Pagi masih menyisakan embun, Rabu (7/10/2026) pukul 07.15 WIB. Dari kejauhan asrama putra Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan, derap langkah terdengar kompak. Ratusan santri SMP Muhammadiyah 12 Paciran berbaris tertib, berseragam batik biru-putih, berjalan menuju ruang ujian dengan jarak sekitar 200 meter.
Tidak ada teriakan, tidak ada yang berlari. Wajah-wajah mereka penuh semangat. Di tangan ada yang menggenggam buku persiapan ujian, ada yang masih mengulang hafalan terakhir. Pagi itu mereka akan menjalani Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) Ganjil 2026/2027 yang digelar 3-8 Oktober 2026.
Semangat itu bukan datang tiba-tiba. Semalam mereka belajar bersama hingga larut, lalu dilanjutkan penguatan materi usai jamaah Shubuh. PSTS bukan sekadar ujian, tapi momentum pembuktian kedisiplinan santri.
Di tepi lapangan paving, Wakasis Putra Farih Hamdan, S.Pd.I berdiri tegak. Baru menjabat akhir September lalu, ia tak banyak memberi komando. Cukup dengan tatapan memastikan, semua santri lengkap dengan alat tulis, nomor tes, dan kesiapan mental.
Seperti terlihat dalam foto, barisan memanjang rapi melintasi lapangan basket. Satu per satu masuk ruang ujian dengan tertib. Pemandangan ini ternyata bukan rekayasa. Tradisi baris-berbaris menjelang ujian tumbuh natural tanpa instruksi guru maupun staf pengasuhan.
“Barisan anak putra seperti sudah terbentuk beberapa tahun, diawali kelas IX dan kini menular kepada semua santri. Kalau berangkat ujian mesti dengan cara berbaris, dan ini selain bagus juga memudahkan pemantauan,” ujar Farih Hamdan.
Yang menarik, jika ada santri yang berjalan di luar barisan, ia justru merasa tidak nyaman sendiri. Rasa kebersamaan itu yang membuat tradisi ini awet. Tertib, kompak, dan penuh semangat – menjadi wajah pagi di Al-Ishlah saat PSTS berlangsung. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments