

Namun, kemampuan robot belum membuatnya mampu menggantikan manusia sebagai pekerja serbaguna.

“Dalam waktu dekat, saya melihat humanoid lebih realistis digunakan sebagai pekerja semiotonom yang tetap berada di bawah pengawasan manusia. Bukan sepenuhnya menggantikan manusia sebagai pekerja general purpose,” jelas Yusvin dalam wawancara daring, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, robot lebih mudah diterapkan pada pekerjaan yang memiliki pola jelas dan berulang. Terutama pekerjaan yang repetitif, terstruktur, berat, berisiko, dan berlangsung dalam lingkungan yang relatif terkendali.

Contohnya pemindahan barang, mengambil dan meletakkan komponen, loading-unloading, pekerjaan gudang, penyortiran, hingga sebagian proses perakitan sederhana.

Yusvin menjelaskan, satu profesi manusia sebenarnya terdiri atas banyak tugas. Karena itu, otomatisasi tidak selalu berarti satu profesi akan hilang seluruhnya.

“Satu pekerjaan manusia bisa terdiri dari banyak tugas, dan mungkin hanya beberapa tugas saja yang nantinya diserahkan kepada robot humanoid,” ujarnya.

Di titik inilah, menurut Yusvin, masyarakat perlu melihat perkembangan robot humanoid secara lebih proporsional. Robot mungkin mengambil alih tugas tertentu, tetapi manusia tetap diperlukan untuk menangani situasi yang tidak terduga, membuat keputusan, serta mengawasi sistem.

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat kemampuan robot semakin berkembang. Robot tidak lagi hanya menjalankan program yang telah ditentukan, tetapi mulai mampu mengenali lingkungan, memahami instruksi bahasa, memilih tindakan, dan menyesuaikan respons terhadap kondisi yang dihadapi.

Meski demikian, tantangan robotika bukan sekadar membuat AI semakin pintar.

“Persoalannya bagaimana menerjemahkan kecerdasan tersebut menjadi tindakan fisik yang aman,” kata Yusvin.

Karena itu, pengembangan robot humanoid melibatkan integrasi AI dengan persepsi, kontrol gerak, mekanik, sensor, dan sistem keselamatan. Konsep ini berkembang dalam embodied intelligence atau physical AI, ketika kecerdasan tidak hanya berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi diwujudkan dalam tindakan fisik.

Perubahan tersebut, menurut Yusvin, akan melahirkan sedikitnya tiga kemungkinan.

Pertama, sebagian pekerjaan benar-benar tergantikan. Kedua, robot menjadi alat bantu manusia. Ketiga, pekerjaan manusia berubah bentuk.

Pekerja yang sebelumnya melakukan pemindahan material secara manual, misalnya, dapat beralih menjadi operator, pengawas, teknisi, atau pengelola beberapa robot sekaligus.

Perubahan itu sejalan dengan proyeksi World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025. WEF memperkirakan 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan terdampak disrupsi. Secara bersih, perubahan tersebut diproyeksikan menghasilkan tambahan 78 juta pekerjaan.

Robot dan sistem otonom juga termasuk teknologi yang diperkirakan akan mengubah dunia usaha hingga 2030.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam perkembangan berikutnya, hubungan manusia dan robot juga tidak lagi sekadar manusia menggunakan mesin. Konsep Human-Robot Interaction (HRI) berkembang menuju human-robot teaming (HRT), ketika manusia dan robot bekerja sebagai satu tim dengan kemampuan yang berbeda.

Manusia menangani pekerjaan yang membutuhkan penilaian dan adaptasi. Robot mengerjakan tugas yang membutuhkan ketepatan, konsistensi, atau tenaga fisik.

Robot Literacy Jadi Bekal Pekerja

Bagi Indonesia, perubahan ini perlu dipersiapkan karena sebagian tenaga kerja masih berada pada pekerjaan fisik, operasional, dan repetitif.

Jika robot humanoid semakin murah dan efisien, pekerjaan seperti operator produksi sederhana, pekerja gudang, material handling, dan perakitan berulang berpotensi terdampak.

Namun, Yusvin menilai persoalannya bukan sekadar berapa banyak pekerjaan yang akan hilang, melainkan bagaimana tenaga kerja dipersiapkan untuk memasuki jenis pekerjaan baru.

“Kalau otomatisasi dilakukan tanpa persiapan tenaga kerja, kita bisa menghadapi kesenjangan keterampilan dan pengangguran struktural. Tetapi jika dibarengi dengan reskilling dan upskilling, pekerja dapat beralih menjadi operator robot, teknisi pemeliharaan, pengawas sistem otomatis, teknisi sensor, atau tenaga pendukung otomasi,” tuturnya.

Karena itu, pekerja masa depan perlu memiliki robot literacy. Bukan berarti setiap pekerja harus menjadi ahli robotika, tetapi memiliki kemampuan memahami, mengoperasikan, mengawasi, dan bekerja bersama sistem robotik.

Pada saat yang sama, pemerintah dan dunia industri perlu menyiapkan kebijakan yang mendorong responsible automation atau otomatisasi yang bertanggung jawab.

Regulasi, kata Yusvin, tidak harus menghambat penggunaan robot. Yang penting adalah memastikan keselamatan, penerapan prinsip human in the loop pada pekerjaan berisiko tinggi, penilaian dampak terhadap tenaga kerja, serta program reskilling sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.

Kajian International Federation of Robotics (IFR) juga menunjukkan bahwa dampak robot terhadap pekerjaan tidak hanya berupa penggantian tenaga manusia. Otomatisasi dapat meningkatkan produktivitas, melahirkan tugas dan jenis pekerjaan baru, serta meningkatkan daya saing perusahaan.

Data IFR menunjukkan stok robot industri yang beroperasi di pabrik global mencapai sekitar lima juta unit pada 2025, meningkat sembilan persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada September 2026, IFR juga melaporkan pengiriman robot layanan profesional meningkat 24 persen menjadi hampir 250 ribu unit.

Angka tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi memang semakin masuk ke dunia kerja. Tetapi bagi Yusvin, pertanyaan pentingnya bukan apakah robot akan hadir atau tidak.

Pertanyaannya adalah siapa yang siap bekerja bersama robot ketika teknologi itu semakin menjadi bagian dari tempat kerja.

“Prinsipnya bukan melarang otomatisasi, tetapi memastikan bahwa inovasi tetap berjalan, keselamatan terjaga, dan tenaga kerja tidak ditinggalkan dalam proses transisi teknologi,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/10/2026 22:31
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu