Di sudut-sudut perkampungan wilayah Kecamatan Kenjeran, Surabaya, pemandangan anak-anak usia sekolah yang tidak lagi mengenakan seragam di pagi hari bukanlah hal asing.
Ketika bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran dimulai, sebagian dari mereka justru terlihat di sekitar industri sarang burung, bahkan di sekitar tempat pengepul barang bekas.
Fenomena anak putus sekolah di kawasan wilayah Surabaya Utara khususnya wilayah Kecamatan Kenjeran ini sering kali direduksi menjadi persoalan klasik: ekonomi keluarga yang sulit atau kurangnya kesadaran orang tua.
Padahal, jika dibedah lebih dalam, putus sekolah di Kenjeran adalah sebuah simpul kusut antara realitas ekonomi harian, disorientasi masa depan, dan absennya jembatan antara dunia pendidikan dengan denyut hidup masyarakat.
Bagi keluarga buruh harian, serta masyarakat yang berpenghasilan rendah di Kenjeran, kalkulasi bertahan hidup sering kali bersifat harian, bukan jangka panjang.
Ketika pendapatan kepala keluarga pasang surut mengikuti upah harian yang tipis, kehadiran anak di tempat kerja informal dianggap sebagai “tenaga tambahan” yang nyata dan langsung terasa hasilnya.
Sekolah, dengan segala biaya tidak langsungnya seperti transportasi, uang saku, atau tuntutan perangkat gawai, kadang dipandang sebagai beban.
Ada semacam rasionalitas keliru namun dipahami secara sunyi: untuk apa sekolah tinggi jika pada akhirnya berujung pada pekerjaan kasar yang sama?
Krisis ini kerap lahir bukan dari kebencian terhadap ilmu, melainkan dari kelelahan ekonomi yang memaksa keluarga mengorbankan masa depan demi hari ini.
Namun, menyalahkan kemiskinan semata juga terjebak pada kacamata yang terlalu sempit. Ada dimensi lain yang jarang tersentuh.
Yakni bagaimana sistem pendidikan formal kerap terasa asing bagi anak-anak. Kurikulum yang kaku, budaya sekolah yang menuntut keseragaman, serta tekanan psikologis ketika anak mulai tertinggal secara akademis membuat sekolah terasa seperti ruang eksklusi, alih-alih ruang emansipasi.
Anak yang sempat absen beberapa hari karena membantu keluarganya sering kali merasa canggung untuk kembali ke kelas, tertinggal pelajaran, lalu perlahan memilih menarik diri.
Di titik inilah putus sekolah beralih rupa menjadi keputusan sunyi yang didorong oleh rasa malu dan kehilangan pegangan.
Dampaknya tentu sangat mengkhawatirkan dan bersifat sistemik. Putus sekolah di usia dini di Kenjeran bukan sekadar angka statistik putus jenjang. Melainkan mesin reproduksi kemiskinan antar-generasi.
Anak-anak yang tercabut dari bangku sekolah terlalu dini lebih rentan terseret ke dalam pekerjaan informal tanpa jaminan perlindungan, pernikahan usia anak, atau lingkaran sosial yang rapuh.
Mereka kehilangan kesempatan untuk memiliki mobilitas sosial dan daya tawar hidup yang lebih luas dan lebih baik di tengah Kota Surabaya yang bergerak cepat.
Menangani anak putus sekolah di Kenjeran menuntut pendekatan yang lebih persuasif daripada sekadar imbauan moral atau razia anak nongkrong.
Dibutuhkan kehadiran nyata yang menyatukan sekolah, pemerintah, pegiat komunitas, dan keluarga.
Sehingga, menciptakan ruang belajar yang adaptif dan fleksibel, menghadirkan pendidikan kesetaraan yang ramah bagi anak pekerja, serta memastikan bahwa tumbuh di keluarga yang berpenghasilan rendah tidak harus dimulai dengan menutup pintu kelas.
Sebab, membiarkan seorang anak kehilangan hak belajarnya di Kenjeran sama saja dengan membiarkan satu cakrawala masa depan tenggelam sebelum sempat melihat matahari terbit.





0 Tanggapan
Empty Comments