PP Muhammadiyah melalui MTT menerbitkan Maklumat Nomor 2/MLM/I.1/E/2026. Maklumat tersebut menyerukan umat Islam melaksanakan Salat Istisqa. Seruan tersebut bertujuan memohon hujan ketika terjadi kemarau panjang.
Maklumat itu sebagai penyampaian keprihatinan dan doa. Doa tersebut ditujukan kepada masyarakat terdampak kemarau panjang. Kekeringan melanda berbagai wilayah di Indonesia.
Hujan memang tidak turun beberapa pekan terakhir ini. Sumber air menyusut dan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Kondisi tersebut mengancam kebutuhan sehari-hari dan kegiatan pertanian.
Pada saat bersamaan, kebakaran hutan dan lahan terjadi. Asapnya mengganggu kesehatan, pendidikan, perekonomian, dan kelestarian alam.
Majelis Tarjih dan Tajdid menyerukan umat kembali kepada Allah. Seruan tersebut mengajak umat berdoa dan memperbanyak istigfar.
Umat juga perlu melaksanakan salat istisqa dengan penuh kesadaran. Muhasabah dan ikhtiar nyata harus menyertai pelaksanaannya.
Salat Istisqa merupakan ikhtiar hamba memohon pertolongan Tuhan. Ibadah ini menjadi respons spiritual terhadap kekeringan berkepanjangan. Masyarakat bersama tokoh agama dan pemerintah memohon turunnya hujan. Mereka berharap hujan kembali menghidupkan alam dan kehidupan.
Bukan Sekadar Doktrin Ritual
Perubahan iklim global menghadirkan tantangan ekologis yang kompleks. Kondisi geografis turut memengaruhi fenomena kekeringan. Karena itu, kita tidak boleh mengandalkan doktrin iman saja.
Kita perlu memahami kenyataan alam dan struktur sosial-ekonomi. Tanpa pemahaman tersebut, harapan spiritual berisiko menjadi semu.
Salat istisqa bukanlah ritual tanpa konteks. Syariat ini mengajarkan penyerahan diri atau taqarrub. Ibadah tersebut mengakui keterbatasan manusia di hadapan Pencipta. Kesadaran itu menguat ketika manusia menghadapi paceklik parah.
Hadis Abdullah bin Abbas merekam keteladanan Rasulullah. Rasulullah melaksanakan istisqa dengan merendahkan diri dan bersahaja. Beliau juga menunjukkan kekhusyukan, ketundukan, dan kesederhanaan berpakaian.
Riwayat ini tercatat dalam Tirmidzi Nomor 558. Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam hadis Nomor 1165.
Nabi mengajarkan istisqa bukan sekadar formalitas seremonial. Ibadah ini juga bukan sarana pencitraan. Istisqa menjadi momentum keprihatinan kolektif dan kerendahan hati. Umat perlu mengakui kerapuhan dirinya di hadapan Tuhan.
Khalifah Umar bin Khattab memberikan teladan penting lainnya. Kemarau hebat melanda masyarakat pada masa kepemimpinannya. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Am ar-Ramadah atau Tahun Abu. Tanah mengering, berdebu, dan kehilangan kesuburannya.
Umar mengumpulkan masyarakat untuk melaksanakan salat istisqa. Ia bertawassul melalui doa Al-Abbas bin Abdul Muttalib. Al-Abbas merupakan paman Nabi Muhammad. Riwayat tersebut tercatat dalam Sahih Bukhari Nomor 1010.
Namun, Umar tidak berhenti pada doa semata. Sebagai khalifah, ia membuka lumbung pangan negara. Ia turut membebaskan pajak bagi masyarakat terdampak. Selain itu, Umar mengirim bantuan pangan ke daerah krisis. Doa berjalan beriringan dengan kebijakan sosial yang sistematis.
Kisah Khalifah Yazid bin al-Aswad al-Jurashi juga menarik. Imam al-Dzahabi mengabadikannya dalam Siyar A’lam an-Nubala’.
Ibn Asakir juga mencatatnya dalam Tarikh Madinat Dimasyq. Para pembesar Umayyah berkali-kali berdoa, tetapi hujan tak kunjung turun. Justru doa seorang pemuda bersahaja mendapat pengabulan Allah.
Kisah tersebut menekankan pentingnya ketulusan dalam berdoa. Kesucian niat harus mengalahkan kepalsuan manusia. Karena itu, umat perlu membangun kesadaran spiritual yang mendalam.
Para ulama menekankan persiapan spiritual sebelum melaksanakan salat istisqa. Umat perlu menjalani pertobatan sungguh-sungguh atau taubat nasuha. Mereka harus meninggalkan kemaksiatan, kesombongan, kecurangan, dan kezaliman.
Penguasa dan rakyat juga perlu membangun rekonsiliasi sosial. Mereka harus mengembalikan hak orang yang terampas. Mereka perlu menyantuni fakir miskin dan meringankan beban pajak. Penegakan keadilan juga menjadi bagian penting pertobatan.
Pemimpin tidak boleh bersikap sombong atau membanggakan diri. Kerendahan hati memengaruhi ketulusan dalam memanjatkan doa. Pemimpin harus hadir sebagai hamba yang bertobat. Mereka juga bertanggung jawab atas nasib rakyatnya.






0 Tanggapan
Empty Comments