Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dua Panji di Pintu Rumah, Malaikat atau Setan yang Menyertai? 

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dua Panji di Pintu Rumah, Malaikat atau Setan yang Menyertai? 
Dr. KH. Sam’un menyampaikan tausiyah dalam kajian rutin Kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Jilid 5, di Masjid Al Ikrom Wage, Rabu (28/10/2026). Foto: Mashuri/PWMU.CO
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

Setiap langkah yang kita ayunkan ketika keluar rumah bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Di baliknya, ada pilihan niat dan tujuan yang menentukan apakah perjalanan itu mengarah pada sesuatu yang dicintai Allah SWT atau justru perkara yang mendatangkan kemurkaan-Nya.*

Pesan inilah yang menjadi salah satu pelajaran penting dalam kajian rutin Kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Jilid 5, di Masjid Al Ikrom Wage, Rabu (28/10/2026). Kajian yang berlangsung selepas salat subuh hingga menjelang syuruq tersebut disampaikan Dr. KH. Sam’un, M.Ag, Ketua Pimpinn Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, dan diikuti 146 jamaah.

Pada kesempatan itu, pembahasan mengangkat tema “Bepergian untuk Melakukan Hal-Hal yang Disukai oleh Allah SWT.” Materi ini mengajak jamaah memahami bahwa perjalanan hidup seorang Muslim semestinya tidak hanya diukur dari tempat yang dituju, tetapi juga dari niat, tujuan, dan amal yang menyertainya.

Dalam kajian tersebut, Kiai Sam’un membahasa hadis yang menggambarkan bahwa setiap orang yang keluar dari rumahnya seolah berhadapan dengan dua pilihan: mengikuti jalan yang dicintai Allah atau menempuh jalan yang mendatangkan kemurkaan-Nya.

Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ خَارِجٍ يَخْرُجُ — يَعْنِي مِنْ بَيْتِهِ — إِلَّا بِبَابِهِ رَايَتَانِ: رَايَةٌ بِيَدِ مَلَكٍ، وَرَايَةٌ بِيَدِ شَيْطَانٍ، فَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اتَّبَعَهُ الْمَلَكُ بِرَايَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الْمَلَكِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ، وَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُسْخِطُ اللَّهَ اتَّبَعَهُ الشَّيْطَانُ بِرَايَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الشَّيْطَانِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ

“Tidaklah seseorang keluar—yaitu dari rumahnya—melainkan di pintu rumahnya terdapat dua panji: satu panji di tangan malaikat dan satu panji lagi di tangan setan.”

Jika dia keluar untuk urusan yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, maka malaikat akan mengikutinya dengan membawa panji tersebut, dan dia senantiasa berada di bawah naungan panji malaikat hingga kembali ke rumahnya.

“Namun jika dia keluar untuk urusan yang dimurkai Allah, maka setan akan mengikutinya dengan membawa panji tersebut, dan dia senantiasa berada di bawah naungan panji setan hingga kembali ke rumahnya,” terang Kiai Sam’un

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Dia lalu menjelaskan, hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad nomor 8286 dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath. Syekh Ahmad Syakir menilai sanadnya sahih.

Gambaran dua panji tersebut memberikan pelajaran bahwa niat dan tujuan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Keluar rumah untuk mencari nafkah yang halal, menuntut ilmu, menyambung silaturahmi, atau membantu sesama merupakan contoh aktivitas yang dapat diarahkan kepada hal-hal yang dicintai Allah.

“Sebaliknya, perjalanan yang diniatkan untuk melakukan kemaksiatan, menipu, mencari hiburan yang diharamkan, atau menyakiti orang lain justru menjauhkan seseorang dari ketaatan kepada Allah,” terang Kiai Sam’un.

Ungkapan “hingga kembali ke rumahnya” juga mengingatkan bahwa pilihan tersebut tidak berhenti pada saat seseorang melangkahkan kaki keluar pintu. Arah perjalanan itu terus melekat selama aktivitas berlangsung, sampai ia kembali ke rumah.

Karena itu, imbuh Kiai Sam’un, seorang Muslim perlu membiasakan diri memeriksa niat sebelum bepergian.

Ke mana hendak pergi, untuk apa perjalanan dilakukan, dan apakah kegiatan tersebut mendatangkan manfaat atau justru membawa kepada kemaksiatan?

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 28/10/2026 07:03
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu