Musik tradisional Jidor tampil dengan warna berbeda dalam Jalan Santai Masyarakat dan Santri (Masyan) Al-Ishlah dalam rangka milad empat dasawarsa Al-Ishlah, Ahad (13/9/2026).
Jidor Surya Nada binaan Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Sendangagung turut mengiringi kegiatan tersebut. Menggunakan gerobak biru bertuliskan “JIDOR SURYA NADA SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran Lamongan”, grup ini tampil di sepanjang rute jalan santai.
Sebanyak 25 personel binaan PR IPM Sendangagung tampil membawakan sejumlah lagu daerah, lagu anak-anak, lagu religi, dan lagu organisasi. Mereka membawakan “Suwe Ora Jamu”, “Burung Kutilang”, “Perahu Layar”, “Sang Surya”, “Lir-Ilir”, hingga “Sayonara”.
Para pemain Jidor Surya Nada dibina oleh Gondo Waloyo dan Iwantoro. Keduanya mendampingi para pelajar dalam mengenal dan memainkan musik tradisional Jidor.
Berbeda dari permainan Jidor yang umumnya didominasi alat musik terbang, Jidor Surya Nada mengkolaborasikan alat tersebut dengan sejumlah instrumen gamelan. Di antaranya gambang, demung, saron, dan peking.
Perpaduan tersebut membuat permainan Jidor memiliki aransemen yang lebih variatif. Selain memainkan musik tradisional, para pelajar juga dapat membawakan lagu-lagu yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Pembina Jidor Surya Nada, Iwantoro, mengatakan adaptasi diperlukan agar musik Jidor dapat terus dikenal oleh anak muda.
“Untuk kawula muda, jidor harus diadaptasi agar bisa masuk di dunia anak muda, kalau dengan pakem aslinya dikhawatirkan justru jidor akan mati seiring langkanya para pemain,” ujar Iwantoro.
Menurutnya, keberadaan pemain Jidor asli Sendangagung saat ini semakin berkurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian pemain senior mulai berusia lanjut.
“Pemain jidor asli Sendangagung makin krisis jumlah pemain, semakin berkurang seiring berkurangnya performa pemain senior, musik ini bisa punah bersama para pemain yang termakan usia,” imbuhnya.
Karena itu, keterlibatan pelajar dalam Jidor Surya Nada menjadi salah satu upaya mengenalkan musik tradisional kepada generasi berikutnya. Para pemain tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga mengenal lagu-lagu yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat.
Penampilan Jidor Surya Nada dalam Masyan Al-Ishlah memperlihatkan perpaduan antara musik tradisional dan kreativitas pelajar. Melalui pembinaan dan pengembangan aransemen, grup tersebut terus menghidupkan Jidor di tengah berkurangnya pemain musik tradisional di Sendangagung. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments