Manusia dalam hidupnya kerap menghadapi hal-hal positif dan negatif. Merasa puas adalah hal yang positif.
Sebaliknya, mereka juga mengalami ketidakpuasan. Refleksi dari ketidakpuasan adalah menggerutu.
Menggerutu dalam KBBI adalah mengomel atau mencomel. Berasal dari kata gerutu yang berarti perkataan yang diucapkan dengan cara bergumam terus-menerus karena rasa mendongkol, gondok atau tidak puas dengan keadaan atau suatu peristiwa yang dialaminya.
Rasa tidak puas ditunjukkan oleh manusia ada yang berbentuk kekecewaan dalam hatinya. Tapi kecewa yang ditunjukkan dengan lisan, kata-kata, dan ucapan adalah menggerutu, mengomel, men comel dan bergumam terus-menerus.
Menggerutu itu ada beberapa macam latar belakangnya. Hal ini disebutkan dalam contoh-contoh di bawah ini.
Ragam Sebab Menggerutu
Seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf alaihi sallam. Mereka menggerutu pada ayahnya, Yakub alaihi sallam, karena beliau lebih menyayangi kepada adik-adiknya Yusuf dan Bunyamin.
“Ingatlah) ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita adalah sebuah kelompok (yang kuat). Sesungguh nya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf:8).
Mereka menggerutu karena rasa iri terhadap Yusuf alaihi sallam dan adiknya Bunyamin. Sebab keduanya lebih disayangi oleh ayahnya dari pada mereka.
Padahal saat mereka sendiri sudah dewasa. Yusuf alaihi sallam dan adiknya masih kecil- kecil. Wajar jika keduanya lebih disayangi.
Hal itu bukan berarti ayahnya tidak sayang dan benci pada mereka. Hanya mereka saja salah memahami.
Terbukti ayahnya masih memperhatikan dan mempercayai mereka saat mengijinkan adiknya, Bunyamin, dibawa mereka ke istana Yusuf alaihi sallam. Hanya mereka harus bersumpah lebih dahulu. (QS. Yusuf:66).
Bani Israil juga biasa menggerutu pada Nabi Musa alaihi sallam soal makanan. Mereka saat itu ingin mendapatkan makanan yang yang lebih banyak jenisnya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini.
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur- mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merahnya.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai peng ganti dari sesuatu yang baik? “. (QS. Al Baqarah :61).
Demikian pula Bani Israil menggerutu saat Nabi Samuel alaihi sallam memberitahu tentang Thalut yang akan menjadi raja mereka dalam. Ia yang mendapat amanah menghadapi Jalut, raja yang zalim. (QS. Al Baqarah:248)
Bani Israil menggerutu karena mereka merasa lebih berhak atas kepemimpinan itu. Selain itu mereka memandang bahwa Thalut yang diangkat sebagai raja bukan keturunan raja dan kaya raya.
Padahal Thalut memiliki kelebihan yang tidak me reka punya, yakni ilmu dan fisik. Disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang cukup banyak? ‘
(Nabi Samuel alaihi sallam lalu) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.(QS. Al Baqarah:247).
Selain Bani Israel, orang-orang munafik juga pernah menggerutu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam soal pembagian sedekah atau zakat dan ghanimah yang mereka tidak dapat. Seperti disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla.
“Di antara mereka ada yang mencela engkau (Nabi Muhammad) dalam hal (pembagian) sedekah-sedekah (zakat atau rampasan perang). Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, dengan serta merta mereka marah”. (QS. At Taubah:58).
Mereka mencela masalah pembagian harta itu dan marah jika tidak mendapatkan bagian. Namun mereka menggerutu di belakang Rasul, tidak berani bicara di hadapannya.
Padahal Rasul bersikap adil dalam soal pembagian sedekah, zakat dan ghanimah sesuai tuntunan Allah Azza Wa Jalla. (QS. At Taubah:60, Al Anfal:41).
Obat Bermutu
Obat yang mujarab dan bermutu agar seseorang tidak suka menggerutu di dalam hidupnya adalah, pertama, Ridha, terhadap apa yang terjadi, dialami dan musibah yang datang menimpanya. Sesuai hadits di bawah ini.
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang rida maka baginya keridhaan Allah, dan barangsiapa yang murka (menggerutu) maka baginya kemurkaan Allah”. (HR. Tirmidzi).
Kedua, ikhlas menerimanya dengan hati yang lapang dan tenang. Orang yang ikhlas tidak akan menggerutu menghadapi kenyataan apapun. Termasuk dalam menghadapi keadaan yang buruk dan bahaya yang muncul di hadapannya. (QS. Yunus:22).
Ketiga, sabar dalam menerima musibah dan kesulitan hidup sehingga tidak menggerutu, baik di hati maupun ucapan, kecuali doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Seperti yang dilakukan, dialami dan dirasakan Nabi Ayub yang menderita penyakit parah hingga 18 tahun. (QS. Al Ambiya :83-84).
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barang siapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupi nya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469).
Keempat, tawakal dalam menerima kenyataan hidup sehingga tidak akan menggerutu. Saat diri menghadapi kesulitan datang menimpanya, maka dengan hati tawakal, kemudahannya pun hadir sehingga dapat menghilangkan kesulitan. (QS. Al Insyirah:5-8, St Talaq:3).
Kelima, taqwa dalam setiap perbuatan dan dalam menghadapi cobaan dan tantangan hidup tanpa menggerutu baik pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, orang lain dan diri sendiri.
Sebab orang yang bertaqwa akan diberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS. At Talaq:2).
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapus kan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”(HR.Tirmidzi no1987dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Keenam, taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap keadaan. Orang yang taat tersebut tentu tidak akan menggerutu kepada siapapun karena segala sesuatu berpegang kepada ajaran keduanya. (QS. Al Maarij:19-23).
Ketujuh, doa yang khusus kepada Allah Azza Wa Jalla dapat menghilangkan perasaan negatif dan menggerutu.
Jika menghadapi suatu apapun atau musibah yang menimpa diri dan keluarga, ingat dan berdoalah kepada Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, (maka) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan: ‘Alhamdulillahil ladzi bi nimatihi tatimmush sholihat (Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.’).
Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, ‘Alhamdulillah ala kulli hal. (Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’).” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan).





0 Tanggapan
Empty Comments