Belajar kesejahteraan sosial tidak cukup dilakukan di dalam ruang kelas. Mahasiswa perlu melihat bagaimana pelayanan sosial dijalankan dalam berbagai lembaga, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus belajar memahami persoalan sosial dari perspektif yang berbeda.
Pengalaman itulah yang dirayakan Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP-UMM) dalam Closing Ceremony Praktikum Internasional Kelembagaan, Selasa (15/9/2026).
Digelar di Naiki Cafe, kegiatan penutupan ini bukan sekadar seremoni. Mahasiswa menampilkan kembali pengalaman dan pembelajaran yang mereka peroleh selama mengikuti praktikum internasional melalui pameran poster, video kilas balik, talkshow tematik, hingga pertunjukan musik.
Praktikum Internasional Kelembagaan 2026 merupakan kolaborasi mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM dengan pelajar Program Kerja Sosial Universiti Kebangsaan Malaysia.
Kolaborasi lintas negara tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat praktik kesejahteraan sosial dalam konteks yang lebih luas. Pengalaman itu kemudian dibawa ke ruang refleksi melalui berbagai agenda dalam acara penutupan.
Kepala Laboratorium Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP-UMM Eko Rizqi Purwo Widodo mengatakan, praktikum internasional menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa.
“Praktikum internasional menjadi bagian penting untuk memperluas wawasan dan pengalaman mahasiswa di luar ruang kelas,” ujarnya.
Menurut dia, pengalaman langsung membantu mahasiswa memahami bahwa praktik kesejahteraan sosial memiliki konteks yang beragam. Karena itu, pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga menyentuh realitas pelayanan sosial.
Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP-UMM Hutri Agustino menambahkan, pengalaman praktikum menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa sebagai calon pekerja sosial profesional.
Mahasiswa, kata dia, tidak cukup hanya memahami teori kesejahteraan sosial.
“Mereka perlu mampu mengimplementasikan pengetahuan kesejahteraan sosial dalam berbagai konteks kelembagaan,” katanya.
Membawa Pengalaman ke Ruang Refleksi
Salah satu bagian yang menarik dalam Closing Ceremony adalah Pameran Poster. Berbagai dokumentasi, pengalaman, dan hasil pembelajaran mahasiswa ditampilkan secara visual.
Poster menjadi cara mahasiswa menceritakan kembali proses yang mereka jalani. Bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut.
Suasana kemudian berlanjut melalui Video Kilas Balik. Berbagai momen selama praktikum kembali ditampilkan. Interaksi antarmahasiswa, proses pembelajaran, dan pengalaman selama kegiatan menjadi bagian dari dokumentasi tersebut.
Namun, refleksi tidak berhenti pada dokumentasi. Talkshow tematik menghadirkan sejumlah isu yang dekat dengan praktik pekerjaan sosial, antara lain pelayanan sosial bagi penyandang disabilitas, praktik koreksional terapi, pelayanan sosial kepada anak dan remaja, serta praktik pekerja sosial medis.
Forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan pengalaman praktikum sekaligus menghubungkannya dengan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa sebagai calon pekerja sosial.
Dekan FISIP-UMM Fauzik Lendriyono mengapresiasi kegiatan yang menggabungkan pembelajaran akademik, pengalaman praktis, kreativitas, dan jejaring internasional.
“Kegiatan ini memberi warna berbeda dalam proses pembelajaran mahasiswa karena pengalaman akademik tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan praktik dan kolaborasi,” ujarnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga ditunjukkan melalui kehadiran Kepala Biro Riset, Pengabdian dan Kerja Sama UMM Salahudin serta Kepala International Relations Office (IRO) UMM Listiari Hendraningsih.
Kehadiran unsur fakultas dan unit pendukung universitas tersebut menunjukkan pentingnya sinergi dalam mengembangkan pembelajaran yang memiliki dimensi internasional.
Pesan lain muncul melalui penampilan musik Distra Teman Netra RSBN.
Pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan untuk menutup rangkaian acara. Kehadiran para musisi penyandang disabilitas netra menghadirkan pengalaman konkret tentang inklusivitas.
Di panggung itu, mahasiswa melihat bahwa keterbatasan fisik tidak semestinya menjadi batas bagi seseorang untuk berkarya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan disiplin kesejahteraan sosial yang mereka pelajari: melihat manusia bukan semata dari keterbatasannya, tetapi juga dari potensi, hak, dan kesempatan yang dimilikinya.
Karena itu, Closing Ceremony Praktikum Internasional Kelembagaan menjadi lebih dari sekadar penutup kegiatan.
Ia menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan belajar mahasiswa. Dari ruang kelas menuju lembaga pelayanan sosial. Dari teori menuju praktik. Dari pengalaman lokal menuju perspektif internasional. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments