Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ikhlas, Ketika Kita Berbuat Baik Tanpa Menunggu Dilihat

Iklan Landscape Smamda
Ikhlas, Ketika Kita Berbuat Baik Tanpa Menunggu Dilihat
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada orang yang bekerja keras setiap hari, tetapi namanya tidak pernah disebut. Ada yang membantu orang lain, tetapi setelah itu justru dilupakan. Ada pula yang berbuat baik berkali-kali, tetapi tidak pernah mendapat ucapan terima kasih. Di situlah ikhlas diuji.

Ikhlas adalah kata yang ringan di lisan, tetapi berat ketika harus dijalani. Sebab ikhlas bukan sekadar melakukan kebaikan. Ikhlas berarti melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin dilihat, dipuji, dihargai, atau diingat manusia.

Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas membuat seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Ia tetap salat dengan khusyuk ketika sendirian sebagaimana ketika berada di masjid. Ia tetap bersedekah meskipun tidak ada yang tahu. Ia tetap membantu meskipun namanya tidak disebut.

Sebab yang ia cari bukan penilaian manusia. Yang ia cari adalah rida Allah.

Cobalah perhatikan kehidupan kita. Di tempat kerja, ada orang yang datang lebih awal. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tetapi ketika atasan memberikan penghargaan, namanya tidak disebut.

Di lingkungan tempat tinggal, ada seseorang yang diam-diam membantu tetangganya yang sedang kesulitan. Tidak ada foto. Tidak ada unggahan media sosial. Tidak ada ucapan terima kasih.

Di rumah, seorang ibu mungkin berkali-kali melakukan pekerjaan yang sama. Menyiapkan makanan. Membersihkan rumah. Mengurus anak. Menemani keluarga. Banyak yang dikerjakan, tetapi sedikit yang dipuji.

Apakah kebaikan itu menjadi sia-sia? Tidak.

Jika dilakukan karena Allah, tidak ada satu pun yang sia-sia. Manusia mungkin lupa. Allah tidak. Manusia mungkin tidak melihat. Allah melihat. Manusia mungkin tidak menghargai. Allah mengetahui setiap niat dan setiap amal. Di sinilah salah satu tanda ikhlas terlihat.

1. Sama Saat Sepi dan Ramai

Orang yang ikhlas tidak terlalu berubah hanya karena ada atau tidak ada orang yang melihat. Salatnya tidak menjadi lebih baik hanya karena berada di hadapan banyak orang. Sedekahnya tidak menjadi lebih banyak hanya karena sedang disaksikan.

Kebaikannya tidak bergantung pada tepuk tangan. Ia berusaha menjaga kualitas amal ketika ramai maupun ketika sepi.

Justru, sering kali kesendirian menjadi tempat paling jujur untuk menguji keikhlasan. Ketika tidak ada kamera. Ketika tidak ada pujian. Ketika tidak ada yang mengucapkan, “Hebat.” Hanya ada dirinya dan Allah.

2. Tidak Kecewa Ketika Tidak Dihargai

Ini bukan berarti orang yang ikhlas tidak boleh merasa sedih. Manusia tetap manusia. Bisa kecewa. Bisa lelah. Bisa terluka. Tetapi ia tidak membiarkan kekecewaan membuatnya berhenti berbuat baik.

Bayangkan seseorang yang pernah menolong temannya keluar dari kesulitan. Bertahun-tahun kemudian, ketika temannya sukses, ia bahkan tidak lagi diingat.

Sakit? Tentu.

Tetapi orang yang belajar ikhlas akan berkata dalam hatinya: “Aku menolongnya dulu bukan agar namaku diingat. Aku menolong karena saat itu aku mampu dan Allah memberi kesempatan.” Kalimat sederhana itu bisa mengubah cara seseorang memandang hidup.

Begitu pula dalam dakwah. Kadang seseorang sudah menulis, berbicara, mengajar, atau mengajak kepada kebaikan. Tetapi yang membaca sedikit. Yang menyukai sedikit. Yang memberikan respons juga sedikit.

Apakah kebaikan menjadi tidak bernilai karena tidak mendapatkan banyak apresiasi? Tidak. Jumlah orang yang melihat bukan ukuran utama di hadapan Allah. Karena itu, jangan sampai kita hanya bersemangat ketika dipuji dan berhenti ketika tidak dihargai.

3. Bahagia Melihat Orang Lain Sukses

Ikhlas juga membuat hati lebih lapang ketika melihat orang lain mendapatkan keberhasilan. Teman mendapat promosi. Tetangga membeli rumah baru. Saudara usahanya berkembang. Teman seperjuangan mendapat kesempatan yang kita inginkan.

Hati manusia bisa saja berbisik, “Mengapa bukan saya?” Di situlah penyakit hati bisa mulai tumbuh.

Orang yang belajar ikhlas berusaha melawannya. Ia sadar bahwa rezeki tidak sedang diperebutkan oleh manusia. Allah yang membagikannya. Keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi jatah kita.

Kemuliaan orang lain tidak membuat kita menjadi hina.n Karunia Allah luas. Sangat luas. Karena itu, orang yang ikhlas dapat belajar mengucapkan selamat kepada orang lain dengan hati yang bersih. Ia bahagia melihat saudaranya bahagia.

Tiga Musuh Ikhlas

Ikhlas tidak datang begitu saja. Ia harus dijaga karena ada banyak hal yang bisa merusaknya.

1. Riya

Riya adalah melakukan amal agar dilihat manusia. Kita berbuat baik bukan lagi karena Allah, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan.

2. Sum’ah

Sum’ah adalah melakukan amal agar didengar dan dipuji manusia. Misalnya, seseorang sengaja menceritakan amalnya agar orang lain mengetahui bahwa ia telah melakukan kebaikan.

3. Ujub

Ujub adalah merasa kagum dan bangga terhadap amal diri sendiri. Ia tidak hanya berbuat baik, tetapi kemudian merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Padahal amal yang banyak sekalipun tidak semestinya membuat seseorang merasa tinggi.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Karena itu, persoalan ikhlas sering kali bukan terletak pada apa yang kita lakukan, tetapi untuk siapa kita melakukannya.

Ikhlas perlu dilatih. Bahkan mungkin setiap hari.

SMPM 5 Pucang SBY

1. Sembunyikan Sebagian Amal

Tidak semua kebaikan harus diketahui orang. Miliki sedekah yang hanya kita dan Allah yang tahu. Miliki zikir yang tidak diketahui orang lain. Miliki doa panjang yang hanya terdengar di kamar. Miliki air mata dalam tahajud yang tidak pernah masuk kamera.

Ada amal yang memang lebih indah ketika tidak diketahui siapa pun.

2. Koreksi Niat Sebelum Beramal

Sebelum melakukan sesuatu, berhentilah sebentar. Tanyakan kepada diri sendiri:

“Ini untuk siapa?”

Untuk Allah? Atau untuk pujian manusia?

Pertanyaan sederhana itu penting. Sebab terkadang kita memulai sebuah amal dengan niat yang baik, tetapi di tengah jalan hati mulai menikmati perhatian manusia. Maka niat perlu diperiksa kembali.

3. Berdoa Meminta Keikhlasan

Kita tidak boleh terlalu percaya diri bahwa hati kita sudah ikhlas. Justru kita perlu meminta kepada Allah agar diberi keikhlasan.

Salah satu doa yang dapat diamalkan: Allahumma inni as-aluka ikhlashan fil qauli wal ‘amal. (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan).

Sebab hati manusia mudah berubah. Hari ini mungkin ikhlas. Besok bisa saja mencari pujian. Hari ini mungkin berbuat karena Allah.

Besok bisa saja berharap penghargaan. Karena itu, ikhlas bukan sekadar sesuatu yang dimiliki. Ia harus terus dijaga.

Ketika Validasi Manusia Tidak Lagi Penting

Ada kelegaan yang muncul ketika seseorang tidak lagi terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Tidak semua orang harus menyukai kita. Tidak semua kebaikan harus diketahui. Tidak semua perjuangan harus mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua amal harus dipublikasikan.

Sebab semakin seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada penilaian manusia, semakin mudah ia lelah.

Hari ini dipuji, ia bahagia. Besok dikritik, ia gelisah. Hari ini mendapat banyak apresiasi, ia bersemangat.n Besok tidak ada yang memperhatikan, ia kehilangan tenaga.

Ikhlas membebaskan seseorang dari siklus itu. Ia cukup bertanya:

“Apakah Allah rida?”

Bukan: “Apa kata orang?”

Amal Kecil yang Tidak Kecil

Jangan meremehkan kebaikan kecil. Mungkin kita hanya memberi makan seekor kucing. Mungkin kita hanya menyingkirkan sesuatu dari jalan. Mungkin kita hanya tersenyum kepada seseorang yang sedang bersedih. Mungkin kita hanya membantu membawa barang. Mungkin kita hanya mendoakan seseorang secara diam-diam.

Jika dilakukan dengan ikhlas, amal yang terlihat kecil di mata manusia bisa memiliki nilai besar di sisi Allah.

Ikhlas juga membuat hati lebih tenang. Sebab kita tidak lagi sibuk menghitung siapa yang berterima kasih. Kita tidak lagi menunggu siapa yang memuji. Kita tidak lagi gelisah ketika nama kita tidak disebut.

Kita menyerahkan balasan kepada Allah. Dan itulah salah satu bentuk kemerdekaan hati.

Allah berfirman: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”
(QS Shad: 83)

Pada akhirnya, kehidupan ini akan selesai. Pujian akan berhenti. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan berpindah tangan. Popularitas akan berlalu.

Bahkan orang-orang yang hari ini ramai mengelilingi kita, suatu saat akan melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.

Yang kita bawa bukan tepuk tangan manusia. Bukan jumlah orang yang mengenal kita. Bukan banyaknya pujian yang pernah kita terima. Tetapi amal yang kita lakukan dengan hati yang benar.

Karena itu, ketika hendak berbuat baik, tidak perlu terlalu sibuk bertanya:

“Bagaimana kata orang?”

Cukup tanyakan: “Bagaimana kata Allah?”

Allah berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al-An’am: 162)

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya, sum’ah, dan ujub. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/09/2026 09:07
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu