1.700 siswa dari 18 etnis belajar bersama di Shi Hui Min School, Guangzhou, China. Selasa sore, 15 September 2026, keberagaman itu menyambut rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah bukan lewat pidato, melainkan melalui tarian, kungfu, musik, dan senyum anak-anak.
Sekitar pukul 17.00 waktu setempat, halaman sekolah yang luas itu mulai dipenuhi aktivitas.
Para guru dan siswa telah menunggu kedatangan rombongan. Sambutan berlangsung hangat. Puluhan siswa bersiap menunjukkan berbagai penampilan yang telah mereka persiapkan.
Pertunjukan dibuka dengan permainan tali. Beberapa siswa memperagakan berbagai teknik dengan gerakan yang cepat dan terampil.
Tali berputar, kaki melompat, tubuh bergerak mengikuti irama. Permainan sederhana itu berubah menjadi tontonan yang menarik.
Tidak lama kemudian, para siswi mengambil giliran. Mereka menampilkan tarian khas China dengan gerakan yang teratur dan kompak. Suasana halaman sekolah semakin meriah.
Lalu muncul kelompok siswa dengan penampilan kungfu. Berbagai jurus diperagakan. Sebagian menggunakan senjata.
Selama ini, adegan semacam itu mungkin lebih sering dilihat melalui film. Sore itu, rombongan Muhammadiyah menyaksikannya secara langsung, dimainkan oleh anak-anak sekolah.
Namun, Shi Hui Min School tidak hanya ingin memperlihatkan apa yang bisa dilakukan siswanya.
Rombongan juga diajak melihat bagaimana sekolah itu menjadi ruang belajar bagi anak-anak dari latar belakang yang beragam.

Belajar Tidak Hanya di Dalam Kelas
Shi Hui Min School memiliki sekitar 1.700 siswa kelas 1 hingga kelas 6. Mereka berasal dari 18 etnis.
Angka itu menjadi lebih bermakna ketika rombongan berkeliling melihat berbagai fasilitas pendidikan yang tersedia.
Perpustakaan menjadi salah satu tempat yang dikunjungi. Begitu pula laboratorium bahasa.
Namun, perhatian rombongan tertuju pada sebuah tempat yang tidak lazim ditemukan sebagai ruang belajar: kebun sekolah di lantai tujuh.
Di sana anak-anak belajar bertani. Mereka diperkenalkan pada tanaman dan proses bercocok tanam. Sekolah membawa pengalaman belajar keluar dari ruang kelas dan mendekatkannya kepada kehidupan sehari-hari.
Pendidikan tidak hanya berlangsung di antara papan tulis, buku, dan meja belajar. Anak-anak juga diajak mengenal bagaimana sesuatu tumbuh.
Dari kebun, rombongan melanjutkan kunjungan ke ruang latihan bernyanyi. Di sinilah suasana kembali mencair.
Anak-anak tengah berlatih bernyanyi bersama ketika salah seorang anggota rombongan mendapat kesempatan memainkan piano.
Rofiq langsung gercep mengambil posisi. Tangannya mulai menekan tuts piano. Yang terdengar kemudian adalah Mars Sang Surya.
Lagu yang akrab bagi warga Muhammadiyah itu menggema di ruang sekolah di Guangzhou.
Rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah larut dalam iringan piano. Mereka bernyanyi bersama.
Anak-anak Shi Hui Min School ikut menikmati suasana. Tepuk tangan mereka terdengar serentak, mengikuti irama lagu.
Untuk beberapa saat, tidak terasa lagi siapa yang menjadi tamu dan siapa yang menjadi tuan rumah.
Musik menemukan caranya sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang berbeda bahasa dan latar belakang.

Mencoba Menulis Bahasa China
Dari ruang musik, rombongan memasuki laboratorium bahasa. Di ruangan tersebut, siswa belajar menulis bahasa China.
Kali ini rombongan tidak hanya menjadi penonton. Mereka mendapat kesempatan mencoba sendiri.
Alat tulis mulai bergerak. Aksara China yang bentuknya tidak mudah bagi orang yang terbiasa dengan alfabet Latin mulai dibuat satu per satu.
Hasilnya cukup menggembirakan. Mungkin belum sesempurna tulisan anak-anak yang setiap hari berlatih. Namun pengalaman singkat itu memberikan kesan tersendiri.
Bahasa ternyata bukan hanya soal cara membaca dan menulis. Bahasa juga menjadi pintu untuk mengenal kebudayaan.
Kunjungan berlanjut ke ruang pertemuan yang didesain menyerupai teater. Ruangan itu luas dan tertata apik.
Sesi pertemuan diisi sambutan dari kepala sekolah, perwakilan Dinas Pendidikan Guangzhou, atase pendidikan China dan Indonesia, serta perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Alpha Amirrachman, PhD.
Kenang-kenangan kemudian diserahkan dari kedua pihak. Foto bersama menjadi penutup agenda resmi kunjungan. Selesai.
Setidaknya secara acara. Sebab, justru beberapa langkah sebelum meninggalkan sekolah, sebuah perjumpaan sederhana memberikan kesan yang berbeda.

Dua Anak di Pintu Sekolah
Rombongan bersiap menuju hotel. Saya berjalan meninggalkan halaman sekolah ketika dua orang siswa mendekati saya.
“Assalamualaikum.”
Saya menjawab, “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Saya kemudian bertanya kepada mereka.
“Apakah kamu Muslim?”
“Iya.”
“Siapa namamu?”
“Kholid.”
“Kalau kamu?”
“Zumma.”
Percakapan itu sangat singkat.
Tidak ada panggung. Tidak ada sambutan. Tidak ada tepuk tangan. Hanya salam, pertanyaan sederhana, dua nama, lalu pamit.
Saya meninggalkan Shi Hui Min School bersama rombongan menuju hotel. Namun, justru dua anak itu yang terus teringat.
Sore itu, kami datang ke sebuah sekolah dengan 1.700 siswa dari 18 etnis. Kami menyaksikan permainan tali, tarian China, kungfu, belajar bertani di lantai tujuh, bernyanyi bersama, memainkan piano, dan mencoba menulis bahasa China.
Semua menarik. Tetapi di ujung kunjungan, dua anak bernama Kholid dan Zumma meninggalkan kesan yang sederhana sekaligus dekat. Mereka hanya mengucapkan salam.
Di Guangzhou yang jauh dari Indonesia, di sebuah sekolah tempat anak-anak dari 18 etnis belajar bersama, salam itu terdengar seperti sebuah jembatan kecil.
Jembatan yang menghubungkan perjalanan, kebudayaan, dan keyakinan. Kadang-kadang, perjumpaan yang paling membekas memang tidak membutuhkan banyak kata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments