Seseorang yang baru pulang bekerja seharian setibanya di rumah dia mengatakan, “Saya capek, saya lelah“.
Sebagai manusia ucapan itu manusiawi. Karena sifat manusia memang suka berkeluh kesah atau mengeluh. (QS. Al Ma’arij:19). Namun sebagai seorang muslim atau hamba Allah Azza Wa Jalla apa kah itu patut dan layak diucapkan?
Sebagai muslim yang menjadi hamba Allah Azza Wa Jalla tentunya berbeda dengan manusia pada umumnya.
Seorang muslim memiliki nilai- nilai tersendiri dalam hidupnya. Selain berkaitan dengan pandangan hidupnya (worldview), juga sebagai hamba-Nya, ia harus berusaha untuk tidak mengeluh dan berkata capek dalam keada an bagaimana pun.
Landasan Tidak Mengeluh
Sikap tidak suka mengeluh dan berkata capek bagi seorang muslim dan hamba Allah Azza Wa Jalla adalah karena dirinya memiliki landasan yang kuat. Landasannya yaitu antara lain:
Pertama, bahwa seorang muslim yang menjadi hamba Allah menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan-Nya. Sebagai ciptaan Nya, maka saat dirinya bekerja keras dalam hidupnya menyadari bahwa hal itu merupakan bagian dari ibadah kepada-Nya.
Jika yang dikerjakan itu adalah, maka ia tentu tidak akan mengeluh dan berka ta capek sesudah melaksanakannya. (QS. Adz- Dzariat :56, Al insyirah:8, Al Bayyinah:5).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal sebagai hamba Allah yang taat dalam beribadah. Beliau biasa melaksanakan shalat (qiyamul) lail pada setiap malam.
Hal itu membuat istrinya, Aisyah Radhiyallahu’anha merasa heran, sebab beliau tidak ada capek-capeknya. Hal ini dikemukakan dalam hadits sebagai beri kut.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau pecah-pecah (bengkak). Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini, pada hal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Tidakkah berpahala jika aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?'” (HR. Bukhari No. 4837 dan Muslim No. 2820).
Kedua, mentalitas kuat. Seorang muslim yang memiliki mentalitas atau jiwa yang kuat membuat dirinya tidak mudah mengeluh dan berkata capek.
Mentalitas kuat karena telah mendapatkan tempaan dan pendidikan yang baik dan mendalam. Antara lain pemahaman tentang makna hidup dan alasan apa yang membuat manusia harus bekerja keras dalam hidupnya.
Burung yang terbang tinggi setiap hari tidak pernah mengeluh capek dan berkata lelah, karena hewan itu bekerja keras dalam mencari rezki untuk makan diri dan anaknya sebagai sebuah rutinitas atau kebiasaan sesuai instingnya.
Bagi manusia bekerja itu sebagai sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkannya. (QS. At Taubah:105,Al Jum’ah:10).
Apabila hal itu yang menjadi landasan hidup seorang muslim sebagai hamba Allah, maka ia tidak akan mengeluh dan berkata capek.
Malah, ia merasa bahagia dan bersyukur, karena ibadah dan kewajibannya dapat ditunaikan dengan baik. Sekalipun ia harus melakukannya itu dengan kerja keras dan serius. (QS.Al Baqarah:152, Ibrahim :7, Al Insyirah:8).
Dalam bekerja agar seorang muslim tidak me ngeluh dan berkata capek memang harus memili ki mental yang kuat dan tangguh. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di cintai oleh Allah daripada Muk min yang lemah, namun pada masing-masingnya ada kebaikan. Semangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim).
Ketiga, keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suri teladan bagi seluruh umat manusia. (QS.Al Ahzab :21) Apa lagi soal keimanan dan ketaqwaan pada diri beliau yang sedemikian tinggi. (QS. Al Baqa rah:285).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda, “Adapun demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Muslim yang beriman dan bertaqwa tentu tidak akan mengeluh dan berkata capek, walaupun ia habis bekerja keras dan berbahaya.
Dia lakukan saja pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan bahaya apapun ia hadapi dengan tenang saja. (QS. Ar Ra’d:28, Al Fath:4).





0 Tanggapan
Empty Comments