Allah telah mengingatkan dalam Al-quran surat An-Nahl ayat 78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia menjadikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur”.
Dalam konteks ayat ini ada tiga modalitas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang disiapkan menjadi sosok pimpinan ideal.
Modalitas itu berupa pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun yang menjadi kunci utamanya adalah rasa syukur.
Syukur itu kemampuan seseorang untuk menikmati apa yang diberikan oleh Allah saat ini. Manusia dengan pengetahuan yang minimal, bisa mendapatkan pengetahuan yang maksimal ketika mampu memaksimalkan pemberian Allah berupa pendengaran, penglihatan, dan hati.
Bagi yang tidak mampu mensyukuri nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati, maka tidak akan mampu memaksimalkan proses kepemimpinan yang harus dijalani.
Ingat sesungguhnya setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Menjadi Pendengar yang Baik
Allah menjadikan pendengaran agar beragam informaai bisa didengar dan disikapi. Terkadang ada informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak sedikit informasi itu justru menciptakan benturan.
Dengan kemampuan mendengarkan informasi yang baik, maka tidak mudah terkena masuk angin atau gampang dipengaruhi.
Pada Era saat ini, tidak sedikit yang terkena virus informasi. Segala bentuk informasi ditelan tanpa pertimbangan matang. Apalagi ketika tendensi sudah menguasai hati.
Apalagi di era digital dengan kecanggihan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kadang sulit dibedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah.
Banyak yang sudah termakan informasi hoaks. Informasi ini bisa mengaduk-aduk hati, memunculkan emosi, hingga menghadirkan sifat-sifat tidak terpuji lainnya.
Melihat Kondisi Obyektif
Salah satu fungsi Allah menciptakan penglihatan adalah agar manusia mampu menghadirkan fakta secara nyata. Mulai dari warna, gerakan, hingga kejadian yang menjadi dasar dalam mengambil sebuah keputusan.
Ketika Nabi Muhammad saw mendapat amanah sebagai seorang rasul, maka perintah yang pertama adalah literasi. Kemampuan memahami lingkungan dengan membaca, “iqra”.
Seorang pemimpin diharapkan mampu membaca ayat-ayat kauniyah yang terhampar luas serta ayat kauniyah sebagai mukjizat untuk panduan kehidupan.
Bahkan perintah berikutnya adalah mengikat informasi kebenaran dengan menulis. Dua peninggalan rasulullah inilah sebagai bukti literasi kepemimpinan dalam kehidupan.
“Aku tinggalkan dua perkara untukmu. Jika kamu berpegang pada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya, yaitu kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah rasul (Hadits)”.
Pemimpin tidak hanya nyaring berbicara dengan mengambil keputusan tanpa mendengarkan. Banyak berfatwa tanpa membaca apa yang menjadi kebutuhan lingkungan. ” Iqra” harus dijadikan landasan dalam mengambil keputusan.
Hati Sebagai Kunci Pengambilan Keputusan
Hati tak pernah bohong. Hati yang selamat (Qolbun Salim) adalah hati yang selalu jujur. Untuk itu yang perlu dijaga oleh pimpinan adalah hati.
Jangan sampai hati yang selamat dipengaruhi oleh kepentingan sehingga menjadi hati yang sakit (Qolbun Maridh) juga hati yang mati (Qolbun Mayyit).
Hati tempat bersemayam segala rasa, baik sedih, bahagia, maupun kecewa. Hati juga tempat memutuskan segala persoalan.
Semua yang terucap maupun sikap perbuatan merupakan produk hati. Untuk itu dengan hati yang jernih maka keputusan yang diambil oleh pimpinan adalah keputusan yang jernih.
Manfaat Pendengaran, Penglihatan, dan Hati dalam Kepemimpinan
Ada banyak hal bisa didapatkan ketika mampu menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagi seorang pemimpin.
Pertama, memahami persoalan yang dihadapi oleh anggotanya. Dengan memahami persoalan, maka banyak alternatif dalam menyelesaikan persoalan itu.
Kedua, mampu membangun kepercayaan (trust) karena pengambilan keputusan secara bijaksana. Meskipun terkadang keputusan itu dirasa tidak sesuai keinginan.
Ketiga, mampu mengambil keputusan yang bijak. Keputusan itu kadang hasilnya menyenangkan, terkadang juga tidak menyenangkan.
Ketika keputusan itu diambil secara bijak dengan mau mendengarkan, melihat sesuai fakta, terlebih diputuskan dengan hati yang jernih, keputusan bisa diterima.





0 Tanggapan
Empty Comments