Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Muhammadiyah Angkat Tangan di Musim Kemarau Panjang

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Muhammadiyah Angkat Tangan di Musim Kemarau Panjang
Pelaksanaan Salat Istisqa murid-murid SDM 12 dan SMPM 7 Surabaya (Agus Rosid/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Agus Rosid Jamaah Masjid Baitul Fadli Gunung Anyar Tambak Surabaya

Cuaca ekstrem melanda negeri kita selama beberapa bulan terakhir. Kondisi ini memicu kemarau berkepanjangan di hampir seluruh wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini. BMKG memprediksi kemarau 2026 lebih panjang, kering, dan ekstrem.

Kepala BMKG menjelaskan pemicu utama fenomena tersebut dalam konferensi pers. Kombinasi El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi penyebabnya.

BMKG memperkirakan puncak kemarau mundur hingga akhir Oktober 2026. Akibatnya, awal musim hujan 2026/2027 juga mengalami keterlambatan.

Lebih dari 60 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami keterlambatan tersebut. Hujan diperkirakan baru datang pada November hingga Desember.

Dampak kekeringan terhadap keseimbangan ekosistem semakin mengkhawatirkan. Data BMKG yang dikutip berbagai media menunjukkan kekeringan meluas. Kekeringan mencakup 61,91 persen wilayah Indonesia.

Sebanyak 25 provinsi mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) melebihi 60 hari. Kabupaten Bantul mencatat rekor 131 hari tanpa hujan.

Kondisi tersebut juga memperburuk krisis air bersih di Jawa Barat. Kekurangan air mengancam petani dengan risiko gagal panen. Pasokan irigasi yang terbatas memperparah ancaman tersebut.

Sejumlah pemerintah daerah akhirnya menetapkan status tanggap darurat kekeringan.

Kemarau panjang juga memperluas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seiring waktu, kawasan terbakar semakin meluas. Kebakaran tidak hanya melanda Kalimantan dan Sumatera. Api juga merambah Sulawesi dan Papua.

Bangsa Indonesia kini menghadapi ujian berat akibat kemarau panjang. Kita menghadapi krisis air bersih sekaligus ancaman karhutla.

Pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai upaya penanganan. Mereka mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Pemerintah juga menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Aparat turut menegakkan hukum terhadap pihak yang diduga memicu karhutla.

Ikhtiar di Bumi, Doa Mengetuk Pintu Langit

Namun, kita tidak boleh berhenti pada ikhtiar tersebut. Kita juga perlu mengembalikan segala urusan kepada Pemilik-Nya. Tidak ada musibah yang terjadi tanpa izin Allah.

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11).

Menghadapi ujian, kita perlu menyadari hakikat kehidupan. Sesungguhnya, kita milik Allah dan kembali kepada-Nya. Karena itu, kita harus memperkuat ketaatan, bukan menjauhi-Nya.

Kita mendekatkan diri melalui tobat, istigfar, dan doa. Kita memohon agar Allah berkenan menurunkan pertolongan-Nya.

Kondisi inilah yang mendorong Muhammadiyah Jawa Timur mengambil langkah spiritual. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur mengeluarkan imbauan Salat Istisqa.

Majelis Tabligh serta Majelis Tarjih dan Tajdid menerbitkan imbauan tersebut. Mereka mengajak masyarakat melaksanakan Salat Istisqa berjamaah di lapangan terdekat.

Edaran bertanggal 22 Oktober 2026 itu menyasar berbagai unsur. Sasarannya meliputi Majelis Tabligh PDM, PCM, dan PRM. Imbauan juga ditujukan kepada takmir Masjid Muhammadiyah.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) turut menerima edaran tersebut. Seluruh kaum muslimin juga menjadi sasaran ajakan ini.

Langkah tersebut menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak kekeringan. Salat Istisqa bukanlah bentuk kepasrahan atau penyerahan diri.

Ibadah ini juga bukan pelarian dari ketidakmampuan menghadapi cuaca ekstrem. Sebaliknya, ibadah tersebut mencerminkan keimanan saat menghadapi musibah. Di sinilah ikhtiar dan doa berjalan beriringan.

Salat Istisqa merupakan sunah Nabi Muhammad SAW saat kemarau panjang. Sebuah hadis sahih meriwayatkan praktik ibadah tersebut. Nabi SAW pernah keluar menuju tanah lapang.

Beliau kemudian menghadap kiblat dan membalikkan selendangnya. Beliau juga berdoa dengan penuh kerendahan hati.

Nabi SAW memohon hujan kepada Allah melalui doa. Beliau mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya ketika berdoa. Ketiak beliau terlihat putih saat mengangkat kedua tangan.

Ketinggian tersebut menunjukkan kesungguhan dalam Salat Istisqa. Beliau tidak mengangkat tangan setinggi itu dalam doa lainnya.

Tindakan tersebut menunjukkan kesungguhan Nabi mengetuk pintu langit. Beliau memohon agar Allah mencurahkan rahmat-Nya. Rahmat itu diharapkan menyirami bumi yang mengalami kekeringan.

Fikih Air dan Tanggung Jawab Menjaga Alam

Dalam perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah, doa menyempurnakan ikhtiar lapangan. Putusan Munas Tarjih 2014 membahas Fikih Air. Putusan tersebut menegaskan larangan merusak sumber daya air. Merusak air sebagai unsur ekosistem hukumnya haram.

Kita memohon hujan melalui doa dan istigfar. Namun, kita juga harus memperbaiki perilaku terhadap alam. Kita perlu membangun kebiasaan yang ramah lingkungan.

Sikap tersebut mencerminkan tanggung jawab mendasar manusia. Sebagai khalifah fil ardh, manusia wajib menjaga bumi.

Mengetuk pintu langit berarti mengakui kemahakuasaan Allah. Kita menyadari kuasa-Nya atas segala kejadian di bumi. Pada saat bersamaan, kita harus terus bekerja keras. Kita menjaga amanah agar kerusakan tidak semakin meluas.

Kita tidak mengetahui kapan Allah menurunkan hujan. Hujan mungkin turun setelah kita melaksanakan Salat Istisqa. Namun, kita mungkin masih harus menunggu jawaban doa. Apa pun hasilnya, kita tetap perlu menjaga keimanan.

Melalui musibah, Allah menguji keimanan dan menghapus dosa. Allah juga mengajarkan kembali arti mensyukuri nikmat. Selama ini, kita mungkin sering melalaikan nikmat air.

Salat Istisqa mengandung pelajaran penting bagi kehidupan. Kekeringan mungkin membuat bumi menjadi tandus. Namun, hati kita jangan sampai kehilangan keyakinan. Kita harus percaya bahwa pertolongan Allah sangat dekat.

Kita mengangkat tangan ke langit bukan karena langit memberi hujan. Nabi SAW mengajarkan kita merendahkan diri ke hadapan Allah. Dialah Sang Pemilik Semesta yang menentukan segala sesuatu.

Biarlah kemarau panjang berjalan sesuai takdir-Nya. Tugas kita menyempurnakan ikhtiar di bumi. Kita juga harus terus mengetuk pintu langit melalui doa.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 23/10/2026 21:05
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu