Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, Paud ABA Percontohan Bojonegoro menggelar kegiatan refresh Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) Semai Benih Bangsa (SBB) di kampus Paud ABA Percontohan, Jalan Dr. Sutomo No. 59 Bojonegoro, Senin (20/7/2026).
Pelatihan yang diikuti 19 guru ini bertujuan menyegarkan kembali pemahaman pendidik mengenai implementasi PHBK agar semakin siap menerapkannya secara konsisten dalam proses pembelajaran pada tahun ajaran baru.
Kegiatan berlangsung setelah jam belajar mengajar, pukul 13.00–15.00 WIB, dengan menghadirkan Arfida Luthfiyasari, S.P. sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Arfida mengulas kembali 10 Keterampilan Abad ke-21 yang menjadi fokus implementasi PHBK Semai Benih Bangsa.
Kesepuluh keterampilan tersebut meliputi karakter, kewargaan (citizenship), kolaborasi, komunikasi, kreativitas, berpikir kritis (critical thinking), kesadaran penuh (mindfulness), ketangguhan (resilience), kepemimpinan (leadership), dan metakognisi.
Menurutnya, seluruh keterampilan tersebut perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pembiasaan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.
Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan yang menghadirkan pengalaman belajar bermakna sehingga anak terbiasa berpikir, berempati, bekerja sama, mengelola emosi, serta memiliki karakter yang kuat.
Arfida menegaskan bahwa implementasi PHBK harus tampak dalam budaya sekolah sehari-hari, bukan hanya melalui penyampaian teori.
Salah satu aspek penting yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini adalah kemampuan mengenali dan mengelola emosi.
Menurutnya, anak perlu memahami adanya emosi positif dan emosi negatif sebelum belajar memahami perasaan orang lain.
“Komunikasi yang baik dimulai dari kemampuan merasakan apa yang dirasakan lawan bicara. Karena itu, anak perlu belajar mengenali emosinya terlebih dahulu sebelum memahami perasaan orang lain,” jelasnya.
Sebagai bentuk implementasi di kelas, guru dianjurkan membuat display perasaan sehingga setiap pagi anak dapat menyampaikan kondisi emosinya saat datang ke sekolah.
Melalui cara tersebut, guru lebih mudah membantu anak melakukan regulasi emosi ketika sedang sedih, marah, kecewa, maupun bahagia.
Selain mendorong lebih banyak aktivitas kelompok untuk menumbuhkan sikap gotong royong, kerja sama, kemandirian, dan rasa percaya diri, Arfida juga menekankan pentingnya budaya apresiasi kepada anak.
Guru dianjurkan membiasakan mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan atas setiap perilaku positif yang ditunjukkan peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas.
Dalam konsep PHBK, kebiasaan tersebut dikenal sebagai pilar terintegrasi.
Kepala Paud ABA Percontohan, Dwi Anjarwati, S.Pd., mengapresiasi semangat seluruh guru yang mengikuti pelatihan hingga selesai.
“Walaupun kegiatan dilaksanakan setelah jam belajar dan memasuki waktu siang hingga sore, seluruh guru tetap bersemangat mengikuti setiap materi. Semangat belajar seperti inilah yang menjadi modal penting untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak,” tuturnya.
Salah seorang peserta, Sinta Fitriani, mengaku memperoleh banyak wawasan baru melalui pelatihan tersebut.
“Setelah mengikuti kegiatan ini saya semakin memahami bahwa apresiasi sederhana berupa ucapan terima kasih dan kata-kata positif sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak,” ungkapnya.
Pelatihan ditutup dengan sesi foto bersama dan saling bersalaman sebagai simbol kebersamaan sekaligus komitmen seluruh guru untuk mengimplementasikan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter secara konsisten dalam proses pembelajaran di Paud ABA Percontohan Bojonegoro.





0 Tanggapan
Empty Comments