Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Menguping: Senjata dalam Perebutan Kekuasaan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Menguping: Senjata dalam Perebutan Kekuasaan
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Rik Suhadi Ketua PDM Bangkalan dan Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Socah

Dari sekadar ingin tahu, menjadi strategi menjatuhkan; dari mendengar rahasia, menjadi memperdagangkan kepercayaan.

Sejak zaman Rasulullah saw., perilaku menguping bukanlah hal baru. Sejarah mencatat, manusia kerap menyelinap ke ruang percakapan yang bukan haknya. Sebagian melakukannya karena rasa ingin tahu. Sebagian lainnya terdorong oleh kecurigaan. Bahkan, ada yang memanfaatkannya untuk memperoleh sesuatu tersembunyi.

Namun, zaman selalu memperbarui wajah keburukan. Dahulu, seseorang harus mendekatkan telinga ke balik dinding. Tujuannya mencuri percakapan orang lain. Kini, seseorang cukup duduk di ruang rapat. Ia bisa berada dalam lingkaran kekuasaan. Bahkan, atribut jabatan memberinya akses terhadap banyak rahasia.

Menguping pun mengalami metamorfosis. Perilaku ini bukan lagi sekadar kebiasaan buruk. Dalam politik dan organisasi, praktik ini dapat menjelma menjadi strategi. Bahkan, ia menjadi instrumen dan senjata kekuasaan. Tujuannya membangun pengaruh sekaligus menyingkirkan lawan.

Ada orang yang tidak sibuk membangun gagasan. Mereka justru sibuk mengumpulkan percakapan. Mereka tidak tekun merawat kepercayaan. Sebaliknya, mereka lihai memetakan kelemahan. Mereka juga tidak berjuang memperbaiki keadaan. Energi mereka habis untuk mencari celah orang-orang sekitar.

Mereka mengumpulkan potongan pembicaraan dan menyimpan kalimat di luar konteks. Kemudian, mereka merangkainya menjadi cerita sesuai kepentingan. Informasi yang semestinya menjadi amanah berubah menjadi komoditas.

Rahasia yang seharusnya dijaga justru menjadi mata uang. Mereka menggunakannya untuk membeli pengaruh dan menegosiasikan posisi. Bahkan, mereka menjadikannya jalan menuju kekuasaan.

Yang lebih menyedihkan, praktik ini terkadang melibatkan orang-orang terdekat. Mereka duduk di meja yang sama. Mereka menikmati kehormatan dan menerima mandat yang sama. Namun, kedekatan itu menyimpan agenda berbeda. Agenda tersebut tidak sejalan dengan amanah yang mereka emban.

Di hadapan, mereka menampilkan wajah persahabatan. Di belakang, mereka mengumpulkan informasi untuk kepentingan sendiri. Lisan mereka menyusun kalimat kesetiaan. Sementara itu, telinga mereka terus memburu rahasia.

Inilah ironi paling getir kehidupan organisasi dan politik. Ancaman terkadang tidak datang dari luar pagar. Justru, sumber persoalan berada di lingkaran kepercayaan. Orang-orang yang mendapat akses istimewa dapat menyalahgunakannya.

Jabatan, Amanah, dan Penyalahgunaan Kepercayaan

Jabatan yang seharusnya menjadi amanah pelayanan berubah menjadi pelindung kepentingan pribadi. Akses untuk memperkuat organisasi justru melemahkan orang-orang di dalamnya. Kewenangan sebagai alat pengabdian berubah menjadi alat siasat. Mereka menggunakannya untuk membangun persepsi dan menikam secara tersembunyi.

Mereka lupa bahwa jabatan bukan lisensi menguasai rahasia orang lain. Kedekatan bukan izin untuk melanggar batas kepercayaan. Kepercayaan juga bukan tangga menuju kursi lebih tinggi.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

QS. Al-Hujurat ayat 12 memberikan peringatan yang sangat tegas: Wa la tajassasu (“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.

Larangan ini bukan sekadar mengatur kesopanan dalam pergaulan. Ayat ini mengandung pesan peradaban. Manusia harus menghormati kehormatan sesamanya. Mereka tidak boleh memperdagangkan rahasia orang lain. Hubungan sosial juga tidak boleh dibangun atas kecurigaan. Apalagi, hubungan itu berlandaskan perburuan aib.

Sebuah organisasi tidak akan pernah kuat jika anggotanya saling mengawasi kelemahan. Mereka seharusnya bekerja mencapai tujuan bersama. Organisasi mungkin tampak kokoh dari luar. Namun, sesungguhnya, keretakan sedang tumbuh dari dalam.

Rapat-rapatnya penuh senyum. Sementara itu, ruang belakangnya dipenuhi kecurigaan. Kata-kata loyalitas terdengar lantang. Namun, kepercayaan perlahan kehilangan tempat bernaung.

Kecerdasan Membaca Keadaan atau Kelicikan Memanfaatkan Kelemahan?

Pada titik ini, kita perlu membedakan dua hal. Pertama, kecerdasan membaca keadaan. Kedua, kelicikan memanfaatkan kelemahan manusia.

Kecerdasan melahirkan kebijaksanaan, sedangkan kelicikan merusak hubungan antarmanusia. Pemimpin matang mengumpulkan orang-orang untuk membangun masa depan. Sebaliknya, pemburu kekuasaan mengumpulkan rahasia demi kepentingannya sendiri.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat pemegang jabatan. Sejarah juga mencatat bagaimana mereka menggunakan jabatan tersebut. Seseorang mungkin memperoleh kursi kekuasaan melalui siasat. Kedekatan dan permainan informasi juga dapat membuka jalan. Namun, kehormatan tidak lahir dari cara-cara semacam itu.

Orang yang mencuri rahasia melalui telinganya sedang merusak kepercayaan. Orang yang menggunakan jabatan sebagai pisau sedang menikam dari dalam. Mereka mungkin memenangkan perebutan kekuasaan. Namun, mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal. Sesuatu itu adalah martabat dirinya sendiri.

Ketika kepercayaan telah mati, jabatan setinggi apa pun tidak mampu menghidupkannya kembali.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 05/11/2026 14:39
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu