Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Untuk Apa Kita Menjalani Hidup?

Iklan Landscape Smamda
Untuk Apa Kita Menjalani Hidup?
Foto: vecteezy
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya untuk apa kita hidup?

Setiap hari kita bangun, bekerja, mencari nafkah, makan, minum, beristirahat, lalu mengulangi rutinitas yang sama. Ada yang sibuk mengejar karier. Ada yang mengumpulkan harta. Ada yang mengejar jabatan dan pengakuan. Ada pula yang sekadar berusaha bertahan agar kebutuhan keluarga hari ini terpenuhi.

Semua itu penting. Tetapi hidup tentu tidak berhenti di sana.

“Hidup ini bukan untuk makan, minum dan tidur, tetapi untuk menegakkan kalimat Allah ‘Azza wa Jalla di muka bumi.”

Kalimat itu mengajak kita melihat hidup dari jarak yang lebih jauh. Bahwa manusia tidak sekadar hidup untuk dirinya sendiri. Ada amanah yang harus dijalankan. Ada kebaikan yang harus ditegakkan. Ada manfaat yang semestinya ditinggalkan untuk orang lain.

Ketika Dunia Terasa Segalanya

Ada seorang ayah yang setiap pagi berangkat ketika anak-anaknya masih tidur. Ia pulang ketika mereka hampir terlelap.

Bertahun-tahun ia bekerja. Rumah menjadi lebih baik. Kendaraan berganti. Tabungan bertambah. Kebutuhan keluarga terpenuhi.

Suatu hari, ketika anaknya sudah dewasa, ia baru menyadari sesuatu: ternyata ada banyak pertumbuhan anak yang ia lewatkan.

Ia memang berhasil mengumpulkan banyak hal. Tetapi waktu yang hilang tidak dapat dibeli kembali.

Di situlah kita diingatkan bahwa dunia memang perlu dijalani, tetapi jangan sampai dunia membuat kita lupa kepada tujuan akhir.

“Dunia ini kecil. Terlalu kecil untuk diperebutkan, terlalu besar untuk dilupakan akhiratnya.”

Betapa sering manusia bertengkar karena sesuatu yang nilainya sebenarnya tidak seberapa. Berebut jabatan. Berebut pengaruh. Berebut pujian. Bahkan kadang hubungan persaudaraan retak hanya karena harta.

Padahal ketika usia sampai di ujung, semua yang diperebutkan itu akan ditinggalkan.

Yang ikut bersama kita bukan rumah yang besar, bukan jabatan yang tinggi, bukan pula pujian manusia. Yang menemani adalah amal yang pernah kita kerjakan.

Jangan Sampai Salah Bertransaksi

Ada orang yang sepanjang hidupnya mengejar dunia, lalu mengorbankan prinsip.

Demi keuntungan, ia mengabaikan kejujuran. Demi jabatan, ia mengorbankan persahabatan. Demi popularitas, ia rela mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak diyakini. Demi harta, ia mengorbankan waktu bersama keluarga dan bahkan ketenangan hati.

Itulah transaksi yang sesungguhnya merugikan.

“Orang yang menjual akhiratnya untuk dunia, dia telah melakukan transaksi paling merugi dalam sejarah.”

Dunia memang bisa memberikan kesenangan. Tetapi kesenangan itu sementara. Sebaliknya, amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas menjadi bekal yang tidak berhenti ketika kehidupan dunia berakhir.

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita boleh mencari dunia. Tentu boleh.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dunia menjadi tujuan terakhir.

Kebaikan Selalu Memerlukan Pengorbanan

Ada seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan kebutuhan anak-anaknya. Ia mungkin tidak pernah masuk berita. Tidak memiliki jabatan. Tidak dikenal banyak orang.

Tetapi setiap hari ia bangun lebih awal, bekerja, mengurus rumah, mendampingi anak belajar, dan tetap tersenyum meski lelah.

Tidak banyak orang melihat pengorbanannya.

Namun dari rumah sederhana seperti itu, bisa lahir anak-anak yang kelak memberi manfaat bagi banyak orang.

SMPM 5 Pucang SBY

Begitulah kebaikan bekerja. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu mendapatkan tepuk tangan.

Sayyid Qutub rahimahullah mengingatkan: “Agama (Islam) ini tidak butuh orang yang banyak bicara, tapi butuh orang yang banyak berkorban.”

Kebaikan bukan hanya perkara kata-kata. Ia membutuhkan waktu. Tenaga. Pikiran. Harta. Bahkan terkadang kesediaan untuk menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.

Karena itu, orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan kebaikan tidak selalu memilih jalan yang paling mudah.

Ada Lelah yang Bernilai Ibadah

Seorang guru mungkin pulang dalam keadaan lelah setelah seharian mengajar. Seorang pekerja mungkin harus menempuh perjalanan panjang demi menafkahi keluarganya. Seorang relawan mungkin menghabiskan akhir pekannya membantu orang yang sedang kesulitan.

Lelah tetaplah lelah. Tetapi ketika lelah itu hadir karena menjalankan amanah dan mencari rida Allah, ia memiliki makna yang berbeda.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengingatkan: “Tidak akan tegak kebenaran, kecuali ada yang mau lelah, lapar dan berkorban karenanya.”

Kebenaran tidak selalu tumbuh di tempat yang nyaman.

Ada kalanya seseorang harus memilih tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan. Tetap amanah ketika orang lain mulai mengabaikannya. Tetap membantu ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih.

Di situlah nilai sebuah perjuangan diuji.

Ketika Harus Berjalan Sendirian

Ada saat ketika kita melakukan sesuatu yang benar, tetapi tidak banyak orang yang mendukung.

Kita memilih jujur ketika orang lain memilih mencari celah. Kita memilih meminta maaf ketika sebenarnya ego ingin mempertahankan diri. Kita memilih memegang amanah ketika ada kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Pada saat seperti itu, seseorang mungkin merasa sendirian. Namun kesendirian bukan selalu tanda bahwa kita berada di jalan yang salah.

“Kemenangan itu bukan saat musuh kalah. Kemenangan (sejati) itu saat kau tetap tegak di atas kebenaran walaupun sendirian.”

Pesan ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu tepuk tangan manusia.

Kadang kemenangan terbesar adalah ketika hati tetap mampu mengatakan, “Saya memilih yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Hidup yang Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Pada akhirnya, pertanyaan penting dalam hidup bukan hanya: berapa banyak yang sudah kita miliki?

Tetapi juga: berapa banyak kebaikan yang sudah kita tinggalkan? Berapa orang yang pernah kita bantu? Berapa hati yang pernah kita kuatkan? Berapa masalah yang menjadi lebih ringan karena kehadiran kita? Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk sesuatu yang bernilai di hadapan Allah?

Kita semua sedang berjalan menuju satu titik yang sama: kematian. Yang membedakan adalah apa yang kita kerjakan sebelum sampai ke sana.

Maka mari menjalani dunia tanpa diperbudak olehnya. Mencari rezeki tanpa menjual prinsip. Mengejar keberhasilan tanpa melupakan akhirat. Berbicara tentang kebaikan sekaligus berusaha melakukannya.

Sebab hidup terlalu berharga jika hanya digunakan untuk makan, minum, tidur, bekerja, lalu mengulang semuanya tanpa tujuan.

Hidup adalah amanah. Dan amanah terbaik adalah ketika keberadaan kita membuat dunia sedikit lebih baik daripada sebelum kita datang. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 16/09/2026 08:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu