Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar Berbagai Khazanah, Bermuhammadiyah Tanpa Kehilangan Arah

Iklan Landscape Smamda
Belajar Berbagai Khazanah, Bermuhammadiyah Tanpa Kehilangan Arah
Oleh : Asruri Muhammad Pemerhati Sosial Keagamaan

Belakangan ini, ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan penting dalam kehidupan intelektual Muhammadiyah: bolehkah seorang warga Muhammadiyah menghadiri kajian yang diselenggarakan oleh kelompok di luar Muhammadiyah?

Pertanyaan itu menjadi lebih sensitif ketika nama kelompok tertentu disebut. Kehadiran seseorang dalam sebuah majelis ilmu kadang dengan cepat dipahami sebagai tanda bahwa ia mulai bergeser dari Muhammadiyah.

Kekhawatiran terhadap pergeseran manhaj tentu bukan sesuatu yang perlu dianggap remeh. Muhammadiyah memiliki prinsip, manhaj, keputusan tarjih, dan identitas gerakan yang harus dijaga. Namun, menjaga identitas tidak selalu harus dilakukan dengan membatasi ruang belajar.

Sebelum tergesa-gesa memberikan penilaian, barangkali kita perlu menengok kembali kepada pendiri Muhammadiyah sendiri: K.H. Ahmad Dahlan.

Ahmad Dahlan dan Tradisi Belajar yang Terbuka

K.H. Ahmad Dahlan bukan sosok yang tumbuh dalam ruang intelektual yang sempit. Ia belajar kepada banyak ulama, membaca berbagai kitab, dan bersentuhan dengan beragam tradisi pemikiran Islam.

Dalam bidang keislaman, ia mempelajari fikih, hadis, ilmu falak, qiraah, akidah, dan tasawuf. Ketika berada di Makkah, cakrawala keilmuannya semakin luas. Ia berinteraksi dengan sejumlah ulama dan mendalami berbagai bidang keislaman.

Bahan bacaan yang dikenal dalam koleksinya juga memperlihatkan keluasan tersebut. Ia membaca karya-karya Muhammad Abduh, Rasyid Rida, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, serta kitab-kitab dari tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Namun, keluasan bacaan itu tidak membuat Ahmad Dahlan kehilangan identitas. Justru dari keluasan itulah ia mampu melakukan pembaruan dan melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.

Di sini terdapat pelajaran penting. Belajar dari seseorang tidak otomatis berarti mengikuti seluruh pandangannya. Membaca sebuah kitab tidak berarti menerima seluruh isinya. Menghadiri sebuah majelis ilmu juga tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang berpindah organisasi atau mengikuti seluruh manhaj pengajarnya.

Belajar adalah proses menyimak, menimbang, membandingkan, dan mengambil manfaat.

Kalau Ahmad Dahlan memiliki keluasan dalam belajar, mengapa generasi setelahnya justru harus dibangun dalam ruang yang semakin sempit?

Tentu, konteks dan kapasitas setiap orang berbeda. Ahmad Dahlan adalah seorang ulama dengan bekal keilmuan yang kuat. Karena itu, teladan yang perlu kita ambil bukan sekadar “boleh belajar ke mana saja”, tetapi juga kemampuan untuk memiliki ilmu dan kompas dalam menyaring apa yang dipelajari.

Banyak Guru, Banyak Bacaan, Satu Arah Perjuangan

Ada hal lain yang tidak kalah penting. Keluasan belajar Ahmad Dahlan tidak berujung pada sikap bahwa semua pendapat sama benarnya. Ia tetap memiliki prinsip.

Justru karena memiliki prinsip, ia dapat berinteraksi dengan berbagai pemikiran tanpa harus kehilangan dirinya.

Inilah yang kadang terlupakan dalam perbincangan kita tentang perbedaan. Kita sering menganggap bahwa untuk menjaga identitas, seseorang harus dijauhkan dari sumber-sumber pemikiran yang berbeda.

Padahal persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang pernah mendengar pandangan yang berbeda. Persoalannya adalah apakah ia memiliki kemampuan untuk menilai pandangan tersebut.

Seorang warga Muhammadiyah yang kuat secara ilmu semestinya tidak mudah berubah hanya karena mendengar kajian dari luar. Ia dapat mendengarkan, mengambil dalil yang benar, menguji argumentasinya, lalu membandingkannya dengan prinsip-prinsip yang selama ini menjadi pijakannya.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan ketakutan terhadap perbedaan, tetapi kedewasaan dalam menghadapi perbedaan.

Muhammadiyah tidak akan menjadi kuat hanya karena warganya tidak pernah mendengar pandangan lain. Muhammadiyah akan kuat apabila warganya memiliki fondasi ilmu yang kokoh sehingga ketika berhadapan dengan berbagai pandangan, ia tahu mana yang dapat diambil dan mana yang harus ditinggalkan.

Muhammadiyah dan Keluasan Khazanah Keislaman

Hal ini menjadi semakin relevan ketika kita membicarakan akidah dan manhaj Muhammadiyah.

Muhammadiyah menempatkan dirinya dalam tradisi Ahl al-Haq wa al-Sunnah atau Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, sejarah intelektual Muhammadiyah menunjukkan adanya keluasan corak pemikiran.

Dalam tulisan resmi Muhammadiyah tentang akidah, dijelaskan bahwa di kalangan warga Muhammadiyah terdapat pemahaman yang dalam beberapa hal lebih dekat dengan tradisi Asy’ariyah, sementara sebagian lainnya lebih dekat dengan corak salaf atau atsari. Muhammadiyah tidak mengikat dirinya secara penuh kepada salah satu corak tersebut, tetapi berusaha melakukan sintesis dalam kerangka Islam berkemajuan.

Hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Sejarah Muhammadiyah sejak Ahmad Dahlan memperlihatkan perjumpaan antara tradisi keislaman yang telah berkembang di Nusantara, pemikiran pembaruan Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, serta semangat pemurnian yang antara lain berhubungan dengan pemikiran Ibnu Taimiyah.

Keluasan seperti itu menunjukkan bahwa identitas Muhammadiyah tidak dibangun dengan menutup diri dari seluruh khazanah di luar dirinya.

Namun, keterbukaan juga bukan berarti tanpa batas.

Muhammadiyah tetap memiliki prinsip-prinsip akidah dan manhaj yang harus dijaga. Ada persoalan mendasar yang tidak dapat diperlakukan sebagai sekadar perbedaan selera. Pada saat yang sama, terdapat persoalan-persoalan cabang yang sejak dahulu menjadi wilayah ikhtilaf di kalangan ulama.

Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara perbedaan yang masih berada dalam wilayah khilafiyah dengan perbedaan yang menyentuh prinsip-prinsip dasar agama.

Kita juga perlu berhati-hati menggunakan label. Sebuah nama atau identitas kelompok tidak selalu cukup untuk menggambarkan seluruh isi pemikiran seseorang. Yang lebih penting adalah apa yang diajarkan, bagaimana dalil dipahami, dan sejauh mana pemahaman tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan keagamaan.

Manhaj adalah Kompas, Bukan Tembok

Di sinilah manhaj menjadi penting.

SMPM 5 Pucang SBY

Manhaj bukan sekadar alat untuk mengatakan, “Ini Muhammadiyah, itu bukan Muhammadiyah.” Manhaj adalah cara berpikir dan cara memahami agama yang membantu seseorang menentukan sikap ketika berhadapan dengan berbagai persoalan.

Manhaj ibarat kompas.

Kompas diperlukan justru karena kita sedang melakukan perjalanan. Ketika seseorang memiliki kompas, ia tidak perlu takut melihat jalan lain. Ia dapat mengetahui arah yang harus dituju.

Sebaliknya, jika kita tidak memiliki kompas, berada di satu tempat yang tertutup pun belum tentu menjamin kita sampai ke tujuan.

Maka, menjaga manhaj Muhammadiyah tidak harus dilakukan dengan membangun tembok intelektual. Yang lebih penting adalah memperkuat fondasi keilmuan warga Muhammadiyah.

Warga Muhammadiyah perlu mengenal Al-Qur’an dan Sunnah, memahami keputusan tarjih, mengetahui sejarah pemikiran Muhammadiyah, serta memiliki kemampuan membaca perbedaan secara objektif.

Dengan bekal itu, ia dapat berhadapan dengan berbagai khazanah keislaman tanpa harus kehilangan Muhammadiyah.

Tetapi tentu ada batasnya. Kebebasan belajar bukan kebebasan menerima semuanya. Keterbukaan bukan berarti kehilangan sikap kritis. Mendengar bukan berarti membenarkan. Dan menghadiri sebuah kajian tidak berarti memberikan legitimasi kepada seluruh pemikiran yang disampaikan di dalamnya.

Kita dapat mengambil ilmu yang benar dari siapa pun tanpa harus menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Sebaliknya, kita juga harus berani menilai setiap pemikiran secara kritis, termasuk pemikiran yang mengatasnamakan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab Al-Qur’an dan Sunnah tetap harus dipahami dengan ilmu, metodologi, dan kehati-hatian.

Belajar Berbagai Khazanah, Bermuhammadiyah Tanpa Kehilangan Arah

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah seorang warga Muhammadiyah boleh menghadiri kajian di luar Muhammadiyah. Persoalan yang lebih mendasar adalah: sudahkah kita membangun warga Muhammadiyah yang cukup kuat secara ilmu sehingga tidak mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan perbedaan?

Jika belum, jawabannya bukan menutup pintu.

Jawabannya adalah memperkuat pendidikan, memperbanyak kajian yang bermutu, menghidupkan tradisi membaca, dan membangun budaya dialog di lingkungan Muhammadiyah.

Kita perlu memiliki keyakinan bahwa warga Muhammadiyah bukan sekumpulan orang yang harus dijauhkan dari perbedaan agar tetap menjadi Muhammadiyah. Mereka adalah orang-orang yang perlu dibekali ilmu agar mampu menghadapi perbedaan dengan dewasa.

K.H. Ahmad Dahlan memberikan teladan yang sangat berharga. Ia belajar dari banyak guru, membaca banyak kitab, dan berinteraksi dengan beragam pemikiran. Tetapi keluasan itu tidak membuatnya kehilangan arah. Ia justru mampu mengolah berbagai khazanah tersebut menjadi energi pembaruan dan mengubah ilmu menjadi gerakan sosial.

Mungkin inilah yang perlu kita hidupkan kembali.

Muhammadiyah tidak lahir dari ketakutan terhadap perbedaan. Muhammadiyah lahir dari keberanian untuk kembali kepada sumber ajaran Islam, menggunakan akal yang sehat, melakukan ijtihad, membaca perubahan zaman, dan menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan.

Karena itu, batas manhaj tetap diperlukan.

Tetapi tembok belajar tidak diperlukan.

Yang perlu kita bangun bukan tembok agar warga Muhammadiyah tidak melihat keluar, melainkan fondasi ilmu agar ketika melihat keluar mereka tidak kehilangan arah.

Sebab belajar kepada siapa saja tidak berarti mengikuti siapa saja.

Mendengar bukan berarti menerima.

Membaca bukan berarti menjadi pengikut.

Dan menghadiri sebuah majelis ilmu tidak dengan sendirinya mengubah identitas seseorang.

Yang terpenting adalah bagaimana ilmu itu ditimbang, dipahami, dan diamalkan.

Maka, salah satu cara terbaik untuk meneladani K.H. Ahmad Dahlan barangkali adalah:

Belajar berbagai khazanah,
berpikir dengan ilmu,
bersikap dengan hikmah,
dan tetap bermuhammadiyah tanpa kehilangan arah.

Revisi Oleh:
  • Satria - 14/09/2026 10:34
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu