Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dokter Mata RSU Unmuh Jember Ungkap Cara Menjaga Mata di Tengah Tingginya Screen Time

Iklan Landscape Smamda
Dokter Mata RSU Unmuh Jember Ungkap Cara Menjaga Mata di Tengah Tingginya Screen Time
Dokter Mata Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember (RSU Unmuh Jember), dr. Annisa Kinanti Asti, Sp.M. (Sukron Kasyir/PWMU.CO)
pwmu.co -

Tidak semua orang menyadari kebiasaan kecil yang dilakukan saat menatap layar dapat memengaruhi kenyamanan mata. Berkedip lebih jarang, mempertahankan pandangan pada jarak yang sama, hingga lupa beristirahat menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan perangkat digital.

Dokter Mata Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember (RSU Unmuh Jember), dr. Annisa Kinanti Asti, Sp.M., menyarankan masyarakat mulai memperhatikan pola penggunaan perangkat digital daripada hanya menunggu sampai muncul gangguan penglihatan.

Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah memberikan jeda secara berkala. Caranya dengan mengalihkan pandangan dari layar setelah beberapa waktu menatapnya.

“Paparan dari layar setiap hari tidak bisa dihindari di era teknologi seperti saat ini, apalagi pada usia dini. Angka kejadian miopia atau rabun jauh pada anak-anak sudah sangat banyak,” jelas dr. Annisa.

Mulai dari Kebiasaan Sederhana

Saat berkonsentrasi di depan komputer, laptop, tablet, atau telepon pintar, seseorang cenderung lebih jarang berkedip. Mata juga terus mempertahankan fokus pada objek dalam jarak tertentu.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan seperti mata lelah atau rasa tidak nyaman. Karena itu, jeda penggunaan perangkat menjadi salah satu kebiasaan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

dr. Annisa mengenalkan aturan 20-20-20 sebagai salah satu cara memberikan waktu bagi mata untuk beristirahat. Setelah menatap layar selama 20 menit, pandangan dialihkan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.

Kebiasaan tersebut tidak harus menunggu sampai mata terasa lelah. Jeda dapat dimasukkan ke dalam rutinitas ketika seseorang bekerja, belajar, atau melakukan aktivitas lain dengan perangkat digital.

Dengan cara tersebut, penggunaan layar tetap dapat dilakukan tanpa mengabaikan kenyamanan mata.

Anak Memerlukan Perhatian Lebih

Kebiasaan menggunakan perangkat digital juga perlu diperhatikan ketika diterapkan pada anak. Pada usia tersebut, mata masih berada dalam masa perkembangan sehingga kebiasaan visual perlu mendapat perhatian.

dr. Annisa menyarankan orangtua membatasi penggunaan perangkat digital pada anak.

“Screen time untuk anak-anak harus dibatasi. Maksimal sehari satu jam, karena exposure yang terus-menerus itu tidak bagus,” terangnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurutnya, perhatian terhadap kebiasaan visual anak penting dilakukan sejak dini. Terlebih, miopia atau rabun jauh dapat dipengaruhi lebih dari satu faktor, termasuk faktor keturunan dan kebiasaan visual.

Karena itu, orangtua tidak hanya perlu memperhatikan berapa lama anak menggunakan layar, tetapi juga perlu peka terhadap perubahan penglihatannya.

Anak yang mulai menyipitkan mata ketika melihat objek jauh, mendekatkan benda ke wajah, atau mengalami kesulitan melihat tulisan dari jarak tertentu dapat diperiksakan ke tenaga medis.

Jangan Menunggu Mata Bermasalah

Menjaga kesehatan mata juga tidak berhenti pada pengaturan screen time. Pemeriksaan diperlukan ketika seseorang mulai mengalami perubahan penglihatan.

dr. Annisa mengingatkan bahwa riwayat keluarga juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

“Kalau dari anggota keluarga ada yang memiliki riwayat kacamata, akan sangat rentan. Secara bentuk, mata akan lebih lonjong dari orang normal biasanya sehingga berisiko terjadi rabun jauh,” jelasnya.

Riwayat tersebut dapat menjadi alasan bagi orangtua untuk lebih memperhatikan kondisi penglihatan anak. Apabila ditemukan gangguan refraksi, penggunaan kacamata sesuai hasil pemeriksaan dapat membantu memperjelas penglihatan.

Pada anak, gangguan refraksi yang tidak dikoreksi juga dapat mengganggu perkembangan penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.

Sementara itu, pemenuhan nutrisi tetap menjadi bagian dari pola hidup sehat. Makanan bergizi yang mengandung vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh untuk menunjang kesehatan secara umum. Namun, asupan makanan tidak menggantikan pemeriksaan apabila sudah terdapat gangguan penglihatan.

Penggunaan perangkat digital memang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Karena itu, menurut dr. Annisa, perhatian terhadap kesehatan mata dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana: memberikan jeda ketika menatap layar, mengatur penggunaan perangkat pada anak, serta segera memeriksakan mata ketika muncul perubahan penglihatan.

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 08/10/2026 19:36
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu