Penguatan relawan LPA bojonegoro oleh IGABA Bojonegoro berlangsung penuh kehangatan dan antusias. Peserta yang hadir berasal dari pendidik TK ABA di bojonegoro
Tercatat, sebanyak 20 peserta dari berbagai perwakilan kecamatan mengikuti kegiatan Penguatan Relawan Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Rabu (30/9/2026).
Agenda tersebut berlangsung di Sekretariat IGABA Kabupaten Bojonegoro, Jalan Dr Sutomo No 59, Kepatihan, yang juga menjadi lokasi TK ABA Percontohan Bojonegoro.
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan pemahaman dan komitmen relawan dalam melakukan pencegahan serta perlindungan anak dari berbagai bentuk ancaman dan kekerasan.
Usai acara dibuka, materi disampaikan Pengurus LPA Bidang Litbang Fitriyah MPd. Ia menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tugas relawan.
“Bukan relawan pun sebagai masyarakat tetap memiliki tanggung jawab melindungi anak, apalagi sebagai relawan” ujarnya.
Tanggung Jawab Bersama
Fitriyah menjelaskan, perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan empat unsur, yaitu keluarga, pemerintah, masyarakat, dan anak itu sendiri. Perlindungan tersebut mencakup upaya melindungi, mencegah, menangani, serta memulihkan.
Menurutnya, pencegahan dapat dilakukan melalui langkah sederhana yang dibangun secara konsisten. Salah satunya dengan membiasakan budaya 5S, yakni senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Namun, penerapannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lembaga.
“Tidak harus semuanya. Disepakati saja sesuai kebutuhan. Dua S, senyum dan salam, juga tidak apa-apa” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembiasaan positif kepada anak. Seperti kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.
Menurutnya, anak perlu mengetahui alasan dan manfaat menjaga kebersihan sehingga secara bertahap tumbuh menjadi pembiasaan.
Keteladanan orang dewasa juga menjadi bagian penting. Apa yang dilakukan orangtua maupun pendidik akan mudah ditiru anak. Karena itu, lingkungan yang memberikan contoh perilaku baik menjadi salah satu bentuk pencegahan.
Dalam penanganan kasus, Fitriyah mengingatkan pentingnya dokumentasi. Setiap kasus yang terjadi perlu dicatat dan dilaporkan kepada LPA sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran dan dokumentasi bagi generasi berikutnya.
Ia juga mengingatkan agar pendidik tidak membeda-bedakan anak. Setiap keputusan harus berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak.
Termasuk dalam penggunaan bahasa, memanggil anak dengan nama bapaknya secara merendahkan dapat menjadi bentuk kekerasan verbal.
Produk Bersama IGABA
Fitriyah membuka peluang agar IGABA memiliki produk bersama, seperti buku saku perlindungan anak. Buku tersebut dapat memuat berbagai persoalan yang ditemukan di masing-masing kecamatan sehingga menjadi dokumentasi sekaligus panduan praktis bagi lembaga.
Ketua IGABA Kabupaten Bojonegoro, Dwi Anjarwati, menyampaikan terima kasih atas kegiatan yang dinilai memberikan ilmu dan keberkahan bagi para peserta.
“Semoga pertemuan seperti ini dapat dilaksanakan setiap dua atau tiga bulan sekali sehingga kami terus mendapatkan penguatan pengetahuan, termasuk tentang bullying dan persoalan perlindungan anak lainnya” tuturnya.
Dwi menegaskan kesiapan IGABA untuk terus berkolaborasi dan mengabdi sebagai relawan dalam meningkatkan upaya pencegahan serta perlindungan anak dari berbagai bentuk ancaman.
Kegiatan diakhiri dengan foto bersama sebagai bentuk kebersamaan dan komitmen untuk terus memperkuat gerakan perlindungan anak di lingkungan pendidikan dan masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments