Saat 14 abad yang lalu, Rasulullah Muhammad SAW dalam mengemban risalah kenabian untuk pencerahan peradaban diawali dengan turunnya wahyu Al-Qur’an surat Al-Alaq yang memerintahkan iqra’ (membaca).
Saat turunnya wahyu tersebut, membaca belum berwujud tulisan. Namun, manusia telah diperintahkan untuk membaca sekaligus mengenal Tuhan Yang Maha Pencipta, yang proses penciptaannya dari tiada menjadi ada hingga tiada lagi dan kembali kepada-Nya. Dari proses tersebut, terbangun kesadaran spiritual.
Kesadaran Spiritual
Agama Islam menaruh perhatian besar dalam upaya penguatan literasi yang terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual. Membaca menjadi salah satu pilar utama dalam proses pencerahan, bahkan untuk membangun kekuatan dan kemajuan peradaban zaman.
“Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Al-Alaq 1) merupakan petunjuk yang luar biasa mencerahkan. Proses pembacaan yang diawali dengan menyebut nama-Nya akan membuka tabir apa yang selama ini manusia belum ketahui. Ada rahasia besar penciptaan-Nya berupa literasi spiritual yang terhubung dengan fenomena kekuasaan-Nya.
Penguatan literasi begitu besar dampaknya, khususnya terhadap kesadaran diri seorang hamba-Nya yang keberadaannya tidak lepas dari kekuasaan-Nya. Kesadaran akan kebesaran Sang Khalik akan menanamkan ketundukan dan ketaatan kepada-Nya sebagai wujud kesadaran spiritual.
Kesadaran tersebut akan mampu mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga dan mengatur kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Kesadaran spiritual yang terkoneksi dengan wahyu dari-Nya akan mampu mengemban amanah yang mencerahkan, penuh tanggung jawab, membawa kedamaian, kesejahteraan, serta kemuliaan hidup. Bukan melakukan pengrusakan, permusuhan hingga peperangan yang begitu arogan dan brutal, jauh dari nilai-nilai kemanusiaan akibat minimnya literasi yang terintegrasi dengan kesadaran spiritual.
Tema Menggugah Kesadaran
Momen memperingati Hari Literasi Internasional pada 8 September 2026 yang ditetapkan oleh UNESCO mengangkat tema “Literacy for people, the planet and prosperity” (Literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran).
Tema ini begitu relevan untuk menggugah kesadaran kita semua. Seperti yang kita lihat dan rasakan di tengah dinamika global, masih terjadi perilaku manusia yang serakah dan menindas kemanusiaan, seperti yang masih terjadi di Gaza Palestina yang sudah puluhan tahun mengalami pembunuhan dan genosida.
Pemahaman literasi global yang gagal dan salah serta terus menyimpang membuat penindasan kemanusiaan dianggap sebagai kebenaran. Bahkan, upaya penyadaran yang terus disampaikan justru dibalas dengan aksi-aksi kekejaman dan kebrutalan.
Pembacaan literasi yang cenderung terbatas dan diklaim sebagai kebenaran akibat kuatnya hawa nafsu yang terus mendorong permusuhan membuat referensi literasi dipenuhi kekerasan dan dianggap sebagai misi suci keilahian, meski menghancurkan kemanusiaan.
Literasi yang dikembangkan dijadikan alat pembenar tanpa berpikir kritis untuk direnungkan dengan kejernihan hati dan pikiran.
Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam karya bukunya berjudul Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman, menyampaikan, “Di sini Al-Qur’an berulang ulang menegaskan bahwa manusia juga belum mengembangkan rasa tanggungjawab itu secara memadai. Yang lebih tragis lagi ialah kenyataan bahwa sekalipun kemampuan kognitifnya begitu dahsyat, kemampuannya dalam melaksanakan tanggung jawab moral sering benar gagal”.
Dari sini Buya Syafi’i terlihat sangat berharap tanggung jawab moral hendaknya lebih diperhatikan dalam mengisi peradaban yang lebih mencerahkan, bukan tabiat keserakahan dan liar. Bukan seperti sosok manusia yang secara fisik terlihat sebagai manusia, tetapi tergerus dengan sifat kebinatangan.
Literasi untuk Manusia, Planet, dan Kemakmuran
Melalui literasi, kesadaran spiritual sekaligus wawasan keilmuan akan terbuka. Manusia menjadi sadar akan kemanusiaan dan menjadikan planet bumi bukan sebagai ajang pengrusakan dan keserakahan, tetapi mampu membawa kemakmuran yang menyejahterakan.
Manusia juga akan selalu peduli karena literasinya memberikan dampak dalam perbaikan kehidupan.
M. Amin Abdullah, dalam karya bukunya yang berjudul Dinamika Islam Kultural Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer, menyatakan, “dimensi spiritualitas keagamaan Islam akan tercermin dalam kepedulian dalam alam lingkungan dan persentuhan dengan lingkungan sosial dan budaya sekitarnya”. Jelasnya.
Umat Islam hendaknya serius menjadikan kesadaran spiritualnya lebih fungsional dengan memberikan kemanfaatan yang lebih berarti bagi masyarakat dan lingkungan. Kehadiran dalam isu-isu lingkungan yang mencerahkan akan menyelamatkan kehidupan.
Seperti problem yang lagi urgent saat ini terkait isu lingkungan, adanya kebakaran hutan yang terus berulang dan semakin parah. Hutan semakin gundul, kehidupan flora, fauna, serta manusia semakin memprihatinkan.
Upaya penyelamatan terkesan kurang optimal dan baru disadari ketika ada banyak tekanan untuk penanganan. Lagi-lagi, ulah manusia yang minim literasi semakin brutal melakukan pengrusakan.
Literasi lingkungan hanya sebatas mencari keuntungan dan pemuasan nafsu keserakahan hingga menjilat kekuasaan untuk mendapat legalitas penguasaan lahan. Akibatnya, semakin semena-mena dan parahnya menyalahkan keadaan iklim dan lingkungan, sehingga tidak sadar telah menghancurkan ekosistem kehidupan.
Hari Literasi ini juga dijadikan momen berarti dalam kebijakan nasional yang mengangkat tema “Literasi untuk Sesama, Semesta dan Sejahtera”.
Sungguh indah narasinya dan mudah dipahami, tetapi jangan terjebak dengan slogan. Apakah kita paham dan mengerti atas substansi permasalahan yang ada?
Khazanah kosakata dalam literasi hendaknya memberi semangat untuk penguasaan ilmu sehingga literasinya bermutu.
Literasi untuk Sesama
Literasi untuk sesama merupakan upaya membangun kebersamaan sebagai sesama anak bangsa untuk bangkit dari keterpurukan dan melepaskan buaian literasi yang berisi narasi kebohongan untuk sekadar menyenangkan.
Padahal, ada bahaya di depan yang sedang mengancam kehancuran. Semangat persaudaraan harus dibangun sehingga saling menghargai dan menghormati, bukan menyakiti hingga menimbulkan kebencian.
Literasi untuk sesama menjadi upaya membuka hati dan pikiran serta menguatkan gandengan tangan, sehingga terbangun literasi kebangsaan yang berkemajuan.
Literasi Semesta
Literasi semesta semakin mendorong kita untuk memahami dinamika semesta di tempat kita berada dengan menguatkan keilmuan untuk menjadikan semesta membawa dampak kesejahteraan.
Melalui pendidikan, akses seluas-luasnya akan terbuka bahwa semesta tempat kita berada begitu berharga. Insan-insan yang berpendidikan dan memiliki kesadaran spiritual akan berkontribusi positif terhadap kehidupan berbangsa.
Kita kembali sangat prihatin ketika kekayaan alam bangsa Indonesia yang begitu berlimpah seharusnya disyukuri untuk kesejahteraan negeri, tetapi disalahgunakan dengan melakukan korupsi seakan tidak ada hentinya.
Jangkauan jejaring korupsi semakin luas untuk memperkaya pribadi dan kolega kepentingannya, tidak lagi memberikan perhatian terhadap kemiskinan.
Literasi untuk Sejahtera
Literasi untuk sejahtera adalah hasil perjuangan yang optimal, transparan, dan berkeadilan. Berbagai potensi dioptimalkan untuk meraih kesejahteraan, sementara dukungan regulasi yang berkeadilan semakin mengarahkan pada tujuan berbangsa dan bernegara untuk kedaulatan, persatuan, dan keadilan sosial.
Literasi sejahtera akan mewujudkan kehidupan yang bahagia sehingga masyarakat termotivasi untuk berkarya bagi bangsa.
Diawali dari keluarga yang bahagia dan sejahtera, akan terwujud bangsa yang adil dan makmur.
Selamat Hari Literasi. Teruslah mengkaji dan menelaah referensi untuk mampu berkontribusi pada negeri.
Jauhi narasi permusuhan dan pengrusakan karena membawa kehancuran. Literasi berkemajuan menumbuhkan persaudaraan untuk menguatkan persatuan dan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.





0 Tanggapan
Empty Comments