Waktu adalah modal berharga untuk mengumpulkan bekal amal saleh. Karena itu, orang yang memahami hakikat waktu tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja tanpa manfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada satu anggota tubuh yang tampaknya sederhana, tetapi pengaruhnya luar biasa: lidah.
Dengan lidah, seseorang bisa mengucapkan zikir, membaca Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, menghibur orang yang sedang bersedih, atau mengucapkan kalimat yang membuat orang lain kembali bersemangat. Dari sesuatu yang sederhana itu, pahala bisa mengalir.
Namun, lidah juga dapat menjadi sumber bencana. Kita sering menyaksikan persoalan kecil bermula dari percakapan sederhana.
Obrolan di ruang keluarga, percakapan di warung kopi, perbincangan di tempat kerja, bahkan percakapan dalam grup WhatsApp bisa berubah menjadi panjang hanya karena seseorang membicarakan hal yang sebenarnya tidak perlu.
Semula hanya bertanya tentang orang lain. Lalu berkembang menjadi komentar. Dari komentar berubah menjadi penilaian. Tidak jarang akhirnya menjadi gunjingan, prasangka, bahkan permusuhan.
Satu kalimat yang keluar dari mulut kadang hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun.
Hubungan pertemanan bisa renggang, keluarga bisa berselisih, dan nama baik seseorang bisa rusak hanya karena ucapan yang tidak dijaga.
Karena itu, bencana yang dapat ditimbulkan lidah tidak selalu berupa perkataan kasar atau fitnah. Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat pun dapat menjadi persoalan ketika membuat waktu terbuang dan hati semakin jauh dari kebaikan.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, dan al-Baghawi. Dishahihkan oleh al-Albani)
Hadis ini mengajarkan sebuah sikap sederhana tetapi tidak selalu mudah dilakukan: belajar meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfaat.
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus diteruskan. Tidak semua persoalan orang lain harus dibicarakan. Dan tidak setiap percakapan harus kita ikuti. Ada kalanya diam justru menjadi bentuk kebaikan.
Lidah seharusnya menjadi sarana untuk menabung bekal di sisi Allah Azza Wa Jalla. Ketika ada kesempatan untuk berzikir, mari berzikir.
Ketika ada kesempatan untuk menasihati dalam kebaikan, mari menyampaikan dengan cara yang baik. Ketika tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk dikatakan, diam bisa menjadi pilihan yang lebih selamat.
Sebab, menjaga lidah pada hakikatnya bukan hanya menjaga ucapan. Kita sedang menjaga hati, menjaga hubungan dengan sesama, dan menjaga diri dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan lisan kita sebagai sumber kebaikan, bukan sumber bencana.
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa’alaa aali Muhammad.
Yaa Allah, Yaa Rabb, Yaa Rahman, Yaa Rahim, ampuni salah dan dosa kami. Jadikanlah kami sebagai hamba yang istikamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Tetapkan kami sebagai hamba yang tetap beriman, berislam, sehat, serta selalu berada dalam limpahan hidayah, rahmat, dan lindungan-Mu di dunia dan akhirat.
Yaa Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang berkah, dan amalan yang Engkau terima.
Yaa Allah, terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Aamiin.





0 Tanggapan
Empty Comments