Empat jam perjalanan dari Guangzhou membawa rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah ke wajah lain pendidikan China.
Rabu (16/9/2026), rombongan Training Manajemen and Leadership Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah tiba di Shunde Liang Qiuju Vocational Technical School, Foshan.
Sebuah sekolah kejuruan yang tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menjadikan teknologi, karakter, budaya, dan perhatian terhadap psikologi siswa sebagai bagian dari pendidikan.
Begitu turun dari kendaraan, rombongan langsung disambut jajaran pimpinan sekolah, guru, Dinas Pendidikan, serta atase pendidikan China dan Indonesia.
Namun, bukan sambutan manusia yang paling menarik perhatian. Sebuah robot justru menjadi pemandu pertama.
Robot itu mengantarkan rombongan dari satu ruangan ke ruangan lain untuk melihat fasilitas sekolah. Dari ruang pembelajaran hingga laboratorium. Teknologi yang biasanya hanya menjadi bahan pembicaraan tentang masa depan, di sekolah ini sudah menjadi bagian dari keseharian pendidikan.

Di ruang pembelajaran, rombongan melihat langsung proses pendidikan berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Mereka juga menyaksikan pembelajaran kuliner yang menjadi salah satu bidang keahlian sekolah.
Sekolah yang berdiri di atas lahan sekitar empat hektare itu memiliki 3.400 siswa. Shunde Liang Qiuju Vocational Technical School dikenal sebagai SMK percontohan di China dengan bidang keahlian manufaktur, AI, dan kuliner.
Prestasinya tidak berhenti di tingkat nasional. Sekolah ini juga memiliki capaian di tingkat internasional.
Tetapi teknologi bukan satu-satunya hal yang ingin ditunjukkan sekolah itu kepada tamunya.
Di balik robot dan laboratorium AI, ada perhatian besar terhadap pertanyaan yang lebih mendasar: siswa seperti apa yang hendak dibentuk?
Dalam sesi pertemuan, pihak sekolah menjelaskan program dan budaya pendidikan yang mereka kembangkan. Fokusnya bukan hanya membuat siswa menguasai pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membangun karakter, budaya, dan jiwa nasionalisme.

Siswa didorong menjadi pribadi yang terbuka, berprestasi, inovatif, pantang menyerah, serta memiliki keberanian untuk mengejar mimpi.
Karena itu, sekolah tersebut membangun sepuluh budaya yang menjadi bagian dari kehidupan pendidikan siswa: mimpi, sosial, karakter, pengetahuan, AI, olahraga, memasak, kesenian, relawan, serta penghargaan terhadap tradisi China.
Daftar itu menarik. AI ditempatkan berdampingan dengan karakter. Teknologi berjalan bersama kesenian. Olahraga beriringan dengan kegiatan sosial dan kerelawanan. Sementara tradisi tetap mendapat ruang.
Dengan kata lain, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang bisa dilakukan siswa dengan teknologi, tetapi juga siapa mereka ketika teknologi itu berada di tangan mereka.
Perhatian sekolah bahkan menjangkau wilayah yang sering luput dalam pendidikan berbasis prestasi: kesehatan psikologis siswa.
Sekolah menyediakan berbagai layanan konsultasi psikologi. Bukan hanya untuk persoalan pribadi, tetapi juga masalah keluarga maupun konseling kelompok.
Hal itu menunjukkan bahwa siswa tidak dipandang semata-mata sebagai angka prestasi atau calon tenaga kerja. Mereka juga diperlakukan sebagai manusia yang memiliki persoalan, emosi, keluarga, dan kebutuhan untuk didampingi.
Kunjungan kemudian ditutup dengan pertukaran suvenir antara kedua pihak. Rombongan pun kembali menuju bus.

Robot yang tadi menyambut telah ditinggalkan di dalam gedung. Namun, ada sesuatu yang lebih penting yang ikut dibawa pulang: sebuah gambaran bahwa sekolah masa depan mungkin bukan sekadar sekolah yang paling canggih teknologinya.
Sekolah masa depan adalah sekolah yang mampu mempertemukan teknologi dengan manusia.
AI boleh mengantar siswa menuju masa depan. Tetapi mimpi, karakter, budaya, dan kepedulian tetap harus menentukan ke mana mereka berjalan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments