Sejarah menjadi pelajaran. Telapak tangan menjadi simbol. Dan sebuah deklarasi menjadi janji.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Deklarasi Siswa MI Muhimma Anti Kekerasan dan Anti Bullying dengan tema “Belajar dari Sejarah, Menjaga Persatuan, Menghargai Sesama”.
Deklarasi terlaksana di halaman MI Muhammadiyah Kota Madiun, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang diikuti seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan tersebut diawali dengan apel pagi dan refleksi sejarah G30S 1965, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi, cap tangan, dan tanda tangan komitmen.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menanamkan nilai persatuan, menghargai sesama, serta membangun lingkungan madrasah yang aman dan bebas dari kekerasan dan bullying.
Belajar dari Sejarah, Menjaga Persatuan
Dalam amanatnya, Kepala MI Muhimma, Lilik Mustofiyah MPd mengajak siswa menjadikan sejarah sebagai pembelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
“Sejarah bukan hanya tentang mengingat apa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah mengajarkan kita bagaimana menjadi lebih baik pada hari ini dan pada masa yang akan datang” terang Lilik.
Melalui tema “Belajar dari Sejarah, Menjaga Persatuan, Menghargai Sesama”, siswa diajak memahami bahwa sejarah bangsa bukan sekadar materi untuk diingat.
Sejarah dapat menjadi pelajaran untuk menjaga persatuan dan membangun sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi sejarah disampaikan secara sederhana dan sesuai usia siswa. Pesan utamanya adalah pentingnya menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Di samping itu, Lilik juga mengajak siswa memegang tiga prinsip sederhana.
“Tangan untuk menolong, bukan menyakiti. Mulut untuk berkata baik, bukan menghina. Hati untuk menyayangi, bukan membenci” pesannya.
Ta lupa, ia mengingatkan siswa agar tidak menjadi pelaku maupun penonton bullying.
“Kalau kita melihat teman sedang diejek, dikucilkan, atau disakiti, jangan ikut menertawakan. Kita harus berani membantu dan melaporkannya kepada guru” tambah Lilik.
Siswa Ikrar Anti Kekerasan dan Anti Bullying
Setelah refleksi sejarah, seluruh siswa mengikuti pembacaan Deklarasi Siswa MI Muhimma Anti Kekerasan dan Anti Bullying.
Dalam deklarasi tersebut, siswa berkomitmen:
- Menjaga persatuan dan persaudaraan.
- Menghormati setiap teman tanpa membeda-bedakan.
- Tidak melakukan kekerasan kepada siapa pun.
- Tidak melakukan bullying, mengejek, menghina, mengancam, atau mengucilkan teman.
- Tidak ikut-ikutan ketika melihat tindakan bullying.
- Berani membantu dan membela teman yang membutuhkan.
- Menyelesaikan masalah dengan berbicara, berdialog, dan bermusyawarah.
- Menjaga lisan, sikap, dan tindakan dalam berinteraksi dengan sesama.
- Berani mengatakan “STOP!” terhadap kekerasan dan bullying.
- Bersama-sama menciptakan MI Muhimma yang aman, nyaman, ramah, dan penuh kasih sayang.
Butir deklarasi tersebut menjadi pengingat bagi siswa bahwa komitmen anti kekerasan tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Sikap saling menghargai juga harus tercermin dalam ucapan, pergaulan, dan cara menyelesaikan masalah.
Cap Tangan Jadi Simbol Komitmen
Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui cap tangan dan tanda tangan siswa pada banner berukuran 4 × 2 meter dengan pesan: “Tangan Ini untuk Menolong, Bukan Menyakiti”.
Satu per satu siswa memberikan cap tangan dengan warna-warni yang telah disiapkan. Setelah itu, mereka membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk komitmen pribadi.
Setiap cap tangan menjadi simbol bahwa tangan siswa digunakan untuk membantu, bukan menyakiti. Sementara tanda tangan menjadi bentuk janji untuk menerapkan nilai menjaga persatuan dan menghargai sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Deklarasi Hari Ini, Komitmen Sepanjang Masa
Kepala Madrasah menegaskan bahwa kegiatan dengan tema “Belajar dari Sejarah, Menjaga Persatuan, Menghargai Sesama” tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni.
“Deklarasi hari ini bukan hanya tulisan di banner. Komitmen ini harus terlihat dalam perilaku kita setiap hari” ujar Lilik.
“Ketika melihat teman sedih, kita dekati, ketika melihat teman dikucilkan, kita ajak berteman, ketika melihat bullying, kita berani berkata STOP dan melapor kepada guru” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, MI Muhimma menghubungkan pembelajaran sejarah dengan pendidikan karakter. Siswa tidak hanya diajak memahami masa lalu, tetapi juga belajar membangun kehidupan bersama melalui sikap saling menghargai, menolak kekerasan, dan menjaga persatuan.
Tema “Belajar dari Sejarah, Menjaga Persatuan, Menghargai Sesama” menjadi pesan utama yang diharapkan terus hidup dalam keseharian warga madrasah.
Dari sejarah, siswa belajar. Dari deklarasi, siswa berkomitmen. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa membuktikan.






0 Tanggapan
Empty Comments