Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Buku Kas Menjadi Jalan Perubahan

Iklan Landscape Smamda
Oleh : Silviyana Anggraeni Aliansi Penulis Muhammadiyah Lamongan – Penulis buku Membaca Kehidupan Perempuan

Pagi belum sepenuhnya benderang ketika Bu Rini membuka buku kecil di sudut meja makan. Buku itu berisi catatan sederhana: daftar belanja beras, uang sekolah, pesanan kue, harus membayar cicilan, dan menyimpan sisa uang. Tidak ada rumus rumit. Hanya beberapa angka yang ia tulis rapi sebelum anak-anak bangun.

Dari buku kas itulah ia mulai mengambil alih arah ekonomi keluarganya: mana yang perlu didahulukan, mana yang bisa ditunda, dan berapa modal yang boleh ia putar kembali untuk usaha.

Memulai perubahan sosial kadang tidak dari panggung besar. Ia tumbuh pelan dari meja makan, dari tangan perempuan yang belajar memahami nilai uang.

Di tengah harga kebutuhan yang mudah berubah dan godaan belanja digital yang datang setiap saat, literasi ekonomi bukan lagi kecakapan tambahan. Ia merupakan kemampuan hidup.

Perempuan yang melek ekonomi tidak harus menjadi ahli ekonomi. Ia cukup mampu membaca keadaan rumah tangganya, membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat arus uang, menimbang risiko, lalu mengambil keputusan dengan tenang.

Dalam bahasa Amartya Sen, pembangunan yang bermakna memperluas kebebasan manusia untuk memilih kehidupan yang ia nilai berharga. Bagi banyak perempuan, kebebasan itu sering dimulai dari memahami uang yang masuk dan keluar dari rumahnya (Sen, 1999).

Selama ini, perempuan kerap memikul kerja perawatan yang panjang tetapi tidak selalu terlihat: menyiapkan makanan, mengatur kebutuhan anak, merawat anggota keluarga yang sakit, sekaligus mencari tambahan penghasilan.

Nancy Folbre mengingatkan bahwa kerja perawatan memiliki nilai ekonomi dan sosial yang besar, meski orang sering tidak menghitungnya dalam angka-angka resmi (Folbre, 2001).

Karena itu, ketika perempuan memperoleh bekal literasi ekonomi, yang kita perkuat bukan hanya kapasitas personalnya. Kita juga mengakui perannya sebagai pengambil keputusan penting dalam keluarga dan masyarakat.

Literasi Ekonomi dari Rumah

Masalahnya, banyak usaha rumahan masih berjalan dengan cara yang serba tercampur. Pelaku usaha menggunakan uang hasil jualan untuk belanja harian, sementara kebutuhan mendadak menghabiskan modal untuk membeli bahan baku.

Keuntungan terasa ada, tetapi pelaku usaha tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Di ruang digital, persoalannya bertambah: tawaran pinjaman cepat, investasi dengan janji hasil tidak masuk akal, serta promosi yang sengaja menggiring orang membeli lebih dari yang dibutuhkan.

Kajian Annamaria Lusardi dan Olivia Mitchell menunjukkan bahwa kecakapan finansial berhubungan dengan kemampuan merencanakan masa depan dan mengambil keputusan ekonomi yang lebih baik (Lusardi & Mitchell, 2014).

Gerakan literasi perempuan perlu menggunakan bahasa yang dekat. Gerakan ini tidak harus dimulai dari istilah investasi yang membuat orang gentar, melainkan dari empat kebiasaan yang dapat dilakukan hari ini: memisahkan uang rumah tangga dan uang usaha, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menyiapkan dana darurat, serta memeriksa legalitas sebelum menggunakan produk keuangan.

Kebiasaan kecil tersebut menjadi pagar pertama agar perempuan tidak bekerja keras hanya untuk terus berada dalam lingkaran kerentanan.

Dari Catatan Keuangan Menjadi Peluang Usaha

Dari sana, pengetahuan dapat berubah menjadi jalan usaha. Seorang ibu yang semula membuat keripik untuk keluarga dapat belajar menghitung harga bahan, kemasan, tenaga, dan ongkos kirim.

Ia tidak lagi menentukan harga berdasarkan perasaan, melainkan berdasarkan biaya dan nilai kerja. Ketika ia memasarkan produk melalui WhatsApp atau media sosial, ia belajar memotret dengan baik, menulis cerita produk, merespons pelanggan, dan menjaga kepercayaan.

Usaha mungkin bermula dari lima bungkus, tetapi yang bertumbuh bukan sekadar penjualan. Ada rasa percaya diri, jaringan pelanggan, dan kemungkinan membuka pekerjaan bagi tetangga.

Muhammad Yunus menyebut kredit dan kesempatan ekonomi sebagai alat untuk membuka daya cipta kelompok yang lama tersisih (Yunus, 2007). Namun, kesempatan itu tidak akan cukup bila perempuan tidak memiliki kemampuan mengelola risiko.

Kita tidak ingin perempuan hanya mudah memperoleh pinjaman; kita ingin ia mampu menilai apakah pinjaman itu produktif, apakah cicilannya masuk akal, dan apakah usahanya memiliki pasar.

SMPM 5 Pucang SBY

Di sinilah pelatihan kewirausahaan perlu melampaui keterampilan membuat produk. Setelah bisa membuat, perempuan perlu belajar menghitung; setelah bisa menjual, ia perlu belajar menyimpan; setelah memperoleh laba, ia perlu belajar mengembangkan usaha dengan hati-hati.

Teknologi digital memberi kesempatan yang belum pernah sebesar ini. Dari desa, perempuan dapat mengikuti kelas daring, membangun etalase produk, menerima pembayaran nontunai, dan menemukan pasar di luar kampungnya.

Namun, layar yang sama juga dapat membawa informasi palsu dan jebakan konsumsi. Shoshana Zuboff mengingatkan bahwa ruang digital tidak netral; perhatian manusia dapat diperebutkan dan diarahkan menjadi keuntungan bagi pihak lain (Zuboff, 2019).

Maka, literasi ekonomi di era digital harus mengajarkan jeda: jangan tergesa mengklik, jangan mudah percaya, dan selalu bertanya siapa yang diuntungkan dari sebuah tawaran.

Membangun Keluarga Tangguh dari Perempuan

Rumah adalah sekolah ekonomi pertama. Anak-anak dapat mengenal uang bukan sebagai benda yang harus dikejar, melainkan amanah yang perlu dikelola.

Mereka bisa belajar menyisihkan uang saku, membedakan keinginan dan kebutuhan, berbagi, serta memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Dalam kerangka pendidikan keluarga, nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kesederhanaan tumbuh lebih kuat ketika orang tua mencontohkannya daripada sekadar menasihatinya.

Pendidikan yang membebaskan, sebagaimana ditekankan Paulo Freire, selalu mengajak manusia membaca dunia dan bertindak secara sadar di dalamnya (Freire, 1970).

Semangat ini sejalan dengan gerakan perempuan berkemajuan: perempuan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan subjek yang memiliki suara, pengetahuan, dan daya untuk menggerakkan lingkungan.

Siti Syamsiyatun memperlihatkan bagaimana perempuan Muslim di Indonesia menghubungkan kerja keagamaan dengan advokasi hak dan perubahan sosial (Syamsiyatun, 2020).

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat itu dapat mengambil bentuk yang sangat membumi: kelompok ibu yang saling memeriksa catatan usaha, koperasi kecil yang mendampingi anggotanya, pengajian yang menyisipkan edukasi keuangan, atau komunitas perempuan desa yang belajar memasarkan produk bersama.

Kita memerlukan gerakan yang tidak berhenti pada seminar satu hari. Pemerintah desa, sekolah, organisasi perempuan, lembaga keuangan yang legal, kampus, dan pelaku usaha dapat membangun kelas-kelas kecil yang berkelanjutan.

Materinya sederhana tetapi bertahap: membuat anggaran keluarga, menghindari pinjaman ilegal, mencatat usaha, memakai pembayaran digital secara aman, hingga menyusun rencana pengembangan.

Pendampingan perlu disertai contoh nyata karena orang lebih mudah percaya ketika melihat tetangganya berhasil mengubah kebiasaan kecil menjadi ketahanan keluarga.

Perempuan yang melek ekonomi bukan hanya perempuan yang pandai menghitung pemasukan dan pengeluaran. Ia adalah perempuan yang mampu membaca peluang tanpa menutup mata terhadap risiko; yang dapat berkata cukup pada godaan konsumsi; yang berani memulai usaha, tetapi juga teliti merawatnya.

Dari satu buku kas, satu kebiasaan menabung, dan satu usaha kecil, lahir rangkaian perubahan yang menjalar ke anak, keluarga, dan kampung. Jika kita meneguhkan literasi perempuan sebagai kemampuan hidup, perubahan sosial tidak lagi terdengar sebagai cita-cita yang jauh.

Ia hadir di rumah-rumah, tumbuh melalui keputusan sehari-hari, lalu bergerak menjadi kekuatan masyarakat yang lebih tangguh dan berkeadilan. ***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 05/10/2026 12:49
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu