Kamis malam, 17 September 2026. Saya menyempatkan diri ke Mushola At Tawwabun. Entah untuk keberapa kali.
Letaknya di lantai 3 Tunjungan Plaza 2 Surabaya. Orang lebih sering menyebutnya masjid. Memang terasa seperti masjid.
Bukan sekadar musala kecil di sudut mal. Tempat ibadah ini memiliki ruang yang luas. Sekitar 750 meter persegi. Cukup untuk menampung banyak jamaah.
Tetapi yang menarik bukan hanya ukurannya. Cara mengelolanya. Begitu masuk, suasananya berbeda dari bayangan saya tentang musala di pusat perbelanjaan. Ada loker. Lengkap dengan kuncinya. Ada ruang tunggu yang terasa seperti lobi hotel.
Ada petugas yang menyapa dengan ramah. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Tetapi terasa bahwa tempat ini memang dirawat. Dikelola dengan serius.
Bagi pengunjung mal, keberadaan tempat ibadah seperti ini sangat berarti. Orang datang ke mal untuk banyak urusan. Berbelanja. Makan. Bertemu teman. Menonton film. Mengurus pekerjaan. Kadang sekadar berjalan-jalan.
Waktu berjalan cepat. Tiba-tiba azan berkumandang. Di situlah masjid menjadi penting. Jamaah tidak perlu meninggalkan mal. Tidak perlu mencari-cari masjid di luar.
Tidak perlu terburu-buru menyelesaikan urusan dunia karena khawatir kehilangan waktu salat. Cukup naik beberapa langkah. Masuk. Berwudu. Lalu salat. Sederhana. Tapi dampaknya tidak sederhana.
***
Masjid di mal juga menjadi semacam oase. Setelah berdesakan dengan manusia. Setelah melihat lampu toko. Setelah mendengar musik. Setelah berjalan dari satu lantai ke lantai lain.
Kita masuk ke ruang yang berbeda. Lebih tenang.Lebih teduh. Suara menjadi lebih pelan. Langkah menjadi lebih tertib.
Untuk beberapa menit, kita seperti diberi kesempatan berhenti. Bukan untuk meninggalkan kehidupan. Justru untuk menata kembali diri sebelum kembali ke dalamnya.
Barangkali di situlah makna penting masjid di pusat perbelanjaan. Ia bukan sekadar bangunan untuk menunaikan kewajiban. Ia menjadi jeda. Di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Keberadaan masjid atau musala di mal sebenarnya bukan hal sepele. Ia menunjukkan sesuatu. Bahwa kehidupan modern tidak harus membuat ibadah tersingkir ke pinggir.
Pusat perbelanjaan boleh menjadi tempat transaksi. Tetapi manusia yang datang ke sana tetap manusia yang membutuhkan ruang untuk menghadap Tuhannya.
Karena itu, ukuran keberadaan tempat ibadah bukan hanya apakah ada. Tetapi bagaimana ia dihadirkan. Apakah bersih? Apakah nyaman? Apakah mudah ditemukan? Apakah jamaah merasa dihargai?
Apakah pengelola memperlakukannya sebagai bagian penting dari pelayanan? Atau sekadar memenuhi kewajiban menyediakan ruangan?
Saya teringat Ismail Nachu. Ketika menjabat Ketua ICMI Orwil Jawa Timur, dia pernah memberikan penghargaan kepada masjid dan musala yang berada di pusat-pusat perbelanjaan.
Yang diapresiasi bukan sekadar keberadaannya. Tetapi keseriusan pengelola. Fasilitasnya diperhatikan. Kenyamanannya dipikirkan. Pelayanannya ditata.
Ada kesadaran bahwa orang yang datang ke mal bukan hanya membutuhkan tempat membeli sesuatu.
Mereka juga membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak. Untuk salat. Untuk berdoa. Untuk mengembalikan ketenangan yang mungkin hilang di tengah hiruk-pikuk.
***
Ini sebenarnya pelajaran penting bagi pengelolaan masjid di negeri ini. Masjid tidak cukup hanya dibangun. Setelah itu selesai.
Masjid membutuhkan pengelolaan. Membutuhkan kebersihan. Membutuhkan pelayanan. Membutuhkan orang-orang yang memikirkan kebutuhan jamaah.
Masjid juga membutuhkan cara pandang baru. Jamaah bukan sekadar orang yang datang untuk salat. Mereka adalah tamu. Dan tamu harus dihormati. Karena itu, loker kecil pun bisa berarti.
Petugas yang ramah pun bisa berarti. Tempat wudu yang bersih pun berarti. Ruang yang nyaman pun berarti.
Hal-hal kecil itu mungkin tidak pernah masuk dalam laporan besar. Tetapi dirasakan langsung oleh jamaah.
Di sinilah organisasi Islam di Indonesia bisa belajar. Mengelola masjid bukan hanya soal siapa yang menjadi imam. Bukan hanya soal berapa kali kajian diselenggarakan.
Bukan pula hanya soal berapa besar dana yang terkumpul. Ada hal lain yang sering terlupakan.
Bagaimana jamaah merasa nyaman ketika berada di rumah Allah. Bagaimana orang yang baru pertama kali datang tidak merasa asing. Bagaimana anak muda tidak merasa masjid adalah ruang yang jauh dari kehidupan mereka.
Bagaimana masjid menjadi tempat yang hidup. Terbuka. Bersih. Ramah. Dan dikelola secara profesional tanpa kehilangan ruh ibadahnya.
Mushola At Tawwabun di Tunjungan Plaza 2 memberi contoh kecil tentang itu. Mal adalah ruang komersial.
Tetapi di dalamnya ada ruang yang mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya soal membeli dan menjual.
Ada waktu untuk berhenti. Ada waktu untuk bersujud. Dan setelah itu, kita kembali berjalan. Kembali ke keramaian. Dengan hati yang semoga sedikit lebih tenang.
Mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana membuat masjid semewah mal. Bukan pula bagaimana membuat masjid tampak seperti lobi hotel.
Yang lebih penting adalah bagaimana membuat orang merasa dihargai ketika masuk ke rumah Allah.
Sebab masjid yang baik bukan yang membuat jamaah terkagum-kagum pada bangunannya. Tetapi yang membuat mereka ingin kembali. Lagi. Dan lagi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments