Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Smamda Surabaya Kembangkan Pembelajaran PJOK Berbasis Sports Science

Iklan Landscape Smamda
Smamda Surabaya Kembangkan Pembelajaran PJOK Berbasis Sports Science
SMAMDA Surabaya mengembangkan pembelajaran PJOK berbasis sports science yang menekankan kebugaran, keselamatan, proses belajar, dan karakter siswa (Maurice Anantatoer Akbar/PWMU.CO)
pwmu.co -

Tim Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SMA Muhammadiyah 2 Surabaya mengembangkan model pembelajaran berbasis sports science. Pendekatan ini menempatkan kebugaran, keterampilan gerak, keselamatan diri, pemahaman taktis, dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam pembelajaran olahraga di sekolah.

Pengembangan model tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran PJOK yang dapat diikuti seluruh siswa dengan kemampuan fisik dan pengalaman olahraga yang beragam. Dalam praktiknya, sebagian siswa merasa kurang percaya diri ketika pembelajaran memasuki materi permainan bola, seperti basket, futsal, atau voli.

Guru PJOK Smamda Surabaya, Maurice Anantatoer Akbar, S.Pd., menjelaskan bahwa pembelajaran olahraga tidak seharusnya hanya menitikberatkan pada kemampuan siswa menguasai teknik permainan tertentu.

Menurutnya, pembelajaran PJOK perlu memberi ruang kepada setiap siswa untuk mengembangkan kebugaran, memahami gerak, menjaga kesehatan, dan membangun sikap positif terhadap aktivitas fisik.

“Pembelajaran PJOK tidak hanya tentang siapa yang paling terampil memainkan bola. Setiap siswa perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing,” jelasnya.

Mengembangkan Tiga Dimensi Pembelajaran

Model pembelajaran tersebut dirumuskan melalui tagline “Sport, Sporty, Spirit”. Ketiganya menjadi fokus pengembangan siswa dalam aspek keterampilan gerak, pemahaman, dan karakter.

Pertama, Sport diarahkan pada pengembangan kemampuan psikomotor. Materinya mencakup kondisi fisik dasar, mekanika gerak, serta keterampilan melakukan aktivitas jasmani secara aman.

Kedua, Sporty berfokus pada aspek kognitif. Siswa tidak hanya diminta bergerak, tetapi juga memahami aturan, strategi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah dalam aktivitas olahraga.

Ketiga, Spirit berkaitan dengan pembentukan karakter, kedisiplinan, ketangguhan, dan nilai religius. Pendekatan tersebut diterapkan dalam lingkungan pendidikan Smamda yang membiasakan tadarus Al-Qur’an sebelum kegiatan pembelajaran.

Melalui tiga dimensi tersebut, pembelajaran PJOK diarahkan agar tidak hanya menghasilkan siswa yang aktif bergerak, tetapi juga memiliki pemahaman dan sikap yang baik dalam menjalankan aktivitas jasmani.

Penilaian Berbasis Proses dan Perkembangan

Salah satu bagian yang dikembangkan tim PJOK Smamda adalah sistem penilaian. Materi pembelajaran dipetakan ke dalam kompetensi inti dan materi pengembangan.

Kompetensi inti mencakup kebugaran jasmani, keterampilan atletik, seni bela diri, olahraga akuatik atau renang, serta pemahaman tentang kesehatan, pergaulan sehat, narkotika, dan ilmu gizi.

Sementara itu, materi pengembangan meliputi permainan bola besar, permainan bola kecil, senam lantai, dan senam berirama. Pada materi tersebut, siswa tetap diarahkan untuk mempelajari teknik dasar, tetapi penilaiannya juga mempertimbangkan partisipasi, proses belajar, usaha, dan perkembangan kemampuan.

Pendekatan ini dimaksudkan agar penilaian tidak hanya mengukur hasil akhir atau tingkat penguasaan teknik. Siswa yang belum memiliki kemampuan bermain bola secara baik tetap dapat menunjukkan perkembangan melalui latihan, kedisiplinan, pemahaman, dan partisipasi aktif.

Dengan demikian, guru dapat memberikan penilaian yang lebih menyeluruh. Aspek yang diperhatikan tidak hanya keterampilan, tetapi juga pengetahuan, sikap, keselamatan, serta perkembangan fisik siswa.

SMPM 5 Pucang SBY

Menggunakan Pendekatan Sains Olahraga

Selain mengembangkan sistem penilaian, tim PJOK Smamda juga menyusun aktivitas pembelajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar sports science.

Salah satunya melalui pemanasan berstruktur dengan pendekatan Raise, Activate, Mobilize, Potentiate atau RAMP. Pendekatan ini digunakan untuk mempersiapkan tubuh sebelum memasuki aktivitas inti melalui peningkatan suhu tubuh, aktivasi otot, mobilisasi sendi, dan gerakan persiapan.

Tim PJOK juga mengenalkan latihan gerak dan koordinasi yang dirancang sesuai kebutuhan pembelajaran. Latihan tersebut diarahkan untuk membantu siswa memahami mekanika gerak, koordinasi, kecepatan, kelincahan, dan kemampuan melakukan aktivitas jasmani secara aman.

Dalam pemantauan intensitas, guru dapat menggunakan denyut jantung dan Rate of Perceived Exertion (RPE) sebagai bahan pertimbangan. Pengukuran tersebut membantu guru menyesuaikan porsi latihan dengan kondisi, usia, dan kemampuan masing-masing siswa.

Intensitas latihan tidak disamakan untuk semua siswa. Jenis aktivitas, durasi, kondisi kesehatan, cuaca, dan tingkat kebugaran menjadi pertimbangan dalam menentukan beban pembelajaran.

Tim PJOK juga merancang periodisasi latihan yang lebih fleksibel. Siklus pembelajaran disusun secara bertahap dan dapat disesuaikan dengan kalender pendidikan, kondisi siswa, serta momentum tertentu, termasuk bulan Ramadan.

Pada masa tersebut, aktivitas olahraga dapat disesuaikan melalui latihan dengan intensitas dan dampak yang lebih rendah. Penyesuaian dilakukan agar siswa tetap aktif bergerak tanpa mengabaikan kondisi tubuh dan kebutuhan pemulihan.

Menekankan Keselamatan dan Kebiasaan Hidup Aktif

Materi atletik, bela diri, dan olahraga akuatik menjadi bagian penting dalam rancangan pembelajaran karena berkaitan dengan kemampuan dasar gerak dan keselamatan.

Atletik digunakan untuk mengembangkan kemampuan dasar seperti berlari, melompat, dan melempar. Sementara itu, seni bela diri diarahkan untuk membangun kedisiplinan, pengendalian diri, keberanian, dan keterampilan perlindungan diri.

Olahraga akuatik atau renang juga dipandang penting karena berkaitan dengan keterampilan keselamatan di lingkungan air. Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan ketersediaan fasilitas, pengawasan, dan kemampuan siswa.

Pembelajaran PJOK juga mencakup pengetahuan tentang kesehatan, pergaulan sehat, narkotika, dan gizi. Materi tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami hubungan antara aktivitas fisik, pola hidup, dan kesehatan jangka panjang.

Aktivitas jasmani yang dilakukan secara teratur sejak remaja dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif. Selain mendukung kebugaran, aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan membantu siswa mengenali pentingnya keseimbangan antara latihan, istirahat, dan asupan gizi.

Melalui pendekatan berbasis sports science, tim PJOK Smamda Surabaya berupaya menempatkan pembelajaran olahraga sebagai proses pendidikan yang mencakup kebugaran, keterampilan gerak, pemahaman, keselamatan, dan pembentukan karakter. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 16/09/2026 21:27
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu