Mengenalkan budaya tidak cukup hanya melalui buku pelajaran. Siswa SD Muhammadiyah 4 Zamzam mengunjungi Stadion Kerapan Sapi R.P. Moch. Noer, Bangkalan, Madura, untuk mengenal seni, tradisi, dan kuliner khas daerah melalui kegiatan Kegiatan Luar Sekolah (KLS), Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diikuti siswa kelas IV, V, dan VI ini menghadirkan pengalaman belajar langsung bersama Sanggar Tari Tarara Bangkalan yang dipimpin Sudarsono. Didampingi pemandu Kak Nadia dan Kak Diana, siswa mengenal beragam warisan budaya Madura, mulai dari seni tari dan alat musik tradisional hingga kuliner khas Bangkalan.
Mengenal Tari dan Tradisi Kerapan Sapi
Kegiatan dibuka dengan penampilan Tari Beksan Kamantakan oleh Sanggar Tari Tarara Bangkalan. Melalui pertunjukan tersebut, siswa belajar mengamati gerakan, iringan musik, ekspresi, dan kekompakan penari.
Ketua Sanggar Tari Tarara Bangkalan, Sudarsono, kemudian mengenalkan Stadion Kerapan Sapi R.P. Moch. Noer sebagai salah satu tempat penting bagi tradisi kerapan sapi di Madura. Ia menjelaskan bahwa stadion tersebut merupakan stadion kerapan sapi terbesar di Madura, dengan panjang lintasan sekitar 100–200 meter.
Siswa juga menyaksikan Tari Paseman Kerapan Sapi yang menggambarkan rangkaian tradisi tersebut, mulai dari pemeliharaan sapi, kirab, perlombaan, hingga kemenangan. Melalui tarian ini, siswa diajak memahami bahwa kerapan sapi bukan sekadar adu kecepatan, tetapi juga melibatkan persiapan, kerja keras, dan kebersamaan masyarakat.
Odheng Tongkos dan Filosofi Keislaman
Salah satu momen menarik terjadi ketika Sudarsono memberikan Odheng Tongkos, penutup kepala khas Madura yang dikenakan kalangan bangsawan, kepada Kepala SD Muhammadiyah 4 Zamzam, Muhammad Anas Fikri, M.AP.
Pemberian tersebut menjadi simbol penghormatan dan keakraban antara sanggar dengan keluarga besar sekolah. Odheng Tongkos juga diperkenalkan melalui filosofi yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam. Lima lipatan pada proses pembuatannya melambangkan lima rukun Islam, sedangkan enam lipatan yang mengikatnya melambangkan enam rukun iman.
Pengenalan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa identitas budaya dapat berdampingan dengan nilai keagamaan.
Menabuh Thuk Thuk hingga Mencicipi Nasi Serpang
Antusiasme siswa semakin terlihat saat mereka diperkenalkan dengan alat musik tradisional thuk thuk yang dahulu digunakan untuk mengiringi kerapan sapi. Menurut Sudarsono, alat musik ini dibuat dari batang pohon nangka yang tersambar petir dan memiliki dua sisi dengan suara berbeda.
Thuk thuk terdiri atas lima bagian, yakni pangorbing, panerus, pancer, tol, dan takatek. Setiap bagian menghasilkan ketukan yang saling bersahutan untuk membentuk irama harmonis.
Para siswa mendapat kesempatan mencoba menabuh alat musik tersebut dengan pendampingan tim sanggar. Ananta, siswa kelas V Ar-Rahman yang merupakan siswa inklusi, tampak gembira saat memainkan thuk thuk bersama pendampingnya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pembelajaran budaya dapat melibatkan seluruh siswa sesuai kebutuhan masing-masing.
Selain seni pertunjukan, siswa menikmati Tari Akurda karya Kak Serly. Tarian ini menceritakan ajakan kepada anak-anak untuk bangun dan bersiap pergi ke sekolah dengan menggunakan kentongan. Pesan tentang kedisiplinan dan semangat belajar disampaikan melalui gerakan yang dekat dengan keseharian anak.
Rombongan juga mencicipi nasi serpang, kuliner khas Bangkalan yang disajikan dengan beragam lauk, seperti pepes tongkol, sambal goreng kerang, empal, serundeng, telur asin, dan rempeyek udang.
Budaya Tetap Hidup melalui Generasi Muda
Sudarsono, yang akrab disapa Om So, menjelaskan bahwa Sanggar Tari Tarara berdiri sejak 1996, mulai berkiprah pada 1999, dan diresmikan pada 22 Desember 2022. Sanggar tersebut mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda melalui kunjungan ke sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan media sosial.
“Perkembangan zaman dan teknologi bukan musuh budaya, tapi alat mujarab untuk menghidupkan budaya. Sehingga teknologi jangan dijauhi, tapi dimanfaatkan untuk kemajuan budaya itu sendiri agar dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan semakin dekat dengan generasi,” tuturnya.
Kepala SD Muhammadiyah 4 Zamzam, Muhammad Anas Fikri, menegaskan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal budaya dari buku, tetapi juga melihat, mendengar, dan merasakan langsung kekayaan budaya yang dimiliki bangsa kita. Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh rasa cinta terhadap budaya Indonesia, sikap saling menghargai, serta semangat belajar yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Setelah rangkaian pengenalan budaya dan kuliner selesai, siswa melanjutkan kegiatan dengan berenang di Vevito.
Melalui jelajah Madura ini, SD Muhammadiyah 4 Zamzam berharap siswa semakin mengenal warisan budaya Indonesia, menghargai keberagaman, serta memahami bahwa tradisi akan terus hidup jika generasi muda mau mempelajari dan meneruskannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments