Bencana biasanya membuat kita berpikir tentang beras. Air mineral. Obat-obatan. Selimut. Tenda. Semua itu penting.
Tetapi ada kebutuhan lain yang sering tidak terlihat. Pembalut. Popok. Boneka.
Senin (14/9/2026), 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengangkat benda-benda itu di halaman kampus. Mereka menyanyikan lagu Tanah Air.
Di tangan mereka ada boneka. Ada pembalut. Ada popok. Benda-benda yang tampak sederhana.
Tetapi dari sanalah sebuah pelajaran dimulai. Bahwa bencana tidak dialami semua orang dengan cara yang sama.
Seorang lelaki mungkin membutuhkan makanan. Tetapi seorang perempuan yang sedang menstruasi membutuhkan pembalut.
Seorang ibu yang memiliki bayi membutuhkan popok. Seorang anak yang kehilangan rumah mungkin membutuhkan sesuatu untuk dipeluk.
Kebutuhan itu tidak selalu masuk dalam daftar bantuan utama. Padahal tetap kebutuhan dasar. Di sinilah empati seharusnya bekerja. Empati membuat kita berhenti sejenak.
Bukan hanya bertanya: apa yang kami punya?
Tetapi bertanya: apa yang mereka butuhkan?

Dua pertanyaan itu berbeda. Yang pertama berangkat dari diri kita. Yang kedua berangkat dari orang lain.
Bencana membuat banyak hal hilang sekaligus. Rumah. Harta. Pekerjaan. Sekolah. Lingkungan. Bahkan rasa aman.
Bagi anak-anak, kehilangan itu bisa lebih panjang. Mereka mungkin masih menyimpan ketakutan ketika orang dewasa sudah sibuk membangun kembali rumah.
Karena itu boneka bukan sekadar boneka. Benda kecil itu bisa menjadi teman. Bisa dipeluk ketika takut. Bisa diajak bermain. Bisa menjadi tokoh dalam cerita.
Anak yang belum mampu menjelaskan traumanya dengan kalimat panjang mungkin bisa bercerita melalui permainan.
Itulah sebabnya bantuan kemanusiaan tidak cukup dihitung berdasarkan jumlah kardus.
Ada kebutuhan psikologis yang tidak terlihat. Ada martabat yang harus dijaga. Ada rasa aman yang harus dikembalikan.
Umsura tidak berhenti pada pengumpulan bantuan. Rektor Prof. Mundakir juga melepas mahasiswa yang akan menjadi relawan di Nusa Tenggara Timur selama satu bulan.
Mereka datang dari berbagai jurusan. Mereka tidak hanya membawa barang. Mereka membawa tenaga. Waktu. Dan kepedulian. Kegiatan itu bahkan dikonversikan sebagai bagian dari KKN.
Di titik ini, kampus sedang mengajarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah. Bahwa ilmu tidak boleh berhenti di dalam kelas. Bahwa mahasiswa tidak cukup hanya belajar tentang masyarakat.
Mereka perlu turun menemui masyarakat. Melihat penderitaan dari dekat. Mendengar cerita korban. Merasakan bagaimana sebuah bencana mengubah kehidupan seseorang.
Perguruan tinggi sering diukur dengan angka. Jumlah profesor. Akreditasi. Publikasi. Prestasi mahasiswa. Peringkat. Gedung. Laboratorium. Semua penting.
Tetapi ada ukuran lain yang barangkali lebih sederhana. Seberapa peka lulusannya melihat penderitaan orang lain? Seberapa cepat mereka tergerak ketika masyarakat membutuhkan?
Seberapa jauh ilmu yang mereka pelajari membuat mereka menjadi manusia yang lebih peduli?

Sebab kampus bukan pabrik ijazah. Kampus adalah tempat manusia dibentuk. Pengetahuan membuat seseorang tahu.
Tetapi kepedulian membuat seseorang bergerak. Dan pendidikan yang baik mestinya melahirkan keduanya.
Ada hal menarik dari gerakan mahasiswa Umsura itu. Mereka tidak hanya mengumpulkan apa yang mudah dikumpulkan. Mereka mencoba melihat apa yang sering dilupakan.
Perempuan tetap menstruasi meskipun sedang berada di pengungsian. Ibu tetap harus merawat bayinya meskipun rumahnya roboh.
Anak tetap membutuhkan rasa nyaman meskipun sekolahnya mungkin tidak lagi berdiri.
Bencana tidak menghapus kebutuhan biologis. Bencana juga tidak menghapus kebutuhan psikologis.
Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar banyak. Tetapi tepat. Bukan sekadar besar. Tetapi peka.
Mungkin inilah pelajaran penting bagi 3.185 mahasiswa baru itu. Mereka datang ke kampus untuk memulai pendidikan. Tetapi pada hari pertama, mereka sudah belajar tentang kehidupan.
Mereka belajar bahwa menjadi manusia terdidik bukan hanya soal nilai. Bukan hanya soal gelar. Bukan hanya soal pekerjaan yang kelak didapat.
Ada kemampuan lain yang tidak kalah penting. Kemampuan melihat. Melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Merasakan sesuatu yang tidak kita alami sendiri. Lalu melakukan sesuatu.
Itulah empati. Dari empati lahir simpati. Dari simpati lahir kepedulian. Dan dari kepedulian lahir tindakan.
Kita sering mengatakan mahasiswa adalah calon pemimpin. Kalimat itu terlalu sering diucapkan.
Tetapi pemimpin sebenarnya tidak selalu dimulai dari mimbar. Kadang dimulai dari benda kecil. Dari sebuah pembalut. Dari sebuah popok. Dari sebuah boneka.
Dari kesediaan memahami bahwa orang lain mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan kita.
Barangkali pendidikan memang sesederhana itu. Membuat manusia semakin berilmu. Sekaligus semakin mampu merasakan penderitaan manusia lain.
Sebab, pada akhirnya, perguruan tinggi bukan hanya tempat mencetak orang pintar. Tapi juga menjadi tempat belajar menjadi manusia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments