Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Takwa Tidak Berhenti di Atas Sajadah

Iklan Landscape Smamda
Takwa Tidak Berhenti di Atas Sajadah
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada orang yang rajin ke masjid. Salatnya tidak pernah ditinggalkan. Bahkan ia berusaha selalu berjamaah. Tetapi, di rumah ia mudah marah. Kepada istrinya keras. Kepada anaknya mudah membentak. Kepada tetangganya sulit menyapa.

Di tempat kerja, dia gampang tersinggung. Sedikit berbeda pendapat, langsung merasa paling benar.

Lalu kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah salat seharusnya membentuk kehidupan?

Rasulullah saw menjelaskan bahwa salat berjamaah memiliki keutamaan yang besar. Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.

Namun, salat bukan sekadar gerakan yang selesai ketika salam diucapkan. Salat seharusnya meninggalkan bekas. Bekas itu terlihat dalam cara kita berbicara. Dalam cara kita memperlakukan orang lain. Dalam cara kita menahan marah. Dalam cara kita memaafkan kesalahan.

Karena ketika Rasulullah saw ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab:

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)

Dua hal ini seperti dua sisi mata uang. Takwa membuat seseorang merasa selalu diawasi Allah. Akhlak membuat kesadaran itu terlihat dalam hubungan dengan manusia.

Orang yang bertakwa tidak hanya takut melakukan dosa ketika sendirian. Ia juga berhati-hati ketika berbicara kepada orang lain. Ia tahu bahwa setiap kata akan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, ia tidak mudah menghina. Tidak ringan memfitnah. Tidak gemar membuka aib. Tidak merasa harus menang dalam setiap perdebatan.

Allah SWT berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini terasa sederhana. Tetapi tidak mudah menjalankannya. Bayangkan seseorang sedang dimaki. Ia sebenarnya mampu membalas. Ia punya cukup alasan untuk membalas lebih keras.

Tetapi ia memilih diam. Bukan karena kalah. Bukan pula karena tidak mampu. Ia diam karena ingin menjaga hatinya. Ia tahu, membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang masalah.

Di situlah takwa bekerja. Takwa tidak selalu terlihat dalam sesuatu yang besar. Kadang ia hadir dalam keputusan kecil. Ketika kita memilih memaafkan. Ketika kita menahan lidah.

Ketika kita tidak membalas pesan dengan kemarahan. Ketika kita tidak ikut membicarakan keburukan seseorang.

Ketika kita tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat. Dan ketika kita memilih meminta maaf meskipun ego mengatakan bahwa kita tidak salah.

Salat seharusnya menjadi tempat kita kembali. Tempat hati yang gaduh ditenangkan. Tempat kesalahan disadari. Tempat manusia mengingat bahwa dirinya hanyalah hamba.

Karena itu, jadikan salat sebagai cahaya hidup. Sebagai penenang jiwa. Sebagai penuntun langkah.

Jangan sampai tubuh kita berdiri di atas sajadah, tetapi hati kita masih sibuk mengejar pujian manusia.

SMPM 5 Pucang SBY

Jangan sampai dahi kita sering menyentuh tempat sujud, tetapi lisan kita masih mudah menyakiti. Jangan sampai kita bangga dengan banyaknya rakaat, tetapi semakin sulit memaafkan.

Abdul Qadir Jailani rahimahullah mengingatkan: “Tangisan orang yang bertobat lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada tasbihnya orang yang ujub.”

Ada pelajaran penting di sana. Allah tidak hanya melihat banyaknya amal. Allah juga melihat hati di balik amal itu. Sebab amal yang banyak bisa kehilangan makna ketika melahirkan kesombongan.

Sebaliknya, air mata seorang pendosa yang benar-benar menyesal bisa menjadi jalan pulang kepada Allah.

Ibnu Atha’illah As-Sakandari rahimahullah juga mengingatkan: “Jangan kamu bangga banyak salat, banggalah jika salatmu bisa membuatmu menangis.”

Bukan berarti menangis menjadi ukuran tunggal diterima atau tidaknya salat. Pesannya lebih dalam.

Salat semestinya membuat hati menjadi lembut. Membuat kita lebih mudah mengingat Allah. Membuat kita malu melakukan dosa.

Membuat kita semakin sadar bahwa kehidupan ini bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh manusia.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan agar seseorang menangisi dirinya dalam tiga keadaan: ketika membaca Al-Qur’an tetapi tidak menangis, ketika salat tetapi tidak khusyuk, dan ketika mengingat dosa tetapi tidak menyesal.

Kita mungkin tidak selalu mampu menangis. Tetapi setidaknya hati kita harus bisa tersentuh. Ada rasa bersalah ketika melakukan kesalahan. Ada keinginan untuk memperbaiki diri. Ada kerinduan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab ukuran keberagamaan seseorang bukan hanya berapa banyak ibadah yang tampak. Tetapi juga bagaimana ibadah itu mengubah dirinya.

Di masjid ia menjadi orang yang rajin salat. Di rumah ia menjadi pasangan yang lembut. Di hadapan anak-anak ia menjadi teladan. Di tempat kerja ia menjadi orang yang jujur. Di tengah masyarakat ia menjadi orang yang menenangkan.

Dan ketika disakiti, ia belajar memaafkan. Itulah perjalanan takwa. Tidak berhenti di sajadah. Ia berjalan bersama kita menuju rumah. Menuju tempat kerja. Menuju pasar. Menuju jalan raya. Menuju pergaulan. Bahkan sampai ke ruang paling pribadi dalam hati.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya kepada orang lain apakah ibadah kita sudah baik. Lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah setelah rajin salat, saya menjadi lebih sabar? Apakah setelah membaca Al-Qur’an, lisan saya menjadi lebih terjaga? Apakah setelah berzikir, hati saya menjadi lebih tenang? Apakah setelah mengingat Allah, saya menjadi lebih mudah memaafkan? Dan apakah orang-orang di sekitar saya merasakan kebaikan dari keberagamaan saya?

Sebab takwa kepada Allah seharusnya melahirkan akhlak yang baik. Dan akhlak yang baik adalah salah satu tanda bahwa cahaya ibadah benar-benar sedang menerangi kehidupan kita.(*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 15/09/2026 15:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu